-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 158
Al-Quran telah menceritakan peristiwa ajaib pembelahan bulan, tentang ini Allah berfirman, "Saat (Hari Kiamat) semakin dekat, dan bulan terbelah (dua); dan jika (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat) mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang berkesinambungan." (Al-Qomar, 54:1-2)
Ayat pertama diturunkan pada saat mukjizat terjadi. Ibnu Mas’ud serta yang lainnya memberi informasi lebih lanjut peristiwa ajaib ini dengan memberitahu, "Pada masa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bulan terbelah menjadi dua. Salah satu bagian terlihat di atas gunung (Gunung Hiro'), sedangkan bagian yang lain terlihat di bawahnya, dan Rasulullah menyeru orang-orang untuk bersaksi." Bukhari dan Muslim.
Anas meriwayatkan, "Orang-orang Mekah meminta Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, supaya menunjukkan sebuah tanda lalu baginda memperlihatkan mereka terbelahnya bulan menjadi dua, dan mereka melihat Gunung Hiro’ diantara dua belahannya."
Tanda ajaib ini menjadi bukti yang jelas bagi orang-orang yang tak beriman, dan berita ini tidak tersembunyi dari siapapun.
Disamping terdapat ayat yang jelas, semua riwayat tentang pembelahan bulan adalah sahih yaitu tak diragukan kebenaran dan keasliannya. Mukjizat terjadi dalam suasana yang tenang dikesunyian malam. Hanya mereka yang biasa memantau ke angkasa dan tengah memandang langit yang menyadarinya. Sebagaimana yang terjadi pada peristiwa gerhana, terkadang awan menghalangi penampakannya. Tidak ada keraguan bahwa banyak orang melihatnya di berbagai belahan dunia, tetapi tidak menyadari peristiwa yang terjadi di Mekah, yaitu antara Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, beserta orang-orang yang diajak baginda untuk memeluk Islam.
Pembelahan bulan telah disaksikan oleh seorang raja.
(Syekh Ahmad Darwish menambahkan: Tercatat pada suatu malam, seorang raja di Kerala, India, yang bernama Raja Cheraman Perumal, saat tengah berjalan-jalan didampingi sang istri di luar istana mereka, menyaksikan bulan terbelah menjadi dua. Ketika para pedagang Arab melintas di Kerala, Raja memberitahu mereka kejadian aneh tersebut. Para pedagang Arab lalu menceritakan peristiwa sebenarnya yang terjadi di Mekah bahwa keajaiban bulan terbelah merupakan jawaban untuk doa seorang nabi Utusan Allah yang baru diutus.
Raja kemudian berangkat berlayar untuk mengunjungi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Akhirnya Raja memeluk agama Islam, berikrar kesetiaan kepada baginda, dan berganti nama menjadi "Tajuddin" yang artinya ialah "Mahkota Agama".
Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengutus beberapa Sahabat di bawah kepemimpinan Malik bin Dinar dan saudaranya supaya ikut Raja pulang ke India untuk menyebarkan dan mensyiarkan Islam. Ditengah perjalanan, di Salala, Oman, Raja jatuh sakit dan meninggal dunia. Sebelum kematiannya, Raja menulis surat kepada para pembesar Malabar yang dikirim melalui para Sahabat agar menolong dan membantu para Sahabat. Maka kehadiran para Sahabat disambut hangat oleh pemerintahan setempat dan mulailah mereka berdakwah memperkenalkan Islam.
Di desa Rayangadi, dekat Payyannur, ada sebuah masjid yang dibangun kira-kira sebelum tahun ke-5 H (Hijriyah - tahun Hijriyah dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah ke Madinah). Masjid tersebut menjadi saksi bersejarah prasasti bahasa Arab tanpa harokat dan titik. Dimasa selanjutnya, empat belas masjid dibangun, salah satunya berada di Kodungallur yang bernama "Masjid Cherman Malik" dimana tetap utuh bangunannya hingga sekarang, bahkan mimbar beserta atapnya yang terbuat dari kayu dan sumur yang airnya dipakai untuk berwudhu masih seperti semula.
Malik bin Dinar menikahi saudara perempuan Raja Cheraman. Dari hasil perkawinannya,
Ayat pertama diturunkan pada saat mukjizat terjadi. Ibnu Mas’ud serta yang lainnya memberi informasi lebih lanjut peristiwa ajaib ini dengan memberitahu, "Pada masa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bulan terbelah menjadi dua. Salah satu bagian terlihat di atas gunung (Gunung Hiro'), sedangkan bagian yang lain terlihat di bawahnya, dan Rasulullah menyeru orang-orang untuk bersaksi." Bukhari dan Muslim.
Anas meriwayatkan, "Orang-orang Mekah meminta Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, supaya menunjukkan sebuah tanda lalu baginda memperlihatkan mereka terbelahnya bulan menjadi dua, dan mereka melihat Gunung Hiro’ diantara dua belahannya."
Tanda ajaib ini menjadi bukti yang jelas bagi orang-orang yang tak beriman, dan berita ini tidak tersembunyi dari siapapun.
Disamping terdapat ayat yang jelas, semua riwayat tentang pembelahan bulan adalah sahih yaitu tak diragukan kebenaran dan keasliannya. Mukjizat terjadi dalam suasana yang tenang dikesunyian malam. Hanya mereka yang biasa memantau ke angkasa dan tengah memandang langit yang menyadarinya. Sebagaimana yang terjadi pada peristiwa gerhana, terkadang awan menghalangi penampakannya. Tidak ada keraguan bahwa banyak orang melihatnya di berbagai belahan dunia, tetapi tidak menyadari peristiwa yang terjadi di Mekah, yaitu antara Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, beserta orang-orang yang diajak baginda untuk memeluk Islam.
Pembelahan bulan telah disaksikan oleh seorang raja.
(Syekh Ahmad Darwish menambahkan: Tercatat pada suatu malam, seorang raja di Kerala, India, yang bernama Raja Cheraman Perumal, saat tengah berjalan-jalan didampingi sang istri di luar istana mereka, menyaksikan bulan terbelah menjadi dua. Ketika para pedagang Arab melintas di Kerala, Raja memberitahu mereka kejadian aneh tersebut. Para pedagang Arab lalu menceritakan peristiwa sebenarnya yang terjadi di Mekah bahwa keajaiban bulan terbelah merupakan jawaban untuk doa seorang nabi Utusan Allah yang baru diutus.
Raja kemudian berangkat berlayar untuk mengunjungi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Akhirnya Raja memeluk agama Islam, berikrar kesetiaan kepada baginda, dan berganti nama menjadi "Tajuddin" yang artinya ialah "Mahkota Agama".
Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengutus beberapa Sahabat di bawah kepemimpinan Malik bin Dinar dan saudaranya supaya ikut Raja pulang ke India untuk menyebarkan dan mensyiarkan Islam. Ditengah perjalanan, di Salala, Oman, Raja jatuh sakit dan meninggal dunia. Sebelum kematiannya, Raja menulis surat kepada para pembesar Malabar yang dikirim melalui para Sahabat agar menolong dan membantu para Sahabat. Maka kehadiran para Sahabat disambut hangat oleh pemerintahan setempat dan mulailah mereka berdakwah memperkenalkan Islam.
Di desa Rayangadi, dekat Payyannur, ada sebuah masjid yang dibangun kira-kira sebelum tahun ke-5 H (Hijriyah - tahun Hijriyah dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah ke Madinah). Masjid tersebut menjadi saksi bersejarah prasasti bahasa Arab tanpa harokat dan titik. Dimasa selanjutnya, empat belas masjid dibangun, salah satunya berada di Kodungallur yang bernama "Masjid Cherman Malik" dimana tetap utuh bangunannya hingga sekarang, bahkan mimbar beserta atapnya yang terbuat dari kayu dan sumur yang airnya dipakai untuk berwudhu masih seperti semula.
Malik bin Dinar menikahi saudara perempuan Raja Cheraman. Dari hasil perkawinannya,