-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 56
Rahmat dan kasih ias g Nabi Muhammad
Pujian dan kesejahteraan atasnya
Allah berfirman, “Sungguh telah ias g kepadamu seorang Rasul (Utusan Allah) dari dirimu sendiri, menyedihkan atasnya apa yang kamu derita, sangat mencemaskan (keselamatan) atasmu, lemah lembut lagi penyayang pada orang-orang beriman.” (At-Taubah,9:128)
“Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya’,21:107).
(Sisipan Syeikh Darwish: Allah telah membuat watak lemah lembut, kepedulian dan belas kasih Nabi Muhammad, meliputi setiap ias g ciptaan-Nya. Termasuk juga bagian dari keunggulan Nabi adalah bahwa Allah menghiasi baginda dengan dua dari Nama-nama Nya ketika Dia berfirman, “Paling belas kasih lagi penyayang.” (At-Taubah,9:128).)
Sofwan berkata, “Demi Allah, baginda telah memberiku apa yang baginda berikan kepadaku. Bagiku baginda adalah makhluk yang paling kubenci, tetapi baginda masih saja ias g kepadaku, sehingga baginda menjadi makhluk yang paling kucintai.”
Diantara rahmat dan kasih ias g baginda pada umat adalah selalu berusaha membuat segala sesuatu menjadi ringan dan mudah bagi mereka. Ketidaksukaan baginda pada sesuatu adalah karena baginda khawatir hal tersebut akan menjadi kewajiban bagi umat baginda. Seperti tampak dalam perkataan baginda ini, “Sekiranya bukan karena rasa kasihan pada umatku, sungguh aku akan memerintah mereka menggunakan siwak setiap kali mereka berwudhu.”
(Siwak disebut juga miswaak atau kayu siwak yaitu ranting pembersih gigi higenis dari pohon Arak, Peelu atau Persica Salvadora. Sekarang banyak tersedia di pasaran pasta gigi yang mengandung siwak tetapi kebanyakan dari mereka lupa mengatakan bahwa ide tentang siwak ias g dari baginda, misalnya Perusahaan besar Eropa SIGNAL yang mengadoptasi siwak pada produk mereka tapi tidak ias g tanda jasa pada baginda).
Yang dimaksud dengan ‘umatku’ merujuk pada semua orang yang mengikuti Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang sezaman dengan baginda dan juga yang ias g setelah zaman baginda sampai Hari Kiamat.
Belas kasih dan kepedulian pada umat selanjutnya ias g pada jumlah waktu yang baginda habiskan disepanjang malam untuk beribadah, dan baginda juga melarang untuk berpuasa wishol (puasa terus menerus tanpa berbuka dan tanpa sahur). Adapun ias g baginda tidak menyukai masuk ke ruangan didalam Kabah adalah karena khawatir hal itu akan menjadi kewajiban atas umat sehingga melelahkan mereka.
Ketika mendengar seorang anak menangis tersedu-sedu, baginda pun mempersingkat solat dengan membaca-surah-surah yang pendek bacaannya.
Belas kasihnya yang penuh kelembutan, terlihat jelas ketika baginda berdoa kepada Allah seraya berucap, “Setiap kali ada seseorang yang kumaki dan kulaknat, jadikanlah hal itu baginya sebagai zakat, rahmat, doa, dan penyucian, serta sebagai kedekatan yang mendekatkannya kepada-Mu pada Hari Kiamat.”
Bahkan ketika orang-orang kafir mendustakan baginda, baginda tetap berbelas kasih kepada mereka, meski Malaikat Jibril ias g kepada baginda dan berkata, “Sungguh Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu, dan penolakan mereka terhadapmu. Dia telah memerintahkan Malaikat Pegunungan supaya engkau menyuruhnya dengan apapun yang engkau kehendaki sehubungan dengan pendustaan mereka.” Kemudian Malaikat Pegunungan menyapa baginda dan berucap salam kepada baginda seraya berkata, “Suruhlah saya dengan apapun yang engkau kehendaki. Jika engkau menghendaki, saya akan menjepit mereka di antara dua gunung Mekah.” Dalam lemah lembut, baginda menjawab, “Yang aku harapkan adalah agar Allah mengeluarkan dari tulang punggung mereka, orang-orang yang menyembah Allah sendirian, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Siti Aisyah, Ibu orang-orang
Pujian dan kesejahteraan atasnya
Allah berfirman, “Sungguh telah ias g kepadamu seorang Rasul (Utusan Allah) dari dirimu sendiri, menyedihkan atasnya apa yang kamu derita, sangat mencemaskan (keselamatan) atasmu, lemah lembut lagi penyayang pada orang-orang beriman.” (At-Taubah,9:128)
“Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya’,21:107).
(Sisipan Syeikh Darwish: Allah telah membuat watak lemah lembut, kepedulian dan belas kasih Nabi Muhammad, meliputi setiap ias g ciptaan-Nya. Termasuk juga bagian dari keunggulan Nabi adalah bahwa Allah menghiasi baginda dengan dua dari Nama-nama Nya ketika Dia berfirman, “Paling belas kasih lagi penyayang.” (At-Taubah,9:128).)
Sofwan berkata, “Demi Allah, baginda telah memberiku apa yang baginda berikan kepadaku. Bagiku baginda adalah makhluk yang paling kubenci, tetapi baginda masih saja ias g kepadaku, sehingga baginda menjadi makhluk yang paling kucintai.”
Diantara rahmat dan kasih ias g baginda pada umat adalah selalu berusaha membuat segala sesuatu menjadi ringan dan mudah bagi mereka. Ketidaksukaan baginda pada sesuatu adalah karena baginda khawatir hal tersebut akan menjadi kewajiban bagi umat baginda. Seperti tampak dalam perkataan baginda ini, “Sekiranya bukan karena rasa kasihan pada umatku, sungguh aku akan memerintah mereka menggunakan siwak setiap kali mereka berwudhu.”
(Siwak disebut juga miswaak atau kayu siwak yaitu ranting pembersih gigi higenis dari pohon Arak, Peelu atau Persica Salvadora. Sekarang banyak tersedia di pasaran pasta gigi yang mengandung siwak tetapi kebanyakan dari mereka lupa mengatakan bahwa ide tentang siwak ias g dari baginda, misalnya Perusahaan besar Eropa SIGNAL yang mengadoptasi siwak pada produk mereka tapi tidak ias g tanda jasa pada baginda).
Yang dimaksud dengan ‘umatku’ merujuk pada semua orang yang mengikuti Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang sezaman dengan baginda dan juga yang ias g setelah zaman baginda sampai Hari Kiamat.
Belas kasih dan kepedulian pada umat selanjutnya ias g pada jumlah waktu yang baginda habiskan disepanjang malam untuk beribadah, dan baginda juga melarang untuk berpuasa wishol (puasa terus menerus tanpa berbuka dan tanpa sahur). Adapun ias g baginda tidak menyukai masuk ke ruangan didalam Kabah adalah karena khawatir hal itu akan menjadi kewajiban atas umat sehingga melelahkan mereka.
Ketika mendengar seorang anak menangis tersedu-sedu, baginda pun mempersingkat solat dengan membaca-surah-surah yang pendek bacaannya.
Belas kasihnya yang penuh kelembutan, terlihat jelas ketika baginda berdoa kepada Allah seraya berucap, “Setiap kali ada seseorang yang kumaki dan kulaknat, jadikanlah hal itu baginya sebagai zakat, rahmat, doa, dan penyucian, serta sebagai kedekatan yang mendekatkannya kepada-Mu pada Hari Kiamat.”
Bahkan ketika orang-orang kafir mendustakan baginda, baginda tetap berbelas kasih kepada mereka, meski Malaikat Jibril ias g kepada baginda dan berkata, “Sungguh Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu, dan penolakan mereka terhadapmu. Dia telah memerintahkan Malaikat Pegunungan supaya engkau menyuruhnya dengan apapun yang engkau kehendaki sehubungan dengan pendustaan mereka.” Kemudian Malaikat Pegunungan menyapa baginda dan berucap salam kepada baginda seraya berkata, “Suruhlah saya dengan apapun yang engkau kehendaki. Jika engkau menghendaki, saya akan menjepit mereka di antara dua gunung Mekah.” Dalam lemah lembut, baginda menjawab, “Yang aku harapkan adalah agar Allah mengeluarkan dari tulang punggung mereka, orang-orang yang menyembah Allah sendirian, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Siti Aisyah, Ibu orang-orang