Muhammad.com collection in 109 languages

  • KESALAHAN_WAHABI, page : 4

Sya’ban telah tiba, maka beribadahlah pada malamnya dan berpuasalah pada siangnya." Hadis riwayat Bin Majah Boleh menjalankan puasa di pertengahan bulan Sya’ban dan melaksanakan solat sunnah pada malam pertengahan Sya’ban Pertengahan bulan Sya’ban Lihat kitab mereka "At Tauhid" karya Bin Fauzan halaman 115-116, Riyadh, Saudi Arabia Golongan Wahabi mengharamkan perayaan Maulid Nabi maupun membagi-bagikan makanan dan sesuatu yang manis dalam rangka menyambut keharuman bulan Maulid, dan mereka menyatakan hal itu sebagai sikap meniru-niru orang Yahudi Para ulama Islam membenarkan perayaan Maulid Nabi yang dilakukan kaum Muslimin dari ufuk timur hingga barat bumi (kecuali orang-orang Wahabi yang menolak merayakannya) Boleh memperlihatkan kegembiraan dan kebahagiaan serta membagi-bagikan makanan maupun sesuatu yang manis dalam rangka menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad Perayaan Maulid Nabi Muhammad
Kitab karya Bin Fauzan "At Tauhid" halaman 115, Riyadh, Saudi Arabia. Lihat juga kitab mereka yang berjudul "At Tahdzir Minal Bid'a" halaman 5
Bin Fauzan, salah satu pemimpin Wahabi, berkata: orang-orang Islam yang bodoh dan para ulama sesat membuat perayaan dalam rangka menyambut bulan kelahiran Rasul. Bin baz menyatakan bahwa merayakan Maulid Nabi merupakan sikap meniru orang Yahudi Kaum Muslimin dan para ulama ahli hadis, fikih dan tafsir telah bersepakat untuk merayakan Maulid Nabi
Dalam kitab "At Tanwir Fi Maulidil Basyir An Nadzir" karya Bin Dahiyyah disebutkan bahwa para ulama Islam dan kaum Muslimin telah merayakan Maulid Nabi sejak 900 tahun yang lalu. Merayakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad Kitab berjudul "At Tauhid" karya Bin Fauzan, halaman 120, Riyadh, dan kitab "Bahtsu Usbu'" karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Golongan Wahabi mengharamkan perayaan peristiwa-peristiwa tersebut, disisi lain mereka justru merayakan hari kemunculan dakwah perintis Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab, selama seminggu Merayakan peristiwa keislaman bersejarah sama sekali tidak melanggar syariat dan tidak ada dalil yang mengharamkannya, malahan termasuk sunnah Tidak apa-apa merayakan peristiwa-peristiwa tersebut Perayaan dalam rangka memperingati Isro’ Mi'roj, Hijrah Nabi dan peristiwa keislaman bersejarah lainnya Kitab "As Suhubul Wabilah" karya Mufti Mekah, Muhammad bin Abdullah Al Hanbali, halaman 39, cetakan Dar Bin Hazm, Beirut, dan kitab "Aja'ibul Atsar" karya Al Jabrati (jilid 7 hlm 146) Golongan Wahabi mengkafir-kafirkan kaum Muslimin yang mengingkari keyakinan batil mereka Rasulullah bersabda, "Bila seseorang mengkafir-kafirkan saudaranya sedangkan ia bukan orang kafir maka orang yang memulainya itulah yang kafir." Hadis riwayat Muslim Tidak boleh mengkafir-kafirkan orang Islam tanpa sebab yang sesuai hukum syariat
Muslim (Orang Islam)
Kitab berjudul "Aqidatul Mukmin" karya Abu Bakar Al Jaza'iri halaman 144 Golongan Wahabi berkata: Tawasul dengan kedudukan para wali dan orang-orang saleh, membuat orang yang melakukannya keluar dari agama dan orang tersebut kelak akan tinggal selama-lamanya didalam neraka Jahanam Tawassul ini sama sekali tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis Rasulullah. Imam Ahmad bin Hanbal telah mengesahkan tawassul Orang Islam boleh berdoa sambil mengucap "Ya Allah, dengan kedudukan para nabi-Mu dan wali-Mu, hilangkanlah kesusahanku."
Tawassul dengan kedudukan para wali dan orang-orang saleh
Golongan Wahabi tidak memiliki kesepakatan (ijma’) dengan semua ulama’.

Tersedia lebih dari 100 buku yang disusun para ulama kenamaan memperinci akidah Wahabi yang buruk dan fatwa