-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 49
santun ketika bertemu seseorang yang berwatak keras dan sikap bodoh (jahil) yang ditujukan kepada baginda malah lebih meningkatkan kesantunan baginda. Saya telah menguji baginda dalam dua hal tersebut, dan menemukan keduanya terdapat didalam diri baginda sebagaimana telah disifatkan didalam Kitab Taurat."
Uraian diatas hanyalah sebagian contoh dari sekian banyak perkataan kenabian yang menggambarkan sifat baginda yang toleran, sabar dan pemaaf. Bila ingin mempelajari lebih lanjut nilai-nilai mulia ini, bisa ditemukan didalam berbagai referensi yang mengupas perkataan kenabian (hadis) sahih beserta rantai perawinya (sanad). Semua menceritakan betapa dengan penuh kesabaran baginda menangani kekerasan, kesulitan dan cedera yang ditimpakan kepada baginda oleh orang-orang Quraisy, dalam masa yang dikenal sebagai "Zaman Jahiliyyah (Kebodohan)", dan kemudian Allah memberi baginda kekuasaan atas mereka, dengan membuat baginda meraih kemenangan.
Orang-orang Quraisy tetap keras kepala, meskipun menyadari mereka tidak akan menang, dan pemimpin mereka pun telah tiada. Namun Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, terus menerus memaafkan, dan mengabaikan tindakan jahat mereka. Baginda bertanya kepada mereka, "Apa yang kalian katakan tentang yang akan aku lakukan terhadap kalian sekarang?" Mereka menjawab, "Engkau baik hati, saudara yang mulia, dan sepupu yang mulia." Kemudian baginda berkata seraya mengutip ucapan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya yang berbuat salah. ""Tidak ada celaan atas kalian hari ini." (Yusuf,12,92) Pergilah, kalian bebas."
Sahabat Anas bertutur, "Pada saat sholat Subuh, delapan orang dari Tan’im ias g berniat membunuh Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya. Mereka telah tertangkap tetapi Rasulullah membebaskan mereka. Allah menurunkan ayat, “dan Dia yang menahan tangan-tangan mereka darimu ….” (Al-Fath,48:24).
Abu Sufyan dan teman-temannya bertanggung jawab atas terbunuhnya Hamzah, paman Nabi, serta sejumlah banyak para Sahabat Nabi. Namun baginda memaafkannya. Kelembutan baginda tampak dalam kata-kata baginda ini,
“Wahai Abu Sufyan! Bukankah tiba waktunya bagimu mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?” Abu Sufyan menjawab, “Demi ayahku, engkau, dan ibuku! Betapa toleran engkau, betapa engkau memelihara ikatan kekerabatan, betapa mulianya engkau!”
Uraian diatas hanyalah sebagian contoh dari sekian banyak perkataan kenabian yang menggambarkan sifat baginda yang toleran, sabar dan pemaaf. Bila ingin mempelajari lebih lanjut nilai-nilai mulia ini, bisa ditemukan didalam berbagai referensi yang mengupas perkataan kenabian (hadis) sahih beserta rantai perawinya (sanad). Semua menceritakan betapa dengan penuh kesabaran baginda menangani kekerasan, kesulitan dan cedera yang ditimpakan kepada baginda oleh orang-orang Quraisy, dalam masa yang dikenal sebagai "Zaman Jahiliyyah (Kebodohan)", dan kemudian Allah memberi baginda kekuasaan atas mereka, dengan membuat baginda meraih kemenangan.
Orang-orang Quraisy tetap keras kepala, meskipun menyadari mereka tidak akan menang, dan pemimpin mereka pun telah tiada. Namun Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, terus menerus memaafkan, dan mengabaikan tindakan jahat mereka. Baginda bertanya kepada mereka, "Apa yang kalian katakan tentang yang akan aku lakukan terhadap kalian sekarang?" Mereka menjawab, "Engkau baik hati, saudara yang mulia, dan sepupu yang mulia." Kemudian baginda berkata seraya mengutip ucapan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya yang berbuat salah. ""Tidak ada celaan atas kalian hari ini." (Yusuf,12,92) Pergilah, kalian bebas."
Sahabat Anas bertutur, "Pada saat sholat Subuh, delapan orang dari Tan’im ias g berniat membunuh Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya. Mereka telah tertangkap tetapi Rasulullah membebaskan mereka. Allah menurunkan ayat, “dan Dia yang menahan tangan-tangan mereka darimu ….” (Al-Fath,48:24).
Abu Sufyan dan teman-temannya bertanggung jawab atas terbunuhnya Hamzah, paman Nabi, serta sejumlah banyak para Sahabat Nabi. Namun baginda memaafkannya. Kelembutan baginda tampak dalam kata-kata baginda ini,
“Wahai Abu Sufyan! Bukankah tiba waktunya bagimu mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?” Abu Sufyan menjawab, “Demi ayahku, engkau, dan ibuku! Betapa toleran engkau, betapa engkau memelihara ikatan kekerabatan, betapa mulianya engkau!”