-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 130
Al Washiti, semoga Allah merahmatinya, meringkas pembahasan perihal Allah, seraya berkata, "Tidak ada zat seperti Zat-Nya. Tidak ada nama seperti Nama-Nya. Tidak ada tindakan seperti tindakan-Nya. Tidak ada sifat seperti Sifat-Nya. Kesemuanya itu (untuk Allah dan selain Allah) hanya serupa dalam pengucapannya saja. Zat dan Sifat-Nya adalah Terdahulu alias tak berawal, maka mustahil bagi zat yang baru (zat ciptaan-Nya) mempunyai nama dan sifat terdahulu."
Hakim Iyad mengungkapkan pendapatnya mengenai pernyataan Al Washiti:
Sungguh mengagumkan. Pernyataan Al Washiti benar-benar berdasarkan pengetahuan yang sebenarnya dan apa yang dikatakannya juga merupakan perwujudan dari "Pengesaan (Tauhid)" yaitu penegasan zat Allah tidak seperti zat lainnya yang Dia ciptakan, dan Sifat-sifat-Nya senantiasa hidup dan aktif.
Para pengikut Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, mempercayai bahwa Zat Allah tidak terikat waktu karena Dia yang telah menciptakan waktu, sedangkan zat ciptaan-Nya hidup dengan dibatasi waktu dan tidak bisa lari dari waktu. Ini adalah keyakinan orang-orang yang lurus di jalan kebenaran yang mengikuti jalan kenabian baginda (sunnah) dan jamaah para Sahabat serta generasi setelah Sahabat (ini sekaligus doktrin mazhab Sunni atau Ahlussunnah Wal Jamaah)
Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkomentar dan memperinci pernyataan sebelumnya seraya berkata, "Pernyataan diatas mengandung seluruh fakta yang berkenaan dengan Keesaan Allah. Sifat dan keberadaan-Nya adalah berbeda. Zat-Nya tidak seperti zat segala sesuatu yang diciptakan yang terikat dan dipengaruhi oleh waktu. Karena Zat-Nya bebas dari waktu, bebas dari lokasi, bebas dari dimensi, bebas dari imajinasi dan penalaran, serta bebas dari segala materi yang tercipta.
Perbuatan-Nya tidak menyerupai perbuatan semua makhluk yang telah diciptakan-Nya, karena perbuatan-Nya tidak datang dari pemikiran atau hawa nafsu. Perbuatan-Nya tidak datang melainkan dari diri-Nya sendiri dan tidak disebabkan perbuatan para makhluk ciptaan-Nya sebab Dia yang telah menciptakan-Nya." (Perbuatan para makhluk-Nya datang dari-Nya yang dipelihara oleh-Nya sampai diakhiri oleh-Nya).
Juga dikatakan, "Dia tidak seperti apapun yang dibayangkan atau dipikirkan para makhluk (ciptaan-Nya)."
Imam Al-Juwaini berkata:
"Barangsiapa menerapkan sifat-sifat makhluk kepada Allah, berarti menyerupakan-Nya dengan sesuatu, maka orang tersebut telah salah dan keliru.
Barangsiapa merasa puas dengan menyangkal semua sifat Allah, sehingga membuat sifat Allah menjadi tak berarti, maka telah tersesat imannya / kepercayaannya.
Jika seseorang mempercayai keberadaan Allah dan mengakui dia tidak bisa mengenali hakikat dan sifat Allah maka bagus keimanannya untuk keesaan Allah."
Opini mengagumkan dipaparkan oleh Dzun Nuun Al-Mishriy yang berkata,
"Hakikat Tauhid (Pengesaan) adalah bahwa seseorang mengetahui kekuasaan Allah dalam segala sesuatu yang tanpa penanganan dan telah mencipta tanpa butuh. Ini penjelasan dari firman Allah, "Sesungguhnya Perkataan Kami pada sesuatu ketika menghendakinya Kami berkata padanya 'Jadilah' maka jadi." (An-Nahl,16:40).
Setiap pembuatan sesuatu mempunyai alasan, namun Allah menciptakan tanpa alasan kemanusiaan. Ini realisasi dari firman-Nya, "Tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat dan mereka yang akan ditanya." (Al-Anbiya', 21:23)
Apapun yang ada dalam imajinasi dan bayangan, maka bukanlah Allah, sebagaimana firman-Nya, "Tidak ada sesuatu pun yang seperti-Nya." (Asy-Syuro',42:11)."
Hakim Iyad menyimpulkan dengan sebuah doa: Ya Allah, tetapkanlah kami sebagai orang-orang yang kokoh dalam meyakini Keesaan-Mu. Jadikanlah kami senantiasa membenarkan Sifat-sifat-Mu. Jauhkan kami dari segala kesesatan dan kesalahan, dan hindarkan dari membuat-buat alasan dan menyerupakan-Mu. Kami memohon kepada-Mu karunia dan belas kasih-Mu…Amin.
Hakim Iyad mengungkapkan pendapatnya mengenai pernyataan Al Washiti:
Sungguh mengagumkan. Pernyataan Al Washiti benar-benar berdasarkan pengetahuan yang sebenarnya dan apa yang dikatakannya juga merupakan perwujudan dari "Pengesaan (Tauhid)" yaitu penegasan zat Allah tidak seperti zat lainnya yang Dia ciptakan, dan Sifat-sifat-Nya senantiasa hidup dan aktif.
Para pengikut Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, mempercayai bahwa Zat Allah tidak terikat waktu karena Dia yang telah menciptakan waktu, sedangkan zat ciptaan-Nya hidup dengan dibatasi waktu dan tidak bisa lari dari waktu. Ini adalah keyakinan orang-orang yang lurus di jalan kebenaran yang mengikuti jalan kenabian baginda (sunnah) dan jamaah para Sahabat serta generasi setelah Sahabat (ini sekaligus doktrin mazhab Sunni atau Ahlussunnah Wal Jamaah)
Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkomentar dan memperinci pernyataan sebelumnya seraya berkata, "Pernyataan diatas mengandung seluruh fakta yang berkenaan dengan Keesaan Allah. Sifat dan keberadaan-Nya adalah berbeda. Zat-Nya tidak seperti zat segala sesuatu yang diciptakan yang terikat dan dipengaruhi oleh waktu. Karena Zat-Nya bebas dari waktu, bebas dari lokasi, bebas dari dimensi, bebas dari imajinasi dan penalaran, serta bebas dari segala materi yang tercipta.
Perbuatan-Nya tidak menyerupai perbuatan semua makhluk yang telah diciptakan-Nya, karena perbuatan-Nya tidak datang dari pemikiran atau hawa nafsu. Perbuatan-Nya tidak datang melainkan dari diri-Nya sendiri dan tidak disebabkan perbuatan para makhluk ciptaan-Nya sebab Dia yang telah menciptakan-Nya." (Perbuatan para makhluk-Nya datang dari-Nya yang dipelihara oleh-Nya sampai diakhiri oleh-Nya).
Juga dikatakan, "Dia tidak seperti apapun yang dibayangkan atau dipikirkan para makhluk (ciptaan-Nya)."
Imam Al-Juwaini berkata:
"Barangsiapa menerapkan sifat-sifat makhluk kepada Allah, berarti menyerupakan-Nya dengan sesuatu, maka orang tersebut telah salah dan keliru.
Barangsiapa merasa puas dengan menyangkal semua sifat Allah, sehingga membuat sifat Allah menjadi tak berarti, maka telah tersesat imannya / kepercayaannya.
Jika seseorang mempercayai keberadaan Allah dan mengakui dia tidak bisa mengenali hakikat dan sifat Allah maka bagus keimanannya untuk keesaan Allah."
Opini mengagumkan dipaparkan oleh Dzun Nuun Al-Mishriy yang berkata,
"Hakikat Tauhid (Pengesaan) adalah bahwa seseorang mengetahui kekuasaan Allah dalam segala sesuatu yang tanpa penanganan dan telah mencipta tanpa butuh. Ini penjelasan dari firman Allah, "Sesungguhnya Perkataan Kami pada sesuatu ketika menghendakinya Kami berkata padanya 'Jadilah' maka jadi." (An-Nahl,16:40).
Setiap pembuatan sesuatu mempunyai alasan, namun Allah menciptakan tanpa alasan kemanusiaan. Ini realisasi dari firman-Nya, "Tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat dan mereka yang akan ditanya." (Al-Anbiya', 21:23)
Apapun yang ada dalam imajinasi dan bayangan, maka bukanlah Allah, sebagaimana firman-Nya, "Tidak ada sesuatu pun yang seperti-Nya." (Asy-Syuro',42:11)."
Hakim Iyad menyimpulkan dengan sebuah doa: Ya Allah, tetapkanlah kami sebagai orang-orang yang kokoh dalam meyakini Keesaan-Mu. Jadikanlah kami senantiasa membenarkan Sifat-sifat-Mu. Jauhkan kami dari segala kesesatan dan kesalahan, dan hindarkan dari membuat-buat alasan dan menyerupakan-Mu. Kami memohon kepada-Mu karunia dan belas kasih-Mu…Amin.