Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 23

Ada beberapa penjelasan untuk ayat ini. "Tujuh yang rangkap (yang diulang-ulang)" merujuk pada tujuh surah permulaan yang terpanjang, sedang "Al-Qur'an yang agung" tertuju pada surah pertama yaitu Al-Fatihah "Pembuka".
Ada yang berkata, "tujuh yang rangkap" yaitu induk Al-Qur'an atau surah Al-Fatihah. Sedang "Al-Qur'an yang agung" yaitu semua surah dalam Al-Qur'an setelah surah Al-Fatihah. Dikatakan juga, "tujuh yang rangkap" merujuk pada perintah, larangan, kabar gembira dan peringatan, yang terdapat dalam Al-Qur'an.
"Induk Al-Quran", dikatakan sebagai "tujuh yang rangkap", karena dibaca minimal dua kali dalam setiap shalat.
Dikatakan bahwa Allah menganugerahkan Al-Fatihah hanya kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan tidak memberikannya kepada nabi-nabi mulia yang lain, dan Allah menyebut Al-Qur'an "tujuh yang rangkap", sebab pengulangan kisah-kisahnya.
Dikatakan pula, "tujuh rangkap", berarti bahwa Allah memuliakan baginda dengan tujuh kemuliaan: petunjuk, kenabian, rahmat, syafaat, persahabatan, keagungan, dan ketenangan.
Allah berfirman kepada baginda, "Dan Kami turunkan kepadamu Ingatan (Al-Qur'an) agar menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan." (An-Nahl,16:44).
"Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." (Saba',34:28).
"Katakanlah, 'wahai manusia, sungguh aku Utusan Allah kepadamu semuanya.'" (Al-A'raf,7:158).
Diantara keutamaan baginda, tampak dalam firman Allah berikut ini,
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan dalam lisan kaumnya, untuk menjelaskan kepada mereka." (Ibrahim,14:4). Ayat ini menerangkan bahwa tiap rasul diutus pada suatu umat yang khusus dan suku bangsa tertentu, sedang Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Baginda bersabda, "Aku diutus untuk semua ras, yang terang dan gelap."
(Sisipan Syeikh Darwish: Dimasa berikutnya, Risalah yang dibawa baginda, tersebar hingga melintasi perbatasan, diberbagai negeri dan bangsa lainnya yang berlainan bahasa mereka. Mereka mengecek kebenaran ajaran Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan banyak yang beralih masuk agama Islam. Kemudian mereka mempelajari bahasa Arab. Inilah realisasi dari sabda Nabi, "Aku dikirim untuk semua ras yang terang dan gelap)
"Nabi lebih utama bagi orang-orang beriman dari diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka." (Al-Ahzab,33:6).
Ahli tafsir menjelaskan kata-kata "lebih utama bagi orang-orang beriman dari diri mereka sendiri", yaitu adanya kewajiban atas semua orang beriman untuk mematuhi perintah baginda, seperti halnya seorang pelayan yang harus mematuhi perintah tuannya.
Mentaati perintah Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, ialah jauh lebih baik daripada mengikuti penilaian diri sendiri yang merupakan obyek sasaran hawa nafsu dan kelemahan serta kesalahan.
"Istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka". Orang-orang beriman harus menghormati istri-istri baginda sebagaimana mereka menghormati ibu-ibu mereka sendiri, untuk alasan inilah, istri-istri baginda tidak diizinkan menikah dengan siapapun setelah wafatnya baginda - sebagai bentuk penghormatan kepada baginda. Ini termasuk pertanda kemuliaan baginda disisi Allah. Kelak, mereka akan kembali menjadi istri-istri baginda di Kehidupan Abadi (akhirat).
Allah berfirman, "Dan Allah telah menurunkan kepadamu Kitab dan Hikmah, dan mengajarkanmu apa yang tidak kamu ketahui. Dan adanya anugerah Allah atasmu sangat besar." (An-Nisa,4:113). Anugerah Allah yang sangat besar merujuk pada kenabian baginda, atau apa yang telah diberikan kepada baginda di masa pra-keabadian (di dunia).


SAHIH SHIFA