Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 100

Bukti pendukung bahwa baginda sangat mungkin melihat Allah, bisa diingat pada peristiwa Nabi Musa yang pernah meminta untuk melihat-Nya. Mustahil seorang nabi tidak tahu apa yang jaiz (boleh / wenang) untuk Allah, dan apa yang jaiz untuk dirinya. Nabi Musa tentunya hanya akan meminta sesuatu yang diperbolehkan, bukan sesuatu yang mustahil. Faktanya, perihal melihat Allah dan perihal nabi Musa menyaksikan Allah dianggap sebagai perkara gaib, dan tak seorang pun kecuali seseorang yang diajarkan oleh Allah memiliki pengetahuan semacam itu.
Allah memberitahu nabi Musa, "Kamu tidak akan melihat-Ku, akan tetapi lihatlah kepada gunung, jika tetap kokoh ditempatnya, maka kamu akan melihat-Ku." (Al-A'rof,7:143). Ini berarti Nabi Musa tidak akan sanggup melihat Allah. Lalu dibuatlah perumpamaan bagi beliau dengan menjadikan gunung yang secara fisik jauh lebih kokoh dan lebih kuat daripada nabi Musa, menjadi hancur lebur dan rata dengan tanah.
Mengenai ayat, "Tidak ada pandangan yang dapat mencapai-Nya." (Al-An'am,6:103)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa (secara fisik) pandangan tidak akan mencapai-Nya.
Tidak ada ayat yang menyatakan mustahil bisa melihat-Nya. Meski ada beberapa penafsiran yang berbeda-beda tetap tidak mengungkap bahwa melihat Allah adalah hal yang mustahil.
Tidak peduli pendapat mana yang anda baca, hendaknya dimengerti, seperti semua Sahabat baginda, mereka tidak pernah mengkira-kirakan ukuran Allah. Para Sahabat tidak pernah mengatakan bahwa Allah mempunyai ukuran fisik, dimensi, lokasi, maupun berada pada suatu tempat dan waktu.
Kesimpulannya, tidak ada alasan bahwa tidak mungkin Nabi Muhammad melihat Allah dalam kehidupan ini, dan lagi tidak ada dalil yang membuktikan dan menyangkal hal itu terjadi pada baginda. Jadi yang terbaik adalah pasrah kepada Allah semata yang Maha Mengetahui segala sesuatu di dunia dan di akhirat.
Percakapan Nabi Muhammad dengan Allah Yang Maha Tinggi
Bahan rujukan untuk peristiwa menakjubkan sewaktu Isro’Mi’roj, tampak dalam ayat, "Maka (Allah) mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan." (An-Najm,53:10). Sebagian besar pakar keislaman mengatakan bahwa Allah mewahyukan kepada Malaikat Jibril. Dari Malaikat Jibril kemudian sampai kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.
Diperbolehkan untuk mengatakan bahwa Allah telah berbicara kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya (tanpa perantaraan malaikat Jibril), karena dalam hukum Islam tidak ada yang secara pasti tidak memperkenankan hal tersebut terjadi kepada baginda maupun kepada para nabi terpilih lainnya. Jika ada hadis sahih yang tidak memperkenankan terjadinya pembicaraan tersebut, tentu akan dijadikan sebagai sandaran dan bahan rujukan.
Terdapat fakta bahwa Allah telah berbicara kepada Musa. Buktinya secara jelas ada didalam ayat yang berbunyi, "Dan Allah telah berbicara pada Musa dengan Pembicaraan." (An-Nisa', 4:164).
Allah mengangkat posisi Musa ke langit keenam, dengan sebab Pembicaraan dari Allah tersebut. Adapun Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, Allah mengangkat baginda melebihi posisi itu, hingga mencapai suatu tingkatan dimana baginda bisa mendengar Goresan Pena. Karenanya, bagaimana bisa seseorang menyatakan berbicara dengan Allah adalah hal yang mustahil, maupun menyatakan bahwa baginda tidak mungkin bisa mendengar Firman Allah? Maha Suci Dia yang mengkhususkan siapapun yang Dia pilih untuk apapun yang Dia kehendaki, dan mengangkat beberapa nabi diatas nabi yang lainnya!
Telah dekat dan kedekatan Nabi Muhammad
Pujian dan kesejahteraan atasnya

Ada beberapa penjelasan untuk berbagai riwayat dan kutipan kenabian terkait