-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 41
Orang yang berharta sering kali dipandang terhormat oleh orang-orang awam. Mereka mengira ia dapat memuaskan segala macam kebutuhan dan keinginan melalui kekayaannya itu. Padahal ini sebenarnya bukanlah suatu kebajikan.
Ketika seseorang memiliki kekayaan, dan menghabiskannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, serta menggunakannya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, maka pembelanjaan harta kekayaan tersebut membuatnya meraih kemuliaan, keutamaan dan patut untuk dipuji, hati manusia pun akan memandangnya sebagai kebaikan. Dengan begitu maka menjadi suatu kebajikan untuknya di mata orang-orang dunia.
Ketika seseorang menggunakan kekayaannya untuk urusan yang bermanfaat dalam agama, dan menghabiskan dalam amal guna mencari keridhaan Allah, dan untuk amal akhirat, maka menjadi sebuah kebajikan di mata setiap orang.
Adapun orang yang memilih untuk menahan kekayaannya, tidak peduli apakah itu sedikit atau banyak, menyalahgunakannya dan selalu ingin mendapatkan lebih banyak, maka hartanya telah menjadi penyebab aib, dan menjadi tak berharga, serta tak ada nilai kebajikannya. Ketika itu terjadi, kekayaan tidak membawa seseorang ke tingkat keselamatan, melainkan justru sebaliknya, menjadi sebuah keburukan dan akan melemparkan ke jurang kekikiran dan kehinaan.
Kekayaan dapat pula menjadi kebajikan yang patut dipuji. Tidak terletak pada berapa jumlahnya, melainkan terletak pada penggunaan yang tepat. Jika seseorang telah mengumpulkan banyak kekayaan, tetapi memanfaatkannya secara tidak benar, maka tidak patut disebut sebagai orang kaya, karenanya tidak sepantasnya memuji-muji orang tersebut. Para ulama menganggapnya sebagai orang melarat, dan tidak akan mampu menggapai harapan dan tujuan-tujuan hidupnya, karena tidak mampu mengendalikannya. Ia seperti petugas yang bertanggung jawab atas kekayaan milik orang lain, tapi ia sendiri tidak memiliki kekayaan, seolah-olah tidak memiliki apapun.
Mari melihat dari dekat cara Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berhubungan dengan kekayaan. Ketika seseorang membaca kisah hidup baginda, terlihat bahwa baginda diberi harta karun dunia dan kunci perbendaharaan bumi.
Sebelum zaman baginda, harta rampasan perang telah diharamkan untuk para nabi mulia dan umat-umat mereka, namun Allah menghalalkan untuk Nabi Muhammad dan umatnya. Nabi Muhammad telah membuka Hijaz, Yaman, seluruh Arab serta daerah perbatasan Syria dan Irak. Baginda mengambil seperlima dari harta rampasan perang, zakat, serta pajak yang ditarik dari nonmuslim, dan raja-raja juga memberi baginda hadiah. Namun baginda tidak menyimpan kekayaan bagi dirinya sendiri, juga tidak menyimpan meski hanya satu koin untuk dirinya sendiri, baginda menghabiskan semuanya di jalan Allah. Baginda sangat murah hati dan telah memakmurkan masyarakat serta memperkuat umat Islam melalui pemanfaatan harta tersebut.
Baginda bersabda, "Aku merasa tidak senang jika ada dinar emas tersisa bersamaku semalaman, kecuali satu dinar yang kusisihkan untuk membayar hutang."
Mengenai hal-hal seperti pakaian, perumahan dan kesejahteraan, baginda sudah merasa puas dengan hanya sekedar yang diperlukan saja, dan tidak pernah meminta lebih. Baginda mengenakan pakaian apa saja yang ada, baik itu jubah, pakaian kasar, atau pakaian luar yang tebal. Ketika ada yang mengirimi jubah dari kain brokat atau kain bordiran, baginda bersedia memberikannya kepada siapapun yang ada di dekat baginda atau mengirimkannya kepada orang lain, karena bangga dan berhias bukanlah sifat orang-orang mulia dan terhormat yang dekat dengan Allah, akan tetapi termasuk diantara sifat-sifat perempuan.
Pakaian paling terpuji adalah yang bersih dan berkualitas sedang. Ketika seseorang memakai pakaian semacam itu, tidak
Ketika seseorang memiliki kekayaan, dan menghabiskannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, serta menggunakannya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, maka pembelanjaan harta kekayaan tersebut membuatnya meraih kemuliaan, keutamaan dan patut untuk dipuji, hati manusia pun akan memandangnya sebagai kebaikan. Dengan begitu maka menjadi suatu kebajikan untuknya di mata orang-orang dunia.
Ketika seseorang menggunakan kekayaannya untuk urusan yang bermanfaat dalam agama, dan menghabiskan dalam amal guna mencari keridhaan Allah, dan untuk amal akhirat, maka menjadi sebuah kebajikan di mata setiap orang.
Adapun orang yang memilih untuk menahan kekayaannya, tidak peduli apakah itu sedikit atau banyak, menyalahgunakannya dan selalu ingin mendapatkan lebih banyak, maka hartanya telah menjadi penyebab aib, dan menjadi tak berharga, serta tak ada nilai kebajikannya. Ketika itu terjadi, kekayaan tidak membawa seseorang ke tingkat keselamatan, melainkan justru sebaliknya, menjadi sebuah keburukan dan akan melemparkan ke jurang kekikiran dan kehinaan.
Kekayaan dapat pula menjadi kebajikan yang patut dipuji. Tidak terletak pada berapa jumlahnya, melainkan terletak pada penggunaan yang tepat. Jika seseorang telah mengumpulkan banyak kekayaan, tetapi memanfaatkannya secara tidak benar, maka tidak patut disebut sebagai orang kaya, karenanya tidak sepantasnya memuji-muji orang tersebut. Para ulama menganggapnya sebagai orang melarat, dan tidak akan mampu menggapai harapan dan tujuan-tujuan hidupnya, karena tidak mampu mengendalikannya. Ia seperti petugas yang bertanggung jawab atas kekayaan milik orang lain, tapi ia sendiri tidak memiliki kekayaan, seolah-olah tidak memiliki apapun.
Mari melihat dari dekat cara Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berhubungan dengan kekayaan. Ketika seseorang membaca kisah hidup baginda, terlihat bahwa baginda diberi harta karun dunia dan kunci perbendaharaan bumi.
Sebelum zaman baginda, harta rampasan perang telah diharamkan untuk para nabi mulia dan umat-umat mereka, namun Allah menghalalkan untuk Nabi Muhammad dan umatnya. Nabi Muhammad telah membuka Hijaz, Yaman, seluruh Arab serta daerah perbatasan Syria dan Irak. Baginda mengambil seperlima dari harta rampasan perang, zakat, serta pajak yang ditarik dari nonmuslim, dan raja-raja juga memberi baginda hadiah. Namun baginda tidak menyimpan kekayaan bagi dirinya sendiri, juga tidak menyimpan meski hanya satu koin untuk dirinya sendiri, baginda menghabiskan semuanya di jalan Allah. Baginda sangat murah hati dan telah memakmurkan masyarakat serta memperkuat umat Islam melalui pemanfaatan harta tersebut.
Baginda bersabda, "Aku merasa tidak senang jika ada dinar emas tersisa bersamaku semalaman, kecuali satu dinar yang kusisihkan untuk membayar hutang."
Mengenai hal-hal seperti pakaian, perumahan dan kesejahteraan, baginda sudah merasa puas dengan hanya sekedar yang diperlukan saja, dan tidak pernah meminta lebih. Baginda mengenakan pakaian apa saja yang ada, baik itu jubah, pakaian kasar, atau pakaian luar yang tebal. Ketika ada yang mengirimi jubah dari kain brokat atau kain bordiran, baginda bersedia memberikannya kepada siapapun yang ada di dekat baginda atau mengirimkannya kepada orang lain, karena bangga dan berhias bukanlah sifat orang-orang mulia dan terhormat yang dekat dengan Allah, akan tetapi termasuk diantara sifat-sifat perempuan.
Pakaian paling terpuji adalah yang bersih dan berkualitas sedang. Ketika seseorang memakai pakaian semacam itu, tidak