-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 48
Baginda memaafkan dan tidak menghukum wanita tersebut.
Seorang Yahudi yang pandai ilmu sihir bernama Labid bin A'som, telah didekati sesama orang Yahudi supaya meramu mantera yang mematikan guna membunuh Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Namun, para malaikat memberitahu baginda tindakannya tersebut, dan penyembuhan diturunkan kepada baginda. Setelah pulih dan kekuatan baginda telah kembali, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak menegur maupun menghukum Labid.
Abdullah bin Ubay termasuk di antara orang munafik Madinah, sepak terjangnya bersama orang munafik lainnya kerapkali merupakan pelanggaran yang serius, ditambah dengan hal-hal membahayakan yang mereka lakukan terhadap Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, namun baginda tidak mengambil tindakan menghadapi mereka. Bahkan ketika seorang Sahabat yang geram menyarankan, agar salah satu dari mereka hendaknya dihukum mati, baginda memandangnya seraya berkata, "Tidak, jangan sampai dikatakan bahwa Muhammad membunuh para Sahabatnya."
Sahabat Anas ingat suatu kejadian ketika beliau bepergian dengan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Baginda tengah mengenakan mantel tebal ketika seorang Badui menunggang naik dan menarik keras-keras jubah baginda hingga meninggalkan tanda di leher samping baginda. Si Badui berkata, "Wahai Muhammad, aku akan memuati dua untaku ini dengan harta Allah yang ada padamu, sungguh engkau tidak memuatkan untukku dari hartamu dan harta ayahmu." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, diam sejenak lalu berkata, "Ini adalah harta Allah dan aku hamba-Nya." Baginda melanjutkan, "dan dituntut daripadamu wahai Badui apa yang telah kau lakukan kepadaku." Badui berucap, "Tidak" lantas Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya "Kenapa tidak?" Badui menjawab, "Karena sungguh engkau tidak membalas perbuatan buruk dengan perbuatan buruk!" Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tertawa, kemudian menyuruh agar unta yang satu dimuati dengan gandum, sedang yang lainnya dengan kurma.
Bunda Siti Aisyah berkata, "Saya sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, membalas ketidakadilan yang ditimpakan kepada baginda, selagi itu bukan termasuk melanggar kehormatan hak-hak Allah. Tangan baginda tidak pernah memukul sesuatu kecuali selama Perang Suci dijalan Allah, dan baginda tidak pernah memukul seorang pembantu maupun seorang wanita."
Suatu hari seorang laki-laki dibawa ke hadapan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan baginda diberitahu, "Orang ini ingin membunuhmu!" Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepadanya, "Janganlah takut! sekiranya kamu menginginkan itu, kamu tidak dikuasakan atasku."
Sebelum masuk Islam, Zaid bin Su'nah adalah seorang Yahudi. Ia pergi ke Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan menuntut pengembalian hutang. Zaid merenggut pakaian baginda dan menariknya dari bahu baginda, lalu menggeledah seluruh pakaian baginda serta berperilaku kasar kepada baginda, sambil mengatakan, "Wahai anak-anak Abdul Mutholib, kalian mengulur-ulur waktu!" Maka Umar bangkit dan mengusirnya sambil berbicara secara keras kepada Zaid. Baginda tersenyum dan berkata, "Wahai Umar, bukan sikap ini yang aku dan dia perlukan baik darimu. Suruhlah aku bagus dalam membayar dan suruhlah ia bagus dalam menagih." Kemudian baginda berkata, "Sisa hutangku kepadanya masih ada tiga." Dengan patuh dan hormat, Umar menyuruh bahwa Zaid hendaknya dilunasi dan ditambahkan kepadanya dua puluh takaran lebih disebabkan apa yang (kau lakukan tadi) telah menakutkannya. Karena inilah, Zaid lantas masuk Islam dan berkata, "Di antara tanda-tanda kenabian baginda, ada dua yang belum kulihat didalam diri baginda, yaitu bersikap
Seorang Yahudi yang pandai ilmu sihir bernama Labid bin A'som, telah didekati sesama orang Yahudi supaya meramu mantera yang mematikan guna membunuh Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Namun, para malaikat memberitahu baginda tindakannya tersebut, dan penyembuhan diturunkan kepada baginda. Setelah pulih dan kekuatan baginda telah kembali, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak menegur maupun menghukum Labid.
Abdullah bin Ubay termasuk di antara orang munafik Madinah, sepak terjangnya bersama orang munafik lainnya kerapkali merupakan pelanggaran yang serius, ditambah dengan hal-hal membahayakan yang mereka lakukan terhadap Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, namun baginda tidak mengambil tindakan menghadapi mereka. Bahkan ketika seorang Sahabat yang geram menyarankan, agar salah satu dari mereka hendaknya dihukum mati, baginda memandangnya seraya berkata, "Tidak, jangan sampai dikatakan bahwa Muhammad membunuh para Sahabatnya."
Sahabat Anas ingat suatu kejadian ketika beliau bepergian dengan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Baginda tengah mengenakan mantel tebal ketika seorang Badui menunggang naik dan menarik keras-keras jubah baginda hingga meninggalkan tanda di leher samping baginda. Si Badui berkata, "Wahai Muhammad, aku akan memuati dua untaku ini dengan harta Allah yang ada padamu, sungguh engkau tidak memuatkan untukku dari hartamu dan harta ayahmu." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, diam sejenak lalu berkata, "Ini adalah harta Allah dan aku hamba-Nya." Baginda melanjutkan, "dan dituntut daripadamu wahai Badui apa yang telah kau lakukan kepadaku." Badui berucap, "Tidak" lantas Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya "Kenapa tidak?" Badui menjawab, "Karena sungguh engkau tidak membalas perbuatan buruk dengan perbuatan buruk!" Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tertawa, kemudian menyuruh agar unta yang satu dimuati dengan gandum, sedang yang lainnya dengan kurma.
Bunda Siti Aisyah berkata, "Saya sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, membalas ketidakadilan yang ditimpakan kepada baginda, selagi itu bukan termasuk melanggar kehormatan hak-hak Allah. Tangan baginda tidak pernah memukul sesuatu kecuali selama Perang Suci dijalan Allah, dan baginda tidak pernah memukul seorang pembantu maupun seorang wanita."
Suatu hari seorang laki-laki dibawa ke hadapan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan baginda diberitahu, "Orang ini ingin membunuhmu!" Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepadanya, "Janganlah takut! sekiranya kamu menginginkan itu, kamu tidak dikuasakan atasku."
Sebelum masuk Islam, Zaid bin Su'nah adalah seorang Yahudi. Ia pergi ke Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan menuntut pengembalian hutang. Zaid merenggut pakaian baginda dan menariknya dari bahu baginda, lalu menggeledah seluruh pakaian baginda serta berperilaku kasar kepada baginda, sambil mengatakan, "Wahai anak-anak Abdul Mutholib, kalian mengulur-ulur waktu!" Maka Umar bangkit dan mengusirnya sambil berbicara secara keras kepada Zaid. Baginda tersenyum dan berkata, "Wahai Umar, bukan sikap ini yang aku dan dia perlukan baik darimu. Suruhlah aku bagus dalam membayar dan suruhlah ia bagus dalam menagih." Kemudian baginda berkata, "Sisa hutangku kepadanya masih ada tiga." Dengan patuh dan hormat, Umar menyuruh bahwa Zaid hendaknya dilunasi dan ditambahkan kepadanya dua puluh takaran lebih disebabkan apa yang (kau lakukan tadi) telah menakutkannya. Karena inilah, Zaid lantas masuk Islam dan berkata, "Di antara tanda-tanda kenabian baginda, ada dua yang belum kulihat didalam diri baginda, yaitu bersikap