-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 37
(Sisipan Syeikh Darwish: Anda mungkin penasaran mengapa Nabi Muhammad berharap memiliki umat yang lebih banyak jumlahnya. Yaitu agar lebih banyak orang yang menyembah dan memuji Allah sendirian. Baginda yang memegang peranan penting dalam membimbing umat, kelak akan memiliki lebih banyak orang yang menyembah dan memuji Allah sendirian. Di Malam Isro' Mi'roj, nabi Musa menangis karena umatnya yang menyembah dan memuji Allah sendirian lebih sedikit jumlahnya daripada umat Nabi Muhammad)
Baginda melarang membujang karena pernikahan melindungi nafsu dari kesesatan. Baginda bersabda, "Barangsiapa yang telah mampu, maka menikahlah, sungguh hal itu menundukkan pandangan dan membentengi kemaluan."
Karena alasan inilah, para ulama Islam mengatakan, bahwa pernikahan bukanlah hal yang akan mengurangi keutamaan menjauhi dunia atau zuhud.
Bagi para Sahabat, memiliki banyak istri termasuk menjauhi dunia (berzuhud). Sehingga mereka umumnya mempunyai banyak istri dan budak. Mereka tidak suka jika bertemu Allah dalam keadaan membujang (belum pernah menikah).
Ada yang mengajukan pertanyaan, "Bagaimana pernikahan bisa bernilai utama, sedangkan Allah telah memuji nabi Yahya, putra nabi Zakaria, yang tidak pernah menikah? Mengapa nabi Yahya dipuji sedangkan beliau tidak melakukan sesuatu yang dianggap sebagai keutamaan. Selain itu, nabi Isa putra Maryam juga membujang.
Allah memuji nabi Yahya yang membujang, tidak berarti beliau seorang yang lemah dan tidak jantan. Pernyataan bernada menghina tersebut telah ditolak oleh para ulama', dengan alasan bahwa dalam pernyataan itu tersirat adanya kekurangan dan aib, sedangkan hal itu adalah mustahil bagi para nabi Allah. Ini berarti nabi Yahya (dalam keadaan membujangnya) terlindung dari segala perbuatan dosa, seakan-akan beliau tidak dapat melakukan perbuatan dosa, berarti juga beliau terlepas dari semua keinginan jasmani dan syahwat terhadap wanita.
Pernikahan adalah perkara yang terpuji, dan suatu ketidaksempurnaan jika mampu menikah namun tidak melakukannya. Ketidakmampuan menikah bisa jadi akan mengurangi keutamaan berjuang melawan hawa nafsu (bermujahadah). Nabi Isa adalah orang yang sempurna dalam berjuang melawan hawa nafsunya. Dalam kasus Nabi Yahya, beliau telah diberi kecukupan oleh Allah.
Terlalu sering menikah dapat mengalihkan perhatian seseorang dari mengingat Allah dan melekatkan diri pada dunia.
Orang-orang yang menikah dan memenuhi kewajiban pernikahan tanpa melalaikan mereka dari mengingat Allah, mereka pun mencapai derajat yang tinggi. Derajat tinggi ini ditemukan dalam diri Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang mempunyai banyak istri, tetapi tidak pernah terganggu ibadahnya kepada Allah. Sebaliknya, ibadah baginda malah semakin meningkat, karena baginda melindungi istri-istrinya, menunaikan hak-hak mereka, menafkahi mereka, serta membimbing mereka dalam beribadah kepada Allah. Baginda telah bersabda bahwa hal-hal tersebut, tidak termasuk kehidupan duniawi baginya, namun bagi manusia lainnya, hal tersebut adalah bagian dari kehidupan duniawi.
Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Dicintakan kepadaku di duniamu ini wanita dan wangi-wangian, dan dijadikan kesejukan mataku didalam shalat." Ini pertanda mencintai perempuan dan parfum adalah termasuk urusan duniawi bagi manusia lain, namun bagi baginda adalah termasuk urusan akhirat, karena baginda berhasrat memakai wangi-wangian ketika bertemu para malaikat.
Kecintaan besar yang sebenarnya bagi baginda yaitu ketika menyaksikan alam malaikat. Juga percakapan akrab baginda dengan Penguasanya. Itulah sebabnya, baginda membuat perbedaan antara dua kecintaan. Baginda telah memisahkan dua keadaan dalam sabda baginda diatas.
Nabi Yahya dan nabi Isa berada pada
Baginda melarang membujang karena pernikahan melindungi nafsu dari kesesatan. Baginda bersabda, "Barangsiapa yang telah mampu, maka menikahlah, sungguh hal itu menundukkan pandangan dan membentengi kemaluan."
Karena alasan inilah, para ulama Islam mengatakan, bahwa pernikahan bukanlah hal yang akan mengurangi keutamaan menjauhi dunia atau zuhud.
Bagi para Sahabat, memiliki banyak istri termasuk menjauhi dunia (berzuhud). Sehingga mereka umumnya mempunyai banyak istri dan budak. Mereka tidak suka jika bertemu Allah dalam keadaan membujang (belum pernah menikah).
Ada yang mengajukan pertanyaan, "Bagaimana pernikahan bisa bernilai utama, sedangkan Allah telah memuji nabi Yahya, putra nabi Zakaria, yang tidak pernah menikah? Mengapa nabi Yahya dipuji sedangkan beliau tidak melakukan sesuatu yang dianggap sebagai keutamaan. Selain itu, nabi Isa putra Maryam juga membujang.
Allah memuji nabi Yahya yang membujang, tidak berarti beliau seorang yang lemah dan tidak jantan. Pernyataan bernada menghina tersebut telah ditolak oleh para ulama', dengan alasan bahwa dalam pernyataan itu tersirat adanya kekurangan dan aib, sedangkan hal itu adalah mustahil bagi para nabi Allah. Ini berarti nabi Yahya (dalam keadaan membujangnya) terlindung dari segala perbuatan dosa, seakan-akan beliau tidak dapat melakukan perbuatan dosa, berarti juga beliau terlepas dari semua keinginan jasmani dan syahwat terhadap wanita.
Pernikahan adalah perkara yang terpuji, dan suatu ketidaksempurnaan jika mampu menikah namun tidak melakukannya. Ketidakmampuan menikah bisa jadi akan mengurangi keutamaan berjuang melawan hawa nafsu (bermujahadah). Nabi Isa adalah orang yang sempurna dalam berjuang melawan hawa nafsunya. Dalam kasus Nabi Yahya, beliau telah diberi kecukupan oleh Allah.
Terlalu sering menikah dapat mengalihkan perhatian seseorang dari mengingat Allah dan melekatkan diri pada dunia.
Orang-orang yang menikah dan memenuhi kewajiban pernikahan tanpa melalaikan mereka dari mengingat Allah, mereka pun mencapai derajat yang tinggi. Derajat tinggi ini ditemukan dalam diri Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang mempunyai banyak istri, tetapi tidak pernah terganggu ibadahnya kepada Allah. Sebaliknya, ibadah baginda malah semakin meningkat, karena baginda melindungi istri-istrinya, menunaikan hak-hak mereka, menafkahi mereka, serta membimbing mereka dalam beribadah kepada Allah. Baginda telah bersabda bahwa hal-hal tersebut, tidak termasuk kehidupan duniawi baginya, namun bagi manusia lainnya, hal tersebut adalah bagian dari kehidupan duniawi.
Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Dicintakan kepadaku di duniamu ini wanita dan wangi-wangian, dan dijadikan kesejukan mataku didalam shalat." Ini pertanda mencintai perempuan dan parfum adalah termasuk urusan duniawi bagi manusia lain, namun bagi baginda adalah termasuk urusan akhirat, karena baginda berhasrat memakai wangi-wangian ketika bertemu para malaikat.
Kecintaan besar yang sebenarnya bagi baginda yaitu ketika menyaksikan alam malaikat. Juga percakapan akrab baginda dengan Penguasanya. Itulah sebabnya, baginda membuat perbedaan antara dua kecintaan. Baginda telah memisahkan dua keadaan dalam sabda baginda diatas.
Nabi Yahya dan nabi Isa berada pada