Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 198

serta Mengikuti Jalan Nabi (Sunnah)

Risalah yang dibawa Nabi Muhammad telah kukuh kebenarannya, maka wajib untuk beriman kepada baginda dan kebenaran risalahnya, serta menerima ajaran dan Wahyu yang dibawa oleh baginda untuk umat manusia.
Allah memberitahu kita untuk, "Berimanlah kepada Allah, dan Rasul-Nya, dan cahaya yang Kami turunkan." (At-Taghobun,64:8). Dia berbicara tentang Nabi seraya berfirman, "Sungguh Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan; agar kamu semua beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya serta mendukungnya, dan memujanya, dan bertasbih kepada-Nya (Allah) di waktu pagi dan petang." (Al-Fath,48:8-9). Dia juga berfirman, "Berimanlah kepada Allah, dan Rasul-Nya, Nabi buta huruf." (Al-A'raf,7:158).
Dari ayat-ayat diatas, setiap orang jadi mengetahui bahwa ada kewajiban mempercayai Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Keimanan tidak lengkap tanpanya karena keimanan hanya berlaku dengan beriman pada Keesaan Allah dan menerima serta beriman pada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Allah memperingatkan, "Dan barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh Kami telah menyediakan Api yang menyala-nyala untuk orang-orang kafir." (Al-fath,48:13).
Abu Hurairah mendengar Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku diperintahkan untuk memerangi (penyembahan berhala) orang-orang sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan percaya kepadaku serta apa yang aku bawa. Apabila mereka melakukan ini, darah dan harta mereka terlindungi dariku, kecuali bila hak Islam dilanggar, perhitungan mereka adalah dengan Allah."
Beriman kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berarti bersaksi pada kenabian baginda dan Risalah Allah yang dipercayakan kepada baginda, serta mendukung segala yang dibawa baginda dan diucapkan baginda.
Apa yang didalam hati kemudian lahir menjadi kesaksian pada lisan bahwa baginda benar-benar Utusan Allah, pujian dan kesejahteraan atasnya.
Makna keimanan ini telah disahkan oleh hadis dimana Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan berkata, "Beritahu aku tentang Islam." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, "Yaitu engkau bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah ...." Lalu Jibril bertanya tentang arti iman dan baginda menjawab, "Yaitu bahwa engkau percaya kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya ..."
Beriman kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menyiratkan penerimaan hati, adapun Islam hanya sekedar ucapan di lisan. Bagaimanapun, jika kesaksian hanya di lisan saja tanpa penegasan di hati, sama saja dengan kemunafikan.
Allah berbicara tentang orang-orang munafik seraya berfirman, "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, 'Kami bersaksi bahwa engkau adalah Utusan Allah.' Allah mengetahui bahwa engkau (Muhammad) benar-benar Utusan-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik benar-benar pendusta." (Al-Munafiqun,63:1).
Orang-orang munafik telah berbohong dengan lidah mereka, dan menyembunyikan apa yang sebenarnya di lubuk hati mereka, maka kesaksian mereka tidak memiliki manfaat di akhirat (Kehidupan Abadi) karena kesaksian mereka tidak lengkap dan mereka akan bergabung dengan orang-orang kafir. Adapun hukuman mereka, kelak berada di Api neraka paling dalam, di bawah orang-orang kafir. Namun dalam kehidupan ini, karena mereka telah mengucapkan kesaksian secara lisan, orang-orang tersebut dihukumi para hakim Islam sebagai orang-orang Islam, karena para hakim tidak mempunyai akses untuk melihat apa yang sebenarnya dihati mereka.
Para hakim telah melarang untuk menyelidiki realitas kesaksian seseorang, karena baginda telah mengecam tindakan seseorang