-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 96
Allah berfirman: "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) sampai Masjidil Aqso (Yerusalem) yang Kami telah memberkati sekelilingnya untuk memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isro',17:1)
Didalam ayat diatas terdapat kata "Hambahnya" (yakni jiwa dan raga). Andaikan (kata tersebut adalah) "ruh hambanya" berarti baginda dalam keadaan tidur. Maka menjadi jelas dan nyata bahwa baginda melakukan Perjalanan Malam dengan jiwa raga baginda serta dalam keadaan terjaga.
Bukti lainnya adalah Firman Allah dalam surah An-Najm (53) ayat 17, "Pandangannya tidak membelok dan tidak melampaui." Pandangan merupakan bagian dari tubuh manusia, bukan bagian dari jiwa.
Mengenai hal-hal tertentu yang ditanyakan kepada baginda, Abu Hurairah memberitahu bahwa baginda bersabda, "Orang-orang Quraisy menanyaiku tentang Perjalananku. Mereka menanyakan kepadaku perkara-perkara yang tidak kuingat, sehingga kesusahan menyelimutiku aku sama sekali tidak pernah sesusah itu, kemudian Allah mengangkatnya dihadapanku, jadi aku pun melihatnya." (maka baginda bisa menjawab pertanyaan mereka)."
Bantahan bagi yang mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj hanya sebuah mimpi
(Sisipan Syeikh Darwish: Ada beberapa orang yang hidup berabad-abad setelah terjadinya Isro' Mi'roj, mengatakan bahwa peristiwa Isro' Mi'roj hanyalah mimpi. Untuk mendukung pendapatnya, mereka mengutip ayat, "Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai fitnah bagi manusia." (Al-Isro',17:60). Oleh karena itu, mereka menyebut Perjalanan Malam dan Pendakian (Isro' Mi'roj) sebagai sebuah mimpi, namun ayat pertama surah Al-Isro' telah menggugurkan pendapat mereka, sebab Allah berfirman, "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) sampai Masjidil Aqso (Yerusalem) yang Kami telah memberkati sekelilingnya untuk memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isro',17:1) Dari ayat ini maka tak seorangpun dapat mengucap bahwa Perjalanan Malam terjadi ketika baginda sedang tidur. Dan lagi, kata "fitnah" didalam surah Al Isro' ayat 60 juga membuktikan, apa yang dilihat oleh baginda akan menjadi fitnah (ujian) bagi manusia, sedang penglihatan mata dalam sebuah mimpi tidak akan menjadi fitnah. Tak ada seorang pun akan menyangkal sebuah mimpi tak peduli betapapun jauhnya suatu perjalanan!)
Allah berfirman, "Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai fitnah bagi manusia." (Al-Isro',17:60)
Tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan keputusan yang diambil oleh Nabi Muhammad (setelah baginda bermimpi pergi ke Mekah) di suatu tempat bernama Hudaibiyah, dan berkaitan dengan kekecewaan kaum Muslimin yang dihalangi orang-orang Quraisy untuk menjalankan haji.
Orang-orang yang mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di alam mimpi, telah mengutip ayat diatas untuk mendukung pendapat mereka (padahal ayat diatas terkait dengan peristiwa Hudaibiyah, dan tidak berhubungan dengan Isro’ Mi’roj) dan mereka memilih untuk mengabaikan ayat pertama surah yang sama, yang secara jelas berbicara tentang Perjalanan Malam.
Allah Berfirman, "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) sampai Masjidil Aqso (Yerusalem) yang Kami telah memberkati sekelilingnya untuk memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isro',17:1)
Para pembantah yang mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj tidak terjadi secara nyata melainkan hanya mimpi, juga mengabaikan fakta
Didalam ayat diatas terdapat kata "Hambahnya" (yakni jiwa dan raga). Andaikan (kata tersebut adalah) "ruh hambanya" berarti baginda dalam keadaan tidur. Maka menjadi jelas dan nyata bahwa baginda melakukan Perjalanan Malam dengan jiwa raga baginda serta dalam keadaan terjaga.
Bukti lainnya adalah Firman Allah dalam surah An-Najm (53) ayat 17, "Pandangannya tidak membelok dan tidak melampaui." Pandangan merupakan bagian dari tubuh manusia, bukan bagian dari jiwa.
Mengenai hal-hal tertentu yang ditanyakan kepada baginda, Abu Hurairah memberitahu bahwa baginda bersabda, "Orang-orang Quraisy menanyaiku tentang Perjalananku. Mereka menanyakan kepadaku perkara-perkara yang tidak kuingat, sehingga kesusahan menyelimutiku aku sama sekali tidak pernah sesusah itu, kemudian Allah mengangkatnya dihadapanku, jadi aku pun melihatnya." (maka baginda bisa menjawab pertanyaan mereka)."
Bantahan bagi yang mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj hanya sebuah mimpi
(Sisipan Syeikh Darwish: Ada beberapa orang yang hidup berabad-abad setelah terjadinya Isro' Mi'roj, mengatakan bahwa peristiwa Isro' Mi'roj hanyalah mimpi. Untuk mendukung pendapatnya, mereka mengutip ayat, "Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai fitnah bagi manusia." (Al-Isro',17:60). Oleh karena itu, mereka menyebut Perjalanan Malam dan Pendakian (Isro' Mi'roj) sebagai sebuah mimpi, namun ayat pertama surah Al-Isro' telah menggugurkan pendapat mereka, sebab Allah berfirman, "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) sampai Masjidil Aqso (Yerusalem) yang Kami telah memberkati sekelilingnya untuk memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isro',17:1) Dari ayat ini maka tak seorangpun dapat mengucap bahwa Perjalanan Malam terjadi ketika baginda sedang tidur. Dan lagi, kata "fitnah" didalam surah Al Isro' ayat 60 juga membuktikan, apa yang dilihat oleh baginda akan menjadi fitnah (ujian) bagi manusia, sedang penglihatan mata dalam sebuah mimpi tidak akan menjadi fitnah. Tak ada seorang pun akan menyangkal sebuah mimpi tak peduli betapapun jauhnya suatu perjalanan!)
Allah berfirman, "Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai fitnah bagi manusia." (Al-Isro',17:60)
Tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan keputusan yang diambil oleh Nabi Muhammad (setelah baginda bermimpi pergi ke Mekah) di suatu tempat bernama Hudaibiyah, dan berkaitan dengan kekecewaan kaum Muslimin yang dihalangi orang-orang Quraisy untuk menjalankan haji.
Orang-orang yang mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di alam mimpi, telah mengutip ayat diatas untuk mendukung pendapat mereka (padahal ayat diatas terkait dengan peristiwa Hudaibiyah, dan tidak berhubungan dengan Isro’ Mi’roj) dan mereka memilih untuk mengabaikan ayat pertama surah yang sama, yang secara jelas berbicara tentang Perjalanan Malam.
Allah Berfirman, "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) sampai Masjidil Aqso (Yerusalem) yang Kami telah memberkati sekelilingnya untuk memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isro',17:1)
Para pembantah yang mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj tidak terjadi secara nyata melainkan hanya mimpi, juga mengabaikan fakta