Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 47

"Dan untuk siapa yang bersabar dan mengampuni, sungguh demikian itu benar-benar diantara penentuan hal." (Asy-Syura,42:43).
Manusia paling baik sekalipun pernah mengalami kekhilafan dalam hidupnya. Namun baginda tidak pernah mengalami kekhilafan. Kesabaran baginda didalam masa-masa yang sulit walaupun semakin menghebat, malah tampak makin jelas, dan ketika orang-orang yang ingkar mencoba segala cara untuk menyakiti dan membahayakan baginda, hanyalah meningkatkan kesabaran baginda.
Bunda Siti Aisyah, istri baginda sekaligus ibu orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, berkata, "Setiap kali Rasulullah diberi pilihan antara dua hal, baginda selalu memilih yang paling mudah dari keduanya, selagi itu bukan dosa. Jika itu adalah dosa, maka baginda adalah orang yang paling jauh dari dosa. Baginda tidak pernah membalas dendam, tetapi jika kehormatan Allah telah dilanggar, baginda akan membalas dendam demi Allah."
Ada suatu kejadian ketika gigi baginda patah dalam pertempuran Uhud. Cedera merambah hingga ke wajahnya. Para Sahabat benar-benar tak tahan melihat kondisi baginda, dan mereka berkata, "Seandainya saja engkau berdoa untuk melaknat mereka!" Namun Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, "Sungguh aku tidak diutus untuk melaknat, akan tetapi aku diutus sebagai pengajak (kepada Allah) dan sebagai rahmat (belas kasih). Ya Allah! bimbinglah kaumku, sungguh mereka tidak tahu."
Berhenti sejenak dan perhatikanlah, kesempurnaan kasih sayang baginda, derajat penuh kebajikan (kesempurnaan luar dalam), keunggulan budi pekerti, kemurahan hati, kesabaran mutlak dan sikap toleran baginda dalam perkataan tersebut. Baginda menghadapi mereka tidak dengan kemarahan namun dengan memaafkan, menunjukkan kasih sayang dan belas kasih terhadap mereka, lalu mendoakan mereka dengan sebuah permohonan. Baginda memulai dengan kata-kata "bimbinglah", kemudian memberi maaf ketidaktahuan mereka dengan berkata, "sungguh, mereka tidak tahu."
Pada kesempatan yang lain, ada seorang lelaki menuduh baginda tidak adil dan berucap, "Berlaku adillah, ini adalah suatu pembagian yang tidak menghendaki Wajah Allah (ridho Allah)!" Jelas sekali ini pernyataan bernada provokasi, namun baginda menarik perhatian lelaki tersebut dalam cara yang sopan, dengan menegur dan mengingatkan seraya berkata, "Siapa yang akan adil jika aku tidak adil? sungguh aku akan gagal dan rugi jika tidak berlaku adil." Salah satu sahabat sangat marah dengan tuduhan orang itu, dan hendak memukulnya, tetapi Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, segera mencegah dan menghentikannya.
Ghourots bin Harits dan yang lainnya sedang membahas penyergapan di Dzaatur Riqo', dimana mereka berencana untuk membunuh Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya. Ketika mereka lewat dan menemukan baginda, mereka mendapati baginda sedang duduk di bawah sebuah pohon. Baginda tidak mencegah mereka semakin mendekat. Ghourots berdiri didepan baginda, dengan pedang terhunus di tangan, Ghourots berkata, "Siapa yang akan melindungimu dariku!" Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, "Allah" lalu pedang terjatuh dari tangan Ghourots, kemudian Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengambilnya dan berkata, "Siapa yang akan melindungimu dariku?" Ghourots menjawab, "Hukumlah saya dengan cara yang baik", lalu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meninggalkannya dan telah memaafkannya. Ketika Ghouroth kembali ke sukunya, ia berseru, "Aku datang kepada kalian dari sisi manusia terbaik!"
Setelah penaklukan Khaibar, seorang wanita Yahudi meracuni daging yang telah ia siapkan untuk Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Daging tersebut kemudian berbicara kepada baginda dan memberitahu bahwa ada racun didalamnya. Wanita Yahudi itu akhirnya mengakui perbuatannya.