-
KESALAHAN_WAHABI, page : 8
Meletakkan pelepah kurma diatas kuburan Majalah "Al Buhutsul Islamiyah" terbitan Ri'asatul Buhutsul Ilmiyyah Wal Ifta', Riyadh, edisi 45 tahun 1416 H dan kitab mereka berjudul "Taujihat Islamiyyah" karya Muhammad Zainu halaman 81 Bin Baz, pemimpin Wahabi, berkata: Membaca Shadaqallahul 'Azhim setelah selesai membaca Qur’an adalah bid'ah yang sesat yaitu tidak diperbolehkan Ucapan tersebut mengandung pujian kepada Allah. Allah berfirman "Katakanlah, 'Maha Benar Allah'" (Q.S Ali Imran,3:95) juga berfirman "Dan siapa yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (Q.S An Nisa,4:122) Boleh mengucap Shadaqallahul 'Azhim sesudah selesai membaca Al Qur’an sebagaimana hal itu telah diketahui kaum muslimin di seluruh dunia Ucapan Shadaqallahul 'Azhim
(Maha Benar Allah Yang Maha Agung) Bin Baz menyebutkan dalam kitab karangannya berjudul "At Tahqiq Wal Idhah Likatsirin Min Masa'ilil Hajj Wal Umrah" halaman 88,90,98 Bin Baz, pemimpin Wahabi, berkata: Haram hukumnya menempuh perjalanan untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad meskipun bagi orang yang melakukan haji yang jauh jaraknya dari Madinah Munawwaroh Rasulullahbersabda: Barangsiapa datang untuk berziarah ke makamku, tidak ada tujuan lain selain berziarah kepadaku, maka aku layak untuk mensyafaatinya.Hadis riwayat Imam Tabrani Bepergian ke makam Rasulullah boleh dilakukan Menempuh perjalanan untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad
Surat yang ditulis Muhammad bin Abdul Wahab untuk para penduduk Riyadh, sebagaimana disebutkan dalam buku "Tarikh Najd" karya Husain bin Ghanim (jilid 2 halaman 137-138) Muhammad bin Abdul Wahab berkata: semua guruku, tak satupun dari mereka yang mengetahui arti Laailaha illallah Ayahnya dan saudaranya yaitu Syekh Sulaiman serta para ulama di zamannya dan dizaman sesudahnya memperingatkan orang-orang agar menjauhi Muhammad bin Abdul Wahab. Keterangan ini telah disebutkan dalam kitab "As Suhub Al Wabilah ala Dhara’ihil Hanabilah" Muhammad bin Abdul Wahab adalah orang yang menyimpang dari ajaran Al Qur’an dan Sunnah
Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri aliran Wahabi
Lihat catatan kaki dalam kitab mereka berjudul "Fawakih Al Azab" halaman 52, cetakan Muassasah Ar Risalah, Beirut Golongan Wahabi menyangkal semua orang Islam yang mensifatkan Allah dengan Al Qodim yang mana kaum muslimin mengambil dalilnya dari hadis Nabi dan golongan Wahabi menuduh kaum muslimin mengambilnya dari ajaran ahli filsafat Rasulullah bersabda, "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dan dengan kemuliaan wajah-Nya dan Kekuasaan-Nya Yang Maha Dahulu (tidak berawal)." Hadis riwayat Abu Daud Boleh menyandangkan lafal Qadim kepada Allah Swt dengan makna bahwa Allah Maha Dahulu keberadaan-Nya tanpa permulaan. Hal ini telah disepakati oleh seluruh umat Islam
Menyandangkan Lafal Qadim (Dahulu tanpa permulaan) kepada Allah
Syarah "Aqidah Thahawiyah" karya Bin Abul 'Izzi halaman 286 cetakan kesembilan tahun 1988 Golongan Wahabi mensifatkan Allah dengan sifat-sifat manusia, seraya mengatakan bahwa Allah turun dari atas ke bawah Allah berfirman, "Tidak ada sesuatupun yang seperti-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S As Syura,42:11) Allah Swt tidak disifatkan dengan turun dari atas ke bawah karena hal itu merupakan sifat para makhluk Allah Maha Suci dari sifat turun secara fisik Kitab berjudul "Fatawa Al Mar'ah" halaman 27 Darul Wathan, Riyadh Bin Baz, pemimpin Wahabi, mengatakan bahwa wajib hukumnya mencegah kaum lelaki mengajari anak-anak perempuan dan mencegah para wanita mengajari
(Maha Benar Allah Yang Maha Agung) Bin Baz menyebutkan dalam kitab karangannya berjudul "At Tahqiq Wal Idhah Likatsirin Min Masa'ilil Hajj Wal Umrah" halaman 88,90,98 Bin Baz, pemimpin Wahabi, berkata: Haram hukumnya menempuh perjalanan untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad meskipun bagi orang yang melakukan haji yang jauh jaraknya dari Madinah Munawwaroh Rasulullahbersabda: Barangsiapa datang untuk berziarah ke makamku, tidak ada tujuan lain selain berziarah kepadaku, maka aku layak untuk mensyafaatinya.Hadis riwayat Imam Tabrani Bepergian ke makam Rasulullah boleh dilakukan Menempuh perjalanan untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad
Surat yang ditulis Muhammad bin Abdul Wahab untuk para penduduk Riyadh, sebagaimana disebutkan dalam buku "Tarikh Najd" karya Husain bin Ghanim (jilid 2 halaman 137-138) Muhammad bin Abdul Wahab berkata: semua guruku, tak satupun dari mereka yang mengetahui arti Laailaha illallah Ayahnya dan saudaranya yaitu Syekh Sulaiman serta para ulama di zamannya dan dizaman sesudahnya memperingatkan orang-orang agar menjauhi Muhammad bin Abdul Wahab. Keterangan ini telah disebutkan dalam kitab "As Suhub Al Wabilah ala Dhara’ihil Hanabilah" Muhammad bin Abdul Wahab adalah orang yang menyimpang dari ajaran Al Qur’an dan Sunnah
Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri aliran Wahabi
Lihat catatan kaki dalam kitab mereka berjudul "Fawakih Al Azab" halaman 52, cetakan Muassasah Ar Risalah, Beirut Golongan Wahabi menyangkal semua orang Islam yang mensifatkan Allah dengan Al Qodim yang mana kaum muslimin mengambil dalilnya dari hadis Nabi dan golongan Wahabi menuduh kaum muslimin mengambilnya dari ajaran ahli filsafat Rasulullah bersabda, "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dan dengan kemuliaan wajah-Nya dan Kekuasaan-Nya Yang Maha Dahulu (tidak berawal)." Hadis riwayat Abu Daud Boleh menyandangkan lafal Qadim kepada Allah Swt dengan makna bahwa Allah Maha Dahulu keberadaan-Nya tanpa permulaan. Hal ini telah disepakati oleh seluruh umat Islam
Menyandangkan Lafal Qadim (Dahulu tanpa permulaan) kepada Allah
Syarah "Aqidah Thahawiyah" karya Bin Abul 'Izzi halaman 286 cetakan kesembilan tahun 1988 Golongan Wahabi mensifatkan Allah dengan sifat-sifat manusia, seraya mengatakan bahwa Allah turun dari atas ke bawah Allah berfirman, "Tidak ada sesuatupun yang seperti-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S As Syura,42:11) Allah Swt tidak disifatkan dengan turun dari atas ke bawah karena hal itu merupakan sifat para makhluk Allah Maha Suci dari sifat turun secara fisik Kitab berjudul "Fatawa Al Mar'ah" halaman 27 Darul Wathan, Riyadh Bin Baz, pemimpin Wahabi, mengatakan bahwa wajib hukumnya mencegah kaum lelaki mengajari anak-anak perempuan dan mencegah para wanita mengajari