Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 97

bahwa Abu Bakar, khalifah pertama, segera menerima peristiwa nyata tersebut dan tidak pernah menafsirkan sebaliknya.
Kata berbahasa Arab "ru'yah" bermakna: melihat secara nyata, dan bukan sebuah mimpi.
Di permulaan surah Al-Isro’ (Perjalanan Malam), Allah telah berfirman, "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam." (Al Isro, 17:1) ayat ini telah menyangkal pendapat orang yang menganggap Isro’ Mi’roj sebagai mimpi, karena tak seorangpun akan mengatakan bahwa orang yang tidur dapat melakukan suatu perjalanan malam.
Sebagai kesimpulan, jika Isro’ Mi’roj terjadi didalam mimpi, orang-orang kafir tidak akan pernah menyanggahnya. Orang yang menganggap Isro’ Mi’roj terjadi didalam mimpi berarti mereka telah menggugurkan Prinsip Pokok Keislaman seperti kewajiban solat; pertemuan baginda dengan para nabi mulia yang sekaligus menjadi imam solat mereka; Malaikat Jibril yang datang dan membawa baginda naik menggunakan Buroq, yang juga dipakai oleh para nabi sebelumnya, dsb.
Apakah Nabi Muhammad telah melihat Sang Penguasa?
(Syekh Darwish menambahkan: Pernyataan Ibnu Abbas mengacu pada status Nabi yang dijamin masuk Surga dan juga telah memasuki Surga pada saat Isro' Mi'roj. Jadi, Nabi melihat-Nya dengan mata Surga seperti halnya ketika kelak di Kehidupan Abadi (akhirat) mereka yang masuk Surga akan melihat-Nya. Bunda Siti Aisyah, di sisi lain, mengambil sumber acuan yang sebaliknya. Nabi tidak melihat-Nya, karena tidak ada penampakan fisik seperti halnya orang-orang kafir Mekah melihat patung mereka, dan karena Allah tidak bertempat.
Allah berfirman, "maka diwahyukan kepada penyembah-Nya apa yang diwahyukan". Allah mewahyukan kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, Kehebatan Kerajaan Gaib-Nya di mana baginda telah melihat dan menyaksikan kebesaran alam malaikat yang tidak dapat diungkapkan dalam kata-kata dan tidak mungkin bagi akal manusia untuk bertahan melihat atau mendengarnya, bahkan dalam atom terkecil sekalipun.
Hendaknya disadari bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, diberi kekuatan yang jauh melebihi kita. Misalnya baginda diberi kekuatan dan daya untuk menerima intensitas Wahyu, menyaksikan zikirnya para malaikat, Perjalanan Malam dari Mekah ke Yerusalem ketika baginda diangkut oleh Buroq dengan kecepatan cahaya dan sesudah itu baginda naik sampai ke langit hingga batas terjauh.
Mengenai kebutuhan sehari-hari, baginda memberitahu para Sahabatnya bahwa Allah telah memberinya makan dan minum, dan walaupun matanya tidur hatinya selalu terjaga, kesemuanya itu diluar jangkauan kita. Keberkatan luar biasa dari Allah ini berada jauh diluar jangkauan daya pemahaman kita, dan jika coba-coba memahaminya maka akal pikiran akan menjadi lumpuh. Fakta ini penting dipahami sebelum melangkah maju ke hadis riwayat bunda Siti Aisyah dan Ibnu Abbas sehubungan dengan melihat Penguasanya).