-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 60
Anas mengatakan bahwa wanita manapun yang melayani di rumah tangga baginda dapat memegang tangan baginda, dan mengajak baginda pergi kemanapun hingga baginda memuaskan keperluannya.
Seorang pria ias g kepada baginda dan ketika melihat baginda, ia mulai gemetaran disebabkan besarnya kewibawaan, lalu baginda segera menenangkannya dan berkata, “Tenanglah, aku bukan seorang raja, aku hanyalah anak lelaki seorang wanita dari suku Quraisy yang makan daging dendeng.”
Abu Hurairah meriwayatkan seraya berkata: “Aku dan baginda masuk ke pasar, lalu baginda membeli celana dan baginda berkata pada orang yang menimbang, “Timbang dan paskanlah.” Si penimbang segera meraih tangan baginda dan menciumnya, namun baginda menarik tangan baginda dan berkata, “Ini yang dilakukan orang selain Arab (Persia) dengan raja-raja mereka, dan aku bukan seorang raja, aku hanyalah seorang laki-laki diantaramu.” Ketika baginda mengambil celananya, aku menawarkan diri membawakan untuknya, tetapi baginda berkata, “Pemilik sesuatu lebih berhak untuk membawanya.”
Keadilan, amanah, kesopanan dan kejujuran Nabi Muhammad
Pujian dan kesejahteraan atasnya
Di tengah-tengah masyarakat, baginda telah dikenal sebagai manusia yang paling dapat dipercaya, paling adil, paling sopan dan paling jujur dari semua orang. Bahkan lawan dan musuh tidak menyangkal akhlak terpuji baginda ini. Sebelum diangkat menjadi nabi, semua orang memanggilnya “Al-Amin (yang dapat dipercaya)”. Ibnu Ishak menjelaskan baginda dipanggil “Al-Amin (yang dapat dipercaya)” sebab karunia Allah kepada baginda, yang mencurahkan semua akhlak terpuji didalam diri baginda.
Pada waktu renovasi Kabah, ketika tiba saatnya peletakan Hajar Aswad, terjadi perselisihan diantara suku-suku Quraisy. Masing-masing kepala suku Quraisy berharap mendapat kehormatan untuk meletakkan batu tersebut. Karena tak ada yang mengalah, maka pertengkaran tak dapat dielakkan, yang berlangsung terus menerus selama beberapa hari. Hingga akhirnya mereka bersepakat bahwa manusia pertama yang memasuki serambi Kabah, akan dijadikan sebagai Juri. Baginda adalah orang pertama yang masuk, serempak mereka pun berkata, “Inilah Muhammad yang dapat dipercaya. Kami rela dengannya.” Akhirnya sengketa diselesaikan dengan melegakan semua pihak.
Robi’ bin Khutsaim, memberitahu bahwa di zaman Jahiliyah sebelum adanya Islam, sewaktu ada perselisihan diantara dua pihak, Rasulullah dipanggil untuk memberikan keputusan dan semua orang menerima keputusannya.
Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Demi Allah, sungguh aku terpercaya di langit dan terpercaya dibumi.”
Bahkan Abu Jahal yang sangat membenci baginda, diketahui telah berucap kepada baginda, “Sungguh kami tidak mendustakanmu, akan tetapi kami mendustakan apa yang kamu bawa.” Setelah itu, Allah menurunkan ayat, “Maka sungguh mereka tidak mendustakanmu, akan tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am,6: 33)
Heraclius, Kaisar Romawi, menanyai Abu Sufyan, tentang kebenaran Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, seraya berkata, “Apakah kamu pernah mencurigainya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang telah dia ias g ?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak”
Dilaporkan didalam hadis bahwa baginda sama sekali tidak pernah menyentuh seorang wanita yang baginda tidak memiliki hak atasnya.
Sahabat Ali menggambarkan baginda seraya berkata, “Baginda adalah manusia yang paling jujur lisannya.”
Seseorang menghujat baginda tidak adil lalu baginda berkata kepadanya, “Semoga kamu dirahmati, siapakah yang akan adil jika aku tidak adil, aku gagal dan rugi jika tidak adil.”
Bunda SitiAisyah, Ibu orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, menegaskan setiap kali Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, diberi pilihan antara dua hal,
Seorang pria ias g kepada baginda dan ketika melihat baginda, ia mulai gemetaran disebabkan besarnya kewibawaan, lalu baginda segera menenangkannya dan berkata, “Tenanglah, aku bukan seorang raja, aku hanyalah anak lelaki seorang wanita dari suku Quraisy yang makan daging dendeng.”
Abu Hurairah meriwayatkan seraya berkata: “Aku dan baginda masuk ke pasar, lalu baginda membeli celana dan baginda berkata pada orang yang menimbang, “Timbang dan paskanlah.” Si penimbang segera meraih tangan baginda dan menciumnya, namun baginda menarik tangan baginda dan berkata, “Ini yang dilakukan orang selain Arab (Persia) dengan raja-raja mereka, dan aku bukan seorang raja, aku hanyalah seorang laki-laki diantaramu.” Ketika baginda mengambil celananya, aku menawarkan diri membawakan untuknya, tetapi baginda berkata, “Pemilik sesuatu lebih berhak untuk membawanya.”
Keadilan, amanah, kesopanan dan kejujuran Nabi Muhammad
Pujian dan kesejahteraan atasnya
Di tengah-tengah masyarakat, baginda telah dikenal sebagai manusia yang paling dapat dipercaya, paling adil, paling sopan dan paling jujur dari semua orang. Bahkan lawan dan musuh tidak menyangkal akhlak terpuji baginda ini. Sebelum diangkat menjadi nabi, semua orang memanggilnya “Al-Amin (yang dapat dipercaya)”. Ibnu Ishak menjelaskan baginda dipanggil “Al-Amin (yang dapat dipercaya)” sebab karunia Allah kepada baginda, yang mencurahkan semua akhlak terpuji didalam diri baginda.
Pada waktu renovasi Kabah, ketika tiba saatnya peletakan Hajar Aswad, terjadi perselisihan diantara suku-suku Quraisy. Masing-masing kepala suku Quraisy berharap mendapat kehormatan untuk meletakkan batu tersebut. Karena tak ada yang mengalah, maka pertengkaran tak dapat dielakkan, yang berlangsung terus menerus selama beberapa hari. Hingga akhirnya mereka bersepakat bahwa manusia pertama yang memasuki serambi Kabah, akan dijadikan sebagai Juri. Baginda adalah orang pertama yang masuk, serempak mereka pun berkata, “Inilah Muhammad yang dapat dipercaya. Kami rela dengannya.” Akhirnya sengketa diselesaikan dengan melegakan semua pihak.
Robi’ bin Khutsaim, memberitahu bahwa di zaman Jahiliyah sebelum adanya Islam, sewaktu ada perselisihan diantara dua pihak, Rasulullah dipanggil untuk memberikan keputusan dan semua orang menerima keputusannya.
Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Demi Allah, sungguh aku terpercaya di langit dan terpercaya dibumi.”
Bahkan Abu Jahal yang sangat membenci baginda, diketahui telah berucap kepada baginda, “Sungguh kami tidak mendustakanmu, akan tetapi kami mendustakan apa yang kamu bawa.” Setelah itu, Allah menurunkan ayat, “Maka sungguh mereka tidak mendustakanmu, akan tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am,6: 33)
Heraclius, Kaisar Romawi, menanyai Abu Sufyan, tentang kebenaran Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, seraya berkata, “Apakah kamu pernah mencurigainya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang telah dia ias g ?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak”
Dilaporkan didalam hadis bahwa baginda sama sekali tidak pernah menyentuh seorang wanita yang baginda tidak memiliki hak atasnya.
Sahabat Ali menggambarkan baginda seraya berkata, “Baginda adalah manusia yang paling jujur lisannya.”
Seseorang menghujat baginda tidak adil lalu baginda berkata kepadanya, “Semoga kamu dirahmati, siapakah yang akan adil jika aku tidak adil, aku gagal dan rugi jika tidak adil.”
Bunda SitiAisyah, Ibu orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, menegaskan setiap kali Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, diberi pilihan antara dua hal,