Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 19

Ibnu Atho' berkata, "Surah Al-Fath berisi keanekaragaman keberkatan untuk baginda."
Contohnya, "pembukaan yang nyata" merupakan suatu tanda jawaban, "Mengampuni" adalah indikasi kecintaan, berarti bebas dari segala cacat dan cela; "Menyempurnakan nikmat" menjadi pertanda terpilihnya baginda dan keberkatan telah mencapai tingkat kesempurnaan; "Membimbingmu" yaitu sebuah indikasi persahabatan Allah dengan baginda, dan ajakan persaksian.
Ja'far bin Muhammad menjelaskan, termasuk keberkatan sempurna untuk Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah bahwa Allah menjadikan baginda sebagai kekasih-Nya. Allah juga bersumpah demi hidup baginda, penggantian hukum lainnya dengan yang dibawa baginda, dan mengangkat baginda pada derajat tertinggi.
Dan lagi, Allah telah melindungi baginda dalam Perjalanan Malam yang Menakjubkan (Isro' Mi'roj), sehingga pandangan baginda tidak menyimpang. Allah mengutus baginda untuk seluruh umat manusia, serta mengizinkan rampasan perang untuk umat baginda (yang mana sebelumnya dilarang untuk orang-orang Ahli kitab - Yahudi dan Nasrani).
Allah meninggikan baginda pada derajat dimana syafaatnya diterima, dan menjadikan baginda sebagai junjungan anak turun Nabi Adam, kedamaian kepadanya. Allah menempatkan nama Nabi Muhammad bersebelahan dengan Nama-Nya sendiri, dan keridhaan Allah terletak keridhaan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Allah menjadikan baginda sebagai salah satu dari dua rukun tauhid (Pengesaan Allah).
Ayat berikutnya, "bahwa orang-orang yang bersumpah setia kepadamu sesungguhnya mereka bersumpah setia kepada Allah." Ini merujuk pada mereka yang mengikrarkan kesetiaannya kepada baginda. Peristiwa ini dikenal dengan "Baiat Ar-Ridwan - keridhaan Allah. Ketika para Sahabat bersumpah setia kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, maka mereka bersumpah setia kepada Allah - kesetiaan adalah untuk Allah. .

(Sisipan Syeikh Darwish: Ada 1400 Sahabat yang mengikrarkan kesetiaan mereka dibawah pohon di Hudaibiyah. Nabi Muhammad, pujian kedamaian kepadanya, bersabda bahwa mereka semua telah diampuni dan tidak akan masuk neraka)
Janji itu diikuti dengan pernyataan, "Tangan Allah di atas tangan mereka". Kata "Tangan" adalah metafora dan melambangkan kekuasaan Allah, pahala dan kenikmatan dari-Nya, serta ikatan-Nya. Kata-kata tersebut memperkuat ikatan baiat (sumpah setia) mereka kepada baginda sekaligus menunjukkan keagungan orang yang mereka berbaiat dan memberikan kesetiaan kepadanya.
Dalam surah Al-Anfal "Harta rampasan perang" ayat 17 ada kemiripan kata-kata, "Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, akan tetapi Allah yang melempar." Terdapat majas metafora pada ayat tersebut, dimana terdapat kebenaran yang sesungguhnya, karena yang membunuh maupun yang melempar sebenarnya adalah Allah.
Allah adalah pencipta segala tindakan, dengan demikian Dia yang telah melempar, karena telah memberikan kekuasaan dan keputusan untuk melempar.
Tak seorangpun memiliki kekuasaan untuk melempar sedemikian rupa, sampai-sampai mata para musuh semuanya dipenuhi debu. Sehingga secara hakikat, yang membunuh mereka adalah para malaikat.
Ada yang menjelaskan makna ayat adalah kaum muslimin (orang-orang Islam) tidak membunuh mereka maupun melemparkan batu-batu atau pasir ke wajah mereka, namun Allah yang telah melemparkan ketakutan di hati mereka.
Ini berarti, keuntungan tindakan datang secara langsung dari tindakan Allah, dan pada hakikatnya Allah yang membunuh dan melempar, sedang para Sahabat sebagai pelaku dalam nama.
Allah memperlihatkan kemuliaan Nabi Muhammad didalam Al-Qur'an
serta memperjelas kedudukan dan kehormatan baginda disisi Allah.

Termasuk bagian dari kemuliaan yang Allah curahkan kepada Nabi Muhammad, pujian