Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 209

Allah berfirman, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, suku-suku bangsamu, harta kekayaan yang kamu peroleh, dagangan yang kamu takut tidak akan terjual, dan rumah-rumah yang kamu senangi adalah lebih kamu cintai daripada Allah, dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan perintah-Nya." (At-Taubah,9:24).
Ayat ini menunjukkan dorongan, nasehat, bukti dan indikasi pentingnya mencintai Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Ayat ini kiranya mencukupi untuk menunjukkan bahwa mencintai baginda mempunyai porsi yang luar biasa. Nabi Muhammad berhak untuk dicintai, karena itu wajib bagi umat untuk mencintai baginda.
Anda bisa mengamati bagaimana Allah menegur mereka yang lebih mencintai sanak kerabat dan harta kekayaan daripada Allah dan Rasul-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya. Allah mengakhiri peringatan-Nya dengan kata-kata ancaman "maka tunggulah sampai Allah mendatangkan perintah-Nya (yakni siksa-Nya)." Dari sini dapat dimengerti bahwa mereka yang cintanya untuk selain Allah dan Rasul-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah tersesat dan tidak dibimbing oleh Allah.
Anas berkata, suatu hari Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda kepada para Sahabatnya, "Tak seorang pun dari kalian akan beriman hingga aku lebih dicintai olehnya daripada anak-anaknya, ayahnya dan semua orang."
Anas juga melaporkan, "Ada tiga hal yang apabila dimiliki oleh seseorang, niscaya mengalami manisnya iman. Yaitu, mencintai Allah dan Rasul-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya, lebih dari apapun yang lain, dan mencintai seseorang demi keridhaan Allah semata, serta benci kembali pada kekafiran sebagaimana benci dilontarkan kedalam Api."
Suatu hari Umar bin Khattab datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan berkata kepada baginda, "Saya mencintai engkau lebih dari apapun kecuali jiwaku yang diantara dua sisiku." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, "Tak seorang pun darimu akan beriman sampai aku lebih disayanginya daripada jiwanya sendiri." Umar segera menimpali, "Demi Yang telah menurunkan Kitab kepadamu, aku mencintaimu lebih dari jiwaku yang diantara dua sisi (tubuh)-ku." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, "Sekarang wahai Umar (engkau telah mencapai hal itu)."
Sahl memperingatkan, "Jika seseorang tidak berpikir bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah junjungannya dalam segala hal atau mengira bahwa ia tidak berada di bawah hukum baginda, ia tidak akan merasakan manisnya jalan kenabian baginda, karena baginda bersabda, "Tak seorang pun dari kalian akan beriman sampai aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri."
Pahala mencintai Nabi Muhammad
pujian dan kesejahteraan atasnya

Anas memberitahu suatu kejadian ketika seorang pria datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan bertanya, "Kapan Hari Akhir akan datang, Wahai Rasulullah?" kemudian Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya balik, "Apa yang kamu persiapkan untuk Hari Akhir?" Pria itu menjawab, "Saya tidak menyiapkan banyak solat, puasa atau amal untuk Hari Akhir, tetapi saya mencintai Allah dan Rasul-Nya." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepadanya, "Kamu akan bersama yang kamu cintai."
Safwan bin Qudamah menceritakan peristiwa hijrahnya kepada baginda, sambil berkata, "Ketika saya berhijrah kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, saya datang kepada baginda dan berkata, 'Ya Rasulullah, berikan saya tangan anda,' lalu baginda memberikan tangan beliau, kemudian saya berkata, 'Ya Rasulullah, saya mencintai engkau.' Baginda menjawab, 'Seseorang adalah bersama yang dicintainya'". Abu Dzar mengatakan sesuatu yang serupa.
Nabi, pujian dan kesejahteraan