-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 58
Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, berkata, “Ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menyebut-nyebut Khodijah, aku merasa tidak ada satupun wanita pun yang lebih beruntung daripada dia. Apabila baginda menyembelih seekor domba, baginda mengirimi teman-teman Khodijah dan ketika saudarinya minta izin untuk masuk, baginda senang bertemu dengannya. Suatu hari seorang wanita ias g kepada baginda, baginda sangat bersuka cita menyambutnya, dan bertanya yang baik-baik tentang Khodijah, dan saat wanita itu telah pergi, baginda berkata, ‘ia sering ias g kepada kami ketika Khodijah masih hidup. Memelihara janji (yakni persahabatan, atau berbuat baik kepada orang-orang yang disayangi orangtua ataupun keluarga kita yang lain) ialah bagian dari keimanan’.”
Baginda berkata, “Sungguh keluarga bani fulan, bagiku mereka bukanlah orang-orang yang menolong, melainkan bahwasanya ada pertalian keluarga dengan mereka, jadi aku memeliharanya dengan bersilaturrahmi.”
Salah satu ias g baginda yang bernama Siti Zainab, mempunyai anak perempuan bernama Umamah. Baginda biasa memanggul Umamah diatas pundaknya. Pada saat bersujud baginda meletakkannya dan ketika berdiri baginda memanggulnya lagi.
Amr bin Sa’ib berkata, “Suatu hari, ketika Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sedang duduk, ayah susu baginda ias g kepada baginda, lalu untuk dia baginda membeber sebagian pakaiannya, dan dia pun duduk diatasnya. Setelah itu, ibu susu baginda ias g, kemudian untuknya baginda membeber sisa sebagian pakaiannya disisi samping yang lain, jadi wanita tersebut duduk diatasnya. Sesudah itu, ias g saudara susu baginda, maka Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdiri lalu mempersilahkannya duduk didepan baginda.”
Setelah Malaikat Jibril membawakan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, Wahyu pertama, baginda terguncang dan kembali kepada istrinya Siti Khodijah, semoga Allah meridhainya, yang segera menghibur baginda, dan ias g kesaksian untuk keluhuran budi pekerti baginda seraya berkata, “Berbahagialah! Demi Allah! Allah tidak akan membuatmu bersedih selamanya, sungguh engkau memelihara tali silaturahmi, meringankan beban orang yang butuh, membantu para fakir miskin, menjamu tamu, dan menolong orang untuk mendapatkan hak mereka.” (diriwayatkan didalam Sahih Muslim)
Kerendahan hati Nabi Muhammad
Pujian dan kesejahteraan atasnya
Meski Allah telah mengangkat baginda pada kedudukan dan derajat tertinggi, baginda tetap sangat rendah hati; sedikitpun tidak ada kebanggaan yang tampak didalam diri baginda. Buktinya adalah ketika ditawari pilihan antara menjadi seorang nabi dan raja, atau menjadi seorang nabi dan hamba, baginda memilih pilihan yang terakhir.
Kerendahan hati baginda semakin terlihat ketika bapak Umamah memberitahu, “Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, keluar dari kami dengan bertumpu pada sebuah tongkat, maka kami berdiri untuknya, tetapi baginda berkata, “Janganlah kalian berdiri sebagaimana orang-orang Persia dan Romawi berdiri karena mengagungkan sebagian mereka pada sebagian yang lain.”
Tentang dirinya, baginda berkata, “Aku seorang hamba. Aku makan sebagaimana seorang hamba makan, dan aku duduk sebagaimana seorang hamba duduk.”
Baginda tidak pernah merasa gengsi untuk mengunjungi para fakir miskin dan duduk bersama-sama mereka, dan tidak pernah enggan menerima ajakan seorang pembantu. Ketika tengah mengendarai keledai, baginda selalu siap sedia untuk berbagi tunggangan dengan orang lain, dan membonceng di belakang baginda. Baginda duduk dengan para Sahabatnya, berbaur dengan mereka, dan tidak pernah memilih-milih tempat dimana baginda duduk.
Umar memberitahu bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Janganlah memuji berlebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani memuji berlebihan putra Maryam.
Baginda berkata, “Sungguh keluarga bani fulan, bagiku mereka bukanlah orang-orang yang menolong, melainkan bahwasanya ada pertalian keluarga dengan mereka, jadi aku memeliharanya dengan bersilaturrahmi.”
Salah satu ias g baginda yang bernama Siti Zainab, mempunyai anak perempuan bernama Umamah. Baginda biasa memanggul Umamah diatas pundaknya. Pada saat bersujud baginda meletakkannya dan ketika berdiri baginda memanggulnya lagi.
Amr bin Sa’ib berkata, “Suatu hari, ketika Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sedang duduk, ayah susu baginda ias g kepada baginda, lalu untuk dia baginda membeber sebagian pakaiannya, dan dia pun duduk diatasnya. Setelah itu, ibu susu baginda ias g, kemudian untuknya baginda membeber sisa sebagian pakaiannya disisi samping yang lain, jadi wanita tersebut duduk diatasnya. Sesudah itu, ias g saudara susu baginda, maka Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdiri lalu mempersilahkannya duduk didepan baginda.”
Setelah Malaikat Jibril membawakan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, Wahyu pertama, baginda terguncang dan kembali kepada istrinya Siti Khodijah, semoga Allah meridhainya, yang segera menghibur baginda, dan ias g kesaksian untuk keluhuran budi pekerti baginda seraya berkata, “Berbahagialah! Demi Allah! Allah tidak akan membuatmu bersedih selamanya, sungguh engkau memelihara tali silaturahmi, meringankan beban orang yang butuh, membantu para fakir miskin, menjamu tamu, dan menolong orang untuk mendapatkan hak mereka.” (diriwayatkan didalam Sahih Muslim)
Kerendahan hati Nabi Muhammad
Pujian dan kesejahteraan atasnya
Meski Allah telah mengangkat baginda pada kedudukan dan derajat tertinggi, baginda tetap sangat rendah hati; sedikitpun tidak ada kebanggaan yang tampak didalam diri baginda. Buktinya adalah ketika ditawari pilihan antara menjadi seorang nabi dan raja, atau menjadi seorang nabi dan hamba, baginda memilih pilihan yang terakhir.
Kerendahan hati baginda semakin terlihat ketika bapak Umamah memberitahu, “Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, keluar dari kami dengan bertumpu pada sebuah tongkat, maka kami berdiri untuknya, tetapi baginda berkata, “Janganlah kalian berdiri sebagaimana orang-orang Persia dan Romawi berdiri karena mengagungkan sebagian mereka pada sebagian yang lain.”
Tentang dirinya, baginda berkata, “Aku seorang hamba. Aku makan sebagaimana seorang hamba makan, dan aku duduk sebagaimana seorang hamba duduk.”
Baginda tidak pernah merasa gengsi untuk mengunjungi para fakir miskin dan duduk bersama-sama mereka, dan tidak pernah enggan menerima ajakan seorang pembantu. Ketika tengah mengendarai keledai, baginda selalu siap sedia untuk berbagi tunggangan dengan orang lain, dan membonceng di belakang baginda. Baginda duduk dengan para Sahabatnya, berbaur dengan mereka, dan tidak pernah memilih-milih tempat dimana baginda duduk.
Umar memberitahu bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Janganlah memuji berlebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani memuji berlebihan putra Maryam.