-
Kadal_Yang_Berbicara, page : 16
Si Badui telah mengembara melintasi panasnya padang pasir dan saat mendekati sekelompok orang itu,
dia pun menyapa mereka. Tiba-
tiba, pandangannya tertuju pada seorang lelaki diantara mereka yang belum pernah dia melihat lelaki
seperti itu sebelumnya. Wajah lelaki
itu sangat bagus dan bersinar bagaikan bulan purnama. Wajah mempesona yang sungguh memikat hatinya.
Itulah wajah Nabi Muhammad,
pujian dan kedamaian kepadanya, sedang bersama sahabat-sahabatnya, yang dilihat oleh si Badui.
Si Badui sangat penasaran dengan lelaki itu maka dia bertanya pada sahabat-sahabat yang ada
disekelilingnya, "Siapakah lelaki itu?".
Mereka memberitahu bahwa dialah Utusan Allah. Tetapi si Badui tidak mempercayainya bahkan bersumpah
dengan berhala tuhan orang-
orang jahiliyyah latta dan uzza dan mengatakan, "aku bersumpah dengan latta dan uzza bahwa aku
tidak mempercayaimu, begitu juga
kadal ini." Kemudian si Badui menuju pada Nabi dan melemparkan kadal yang malang itu didepannya.
Tapi kadal itu malah berhenti dan
tidak berusaha melarikan diri karena hormat pada Nabi.
Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, tidak marah dengan kelakuan kasar si Badui, malahan memandang
dia pun menyapa mereka. Tiba-
tiba, pandangannya tertuju pada seorang lelaki diantara mereka yang belum pernah dia melihat lelaki
seperti itu sebelumnya. Wajah lelaki
itu sangat bagus dan bersinar bagaikan bulan purnama. Wajah mempesona yang sungguh memikat hatinya.
Itulah wajah Nabi Muhammad,
pujian dan kedamaian kepadanya, sedang bersama sahabat-sahabatnya, yang dilihat oleh si Badui.
Si Badui sangat penasaran dengan lelaki itu maka dia bertanya pada sahabat-sahabat yang ada
disekelilingnya, "Siapakah lelaki itu?".
Mereka memberitahu bahwa dialah Utusan Allah. Tetapi si Badui tidak mempercayainya bahkan bersumpah
dengan berhala tuhan orang-
orang jahiliyyah latta dan uzza dan mengatakan, "aku bersumpah dengan latta dan uzza bahwa aku
tidak mempercayaimu, begitu juga
kadal ini." Kemudian si Badui menuju pada Nabi dan melemparkan kadal yang malang itu didepannya.
Tapi kadal itu malah berhenti dan
tidak berusaha melarikan diri karena hormat pada Nabi.
Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, tidak marah dengan kelakuan kasar si Badui, malahan memandang