-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 59
Sesungguhnya aku seorang penyembah, jadi kalian berkatalah, ‘penyembah Allah dan Utusan-Nya’.”
Baginda tidak pernah menghindari seseorang. Mengenai hal ini, Anas menceritakan kisah seorang wanita tidak waras, yang bertemu dengan baginda. Wanita itu berkata, “Aku butuh sesuatu darimu.” Baginda tidak berpaling darinya namun berkata, “Duduklah wahai ibu fulan di jalan kota mana saja yang anda kehendaki, aku akan duduk bersama anda sampai kebutuhan anda terpenuhi.” Anas meneruskan perkataannya bahwa baginda baru duduk setelah wanita itu duduk, dan tetap disana disana hingga wanita itu mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Lebih lanjut Sahabat Anas mengungkap bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak pernah merasa gengsi untuk mengendarai seekor keledai, dan menerima ajakan seorang hamba sahaya. Ketika terjadi konflik Quroizhoh, baginda sama sekali tidak merasa gengsi mengendarai seekor keledai dengan kekang yang terbuat dari serabut. Bahkan saat diundang untuk makan roti yang terbuat dari tepung gandum kasar dan mentega yang basi, baginda tidak pernah enggan dengan ajakan tersebut.
Sesudah Pembukaan kota Mekah, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, pergi haji mengendarai tunggangan dengan sebuah pelana ias yang dilapisi kain kumal, yang nilainya tidak lebih dari empat dirham. Kemudian baginda berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji mabrur yang tanpa rasa pamer maupun keinginan memperoleh reputasi.” Selama haji ini, baginda berkurban seratus unta, untuk ias g makan semua orang di Kota.
Pada Pembukaan kota Mekah, ketika baginda memasuki kota dengan barisan para pengikutnya, baginda tidak membuatnya terlihat seperti kejayaan besar, namun baginda mengendarai kedelainya dengan penuh kerendahan hati kepada Allah, dan baginda menundukkan kepala begitu rendah sampai ias g menyentuh pelana.
Di antara banyak tanda-tanda kerendahan hati baginda adalah bahwa baginda bersabda, “Janganlah kalian lebih mengutamakan aku diatas Yunus putra Matta, dan janganlah saling mengunggulkan diantara para nabi, dan janganlah lebih memilihku melebihi Musa……dan seandainya aku mendekam di penjara seperti Yusuf, aku akan menjawab panggilan (untuk keluar dari penjara).” Seseorang berkata kepada baginda, “Wahai makhluk terbaik!” baginda menjawab, “Itu adalah Nabi Ibrahim”
Bunda Siti Aisyah menuturkan bahwa baginda melakukan pekerjaan rumah tangga sebagaimana anggota keluarganya yang lain, membersihkan pakaiannya sendiri, memerah air susu kambingnya, menambal pakaiannya dan menjahit terompahnya.”
Baginda tidak pernah menghindari seseorang. Mengenai hal ini, Anas menceritakan kisah seorang wanita tidak waras, yang bertemu dengan baginda. Wanita itu berkata, “Aku butuh sesuatu darimu.” Baginda tidak berpaling darinya namun berkata, “Duduklah wahai ibu fulan di jalan kota mana saja yang anda kehendaki, aku akan duduk bersama anda sampai kebutuhan anda terpenuhi.” Anas meneruskan perkataannya bahwa baginda baru duduk setelah wanita itu duduk, dan tetap disana disana hingga wanita itu mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Lebih lanjut Sahabat Anas mengungkap bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak pernah merasa gengsi untuk mengendarai seekor keledai, dan menerima ajakan seorang hamba sahaya. Ketika terjadi konflik Quroizhoh, baginda sama sekali tidak merasa gengsi mengendarai seekor keledai dengan kekang yang terbuat dari serabut. Bahkan saat diundang untuk makan roti yang terbuat dari tepung gandum kasar dan mentega yang basi, baginda tidak pernah enggan dengan ajakan tersebut.
Sesudah Pembukaan kota Mekah, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, pergi haji mengendarai tunggangan dengan sebuah pelana ias yang dilapisi kain kumal, yang nilainya tidak lebih dari empat dirham. Kemudian baginda berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji mabrur yang tanpa rasa pamer maupun keinginan memperoleh reputasi.” Selama haji ini, baginda berkurban seratus unta, untuk ias g makan semua orang di Kota.
Pada Pembukaan kota Mekah, ketika baginda memasuki kota dengan barisan para pengikutnya, baginda tidak membuatnya terlihat seperti kejayaan besar, namun baginda mengendarai kedelainya dengan penuh kerendahan hati kepada Allah, dan baginda menundukkan kepala begitu rendah sampai ias g menyentuh pelana.
Di antara banyak tanda-tanda kerendahan hati baginda adalah bahwa baginda bersabda, “Janganlah kalian lebih mengutamakan aku diatas Yunus putra Matta, dan janganlah saling mengunggulkan diantara para nabi, dan janganlah lebih memilihku melebihi Musa……dan seandainya aku mendekam di penjara seperti Yusuf, aku akan menjawab panggilan (untuk keluar dari penjara).” Seseorang berkata kepada baginda, “Wahai makhluk terbaik!” baginda menjawab, “Itu adalah Nabi Ibrahim”
Bunda Siti Aisyah menuturkan bahwa baginda melakukan pekerjaan rumah tangga sebagaimana anggota keluarganya yang lain, membersihkan pakaiannya sendiri, memerah air susu kambingnya, menambal pakaiannya dan menjahit terompahnya.”