Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 98

Pendapat generasi pertama umat Islam (para Sahabat) bervariasi, apakah Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, melihat Sang Penguasa, ataukah tidak. Diantara yang menyangkal adalah Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, ketika ditanya oleh Masruuq, "Wahai Ibu orang-orang beriman, apakah Muhammad melihat Penguasanya?" Bunda Aisyah menjawab, "Berdiri rambutku pada apa yang kamu katakan. Ada tiga perkara, barangsiapa mengabarimu ketiganya maka benar-benar telah berdusta. Barangsiapa mengabarimu bahwa Muhammad melihat Penguasanya maka benar-benar telah berdusta. Kemudian bunda membaca ayat, 'Tidak ada mata yang dapat melihat-Nya," (Al-An'am,6:103)...dst."
Ibnu Mas'ud juga mengatakan hal yang serupa dengan Bunda Siti Aisyah.
Sedangkan Sahabat lainnya memiliki pendapat yang berbeda.
Ibnu Abbas, semoga Allah meridhainya, menyatakan, "Baginda melihat Dia dengan mata kepala baginda." Pendapat Ibnu Abbas ini sangat terkenal dikalangan para ulama'.
(Pernyataan Ibnu Abbas dan Siti Aisyah tidak saling bertentangan, namun masing-masing memandang penglihatan tersebut dari aspek yang berbeda).
Pendapat yang paling diterima adalah bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, secara nyata memang telah melihat sang Penguasa dengan mata kepala baginda (berarti dengan Mata Surga). Banyak sekali riwayat yang menyebutkan pernyataan Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas juga menarik perhatian kita dengan mengingatkan bahwa Allah mengistimewakan Nabi Musa, kesejahteraan atasnya, dengan pembicaraan (tanpa pendengaran maupun suara) dan Nabi Ibrahim, kesejahteraan atasnya, dengan Persahabatan dekat, sedangkan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, terpilih untuk dapat melihat-Nya.
Bukti yang mendukung pendapat tersebut adalah, "Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya; apakah kamu hendak membantah apa yang telah dilihatnya; Sungguh dia telah melihatnya. (nya bisa merujuk pada Allah, bisa pula pada malaikat Jibril) pada pendaratan yang lain." (An-Najm, 53:11-13)
Abdur Rozzaq memberitahu kalau Hasan Basri bersumpah atas nama Allah bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah melihat Penguasanya. Ketika Abu Hurairah ditanya, "Apakah Nabi Muhammad melihat Penguasanya?" Abu Hurairah menjawab, "Ya."
Hadis sahih terkait dengan baginda melihat Penguasanya sangat banyak. An-Naqqosh memberitahu bahwa Imam Ahmad bin Hambal berkata, "Arti pernyataan Ibnu Abbas adalah bahwa baginda telah melihat-Nya dengan kedua mata baginda." Imam Ahmad bin Hambal mengulangi kalimatnya berkali-kali sampai hampir kehabisan nafas.
Sa’iid bin Jubair berkata, "Saya tidak mengatakan baginda telah melihat-Nya dan saya tidak mengatakan baginda tidak melihat-Nya."

Ibnu Abbas, Ikrima, Hasan AlBasri, Ibnu Mas’ud berbeda dalam penafsiran mereka. Ibnu Abbas dan Ikrimah berkata, "Baginda telah melihat-Nya dengan hati baginda." Sementara Hasan Al-Basri dan Ibnu Mas’uud berkata, "Baginda telah melihat Jibril." Abdullah bin Ahmad mengatakan bahwa ayahnya mengatakan, "Baginda telah melihat-Nya."

Ibnu Atho’ menarik perhatian kita pada ayat, "Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu." (Al-Insyiroh,94:1), dan mengatakan ini berarti bahwa Allah melapangkan dada baginda dalam rangka untuk melihat-Nya dan Dia melapangkan dada Musa untuk Pembicaraan.

Abu Hasan Al-Ashori dan kawan-kawan beliau berkomentar bahwa baginda telah melihat Allah dengan mata fisik baginda, dan mereka berkata, "Setiap nabi diberi tanda. Nabi kami juga diberi tanda. Baginda dipilih dari mereka semua dengan keistimewaan bisa melihat-Nya." Seorang ilmuwan Islam merasa segan berkenaan hal tersebut dan berkata, "Tidak ada bukti yang jelas baginda telah melihat-Nya, namun hal itu bisa saja terjadi."

Dalam kehidupan ini, sangat mungkin bagi baginda untuk melihat Allah, ini