-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 52
(Sisipan Syeikh Darwish: Ada banyak sekali kejadian ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertemu situasi yang berbahaya, bagaimanapun, baginda tidak pernah mundur, namun tetap teguh dalam berbagai keadaan, bahkan ketika para Sahabatnya yang paling pemberani dan ksatria sekalipun telah mundur. Sekali memutuskan maju, baginda tidak pernah terlihat mundur maupun goyah. Dalam sejarah umat manusia, tak pernah ada orang yang begitu pemberani seperti baginda)
Ibnu Umar berkata, “Aku belum pernah melihat ada yang lebih berani, dan lebih bergegas untuk melindungi, lebih pemurah, lebih mudah meridhai dan lebih baik daripada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya.”
Ali berkata, “Kami ada disana, ketika ketakutan memuncak, dan keadaan sekeliling semakin mengganas, kami mengkhawatirkan Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, namun tidak ada seorangpun yang lebih dekat pada musuh daripada baginda. Kami telah melihat baginda pada waktu perang badar, saat kami berada dibelakang baginda. Baginda yang paling dekat dengan musuh, dan baginda lah yang paling pemberani pada saat itu.”
Anas berkata, “Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah manusia yang paling bagus, paling dermawan dan paling pemberani.
Suatu malam, penghuni kota Madinah dicekam ketakutan. Sebagian penduduk lalu pergi mencari penyebab gangguan. Tetapi Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sudah pergi dalam pencarian sebelum mereka diatas kuda Abu Tolchah yang tak berpelana untuk menemukan penyebab gangguan, dengan pedang yang melingkar di leher, kemudian baginda bertemu mereka dalam perjalanan kembali dan berkata, “Kalian tidak akan ketakutan.”
Ubay bin Kholaf menjadi tawanan pada Perang Badar, dan kemudian ditebus, tetapi bukannya bersyukur malah berhasrat membalas dendam. Dengan penuh kebencian ia mengancam Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, “Aku punya kuda yang tiap hari kuberi makan jagung yang cukup. Aku akan membunuhmu ketika menungganginya!” Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, “Jika Allah menghendaki, aku akan membunuhmu.”
Pada perang Uhud, kesempatan muncul dengan sendirinya. Ubay berteriak, “Di mana Muhammad? Semoga aku tidak selamat jika dia selamat!” Ketika Ubay melihat Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, ia cepat-cepat memacu kudanya ias g baginda. Beberapa kaum Muslimin berusaha menghentikannya supaya tidak ias mendekati baginda, namun baginda berkata, “Biarkan dia”. Baginda mengambil tombak Harits, lalu menggoncang-goncangkan tombak tersebut dengan goncangan yang membuat para Sahabat disekitarnya berhamburan menjauh, seperti berhamburnya lalat dari punggung unta ketika berguncang. Baginda menghadapi Ubay dengan hanya sedikit menggores leher Ubay dengan ujung tombak tersebut. Ubay lalu kehilangan keseimbangan serta terpelanting dari kudanya. Baginda tidak mengambil tindakan lebih jauh. Ubay kembali menaiki kudanya menuju ke perkemahan sambil berteriak, “Muhammad telah membunuhku!” Mereka yang ada disekitarnya berkomentar, “Kamu terlihat baik-baik saja!” Ubay menjawab, “Seandainya semua manusia bersamaku, dia pun mampu membunuh mereka semua!” “Bukankah dia telah berkata, ‘Aku akan membunuhmu’” “Demi Allah, seandainya dia meludah ke arahku, air liurnya pun akan membunuhku.” Tak lama setelah Ubay kembali ke Mekah, ia meninggal dunia di suatu tempat bernama Sarif.
Sifat malu Nabi Muhammad serta penundukan pandangan
Baginda mempunyai sifat pemalu yang tiada tandingannya, ini merupakan salah satu akhlak sangat terpuji yang terdapat dalam diri baginda. Perasaan malu adalah hal yang menyebabkan seseorang menundukkan wajah dari suatu kejadian disaat sesuatu yang tidak disukai terjadi, atau membiarkan sesuatu terjadi ketika lebih baik untuk
Ibnu Umar berkata, “Aku belum pernah melihat ada yang lebih berani, dan lebih bergegas untuk melindungi, lebih pemurah, lebih mudah meridhai dan lebih baik daripada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya.”
Ali berkata, “Kami ada disana, ketika ketakutan memuncak, dan keadaan sekeliling semakin mengganas, kami mengkhawatirkan Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, namun tidak ada seorangpun yang lebih dekat pada musuh daripada baginda. Kami telah melihat baginda pada waktu perang badar, saat kami berada dibelakang baginda. Baginda yang paling dekat dengan musuh, dan baginda lah yang paling pemberani pada saat itu.”
Anas berkata, “Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah manusia yang paling bagus, paling dermawan dan paling pemberani.
Suatu malam, penghuni kota Madinah dicekam ketakutan. Sebagian penduduk lalu pergi mencari penyebab gangguan. Tetapi Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sudah pergi dalam pencarian sebelum mereka diatas kuda Abu Tolchah yang tak berpelana untuk menemukan penyebab gangguan, dengan pedang yang melingkar di leher, kemudian baginda bertemu mereka dalam perjalanan kembali dan berkata, “Kalian tidak akan ketakutan.”
Ubay bin Kholaf menjadi tawanan pada Perang Badar, dan kemudian ditebus, tetapi bukannya bersyukur malah berhasrat membalas dendam. Dengan penuh kebencian ia mengancam Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, “Aku punya kuda yang tiap hari kuberi makan jagung yang cukup. Aku akan membunuhmu ketika menungganginya!” Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, “Jika Allah menghendaki, aku akan membunuhmu.”
Pada perang Uhud, kesempatan muncul dengan sendirinya. Ubay berteriak, “Di mana Muhammad? Semoga aku tidak selamat jika dia selamat!” Ketika Ubay melihat Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, ia cepat-cepat memacu kudanya ias g baginda. Beberapa kaum Muslimin berusaha menghentikannya supaya tidak ias mendekati baginda, namun baginda berkata, “Biarkan dia”. Baginda mengambil tombak Harits, lalu menggoncang-goncangkan tombak tersebut dengan goncangan yang membuat para Sahabat disekitarnya berhamburan menjauh, seperti berhamburnya lalat dari punggung unta ketika berguncang. Baginda menghadapi Ubay dengan hanya sedikit menggores leher Ubay dengan ujung tombak tersebut. Ubay lalu kehilangan keseimbangan serta terpelanting dari kudanya. Baginda tidak mengambil tindakan lebih jauh. Ubay kembali menaiki kudanya menuju ke perkemahan sambil berteriak, “Muhammad telah membunuhku!” Mereka yang ada disekitarnya berkomentar, “Kamu terlihat baik-baik saja!” Ubay menjawab, “Seandainya semua manusia bersamaku, dia pun mampu membunuh mereka semua!” “Bukankah dia telah berkata, ‘Aku akan membunuhmu’” “Demi Allah, seandainya dia meludah ke arahku, air liurnya pun akan membunuhku.” Tak lama setelah Ubay kembali ke Mekah, ia meninggal dunia di suatu tempat bernama Sarif.
Sifat malu Nabi Muhammad serta penundukan pandangan
Baginda mempunyai sifat pemalu yang tiada tandingannya, ini merupakan salah satu akhlak sangat terpuji yang terdapat dalam diri baginda. Perasaan malu adalah hal yang menyebabkan seseorang menundukkan wajah dari suatu kejadian disaat sesuatu yang tidak disukai terjadi, atau membiarkan sesuatu terjadi ketika lebih baik untuk