Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 102

Berkenaan dengan kata-kata Nabi, "Penguasa kami turun ke langit dunia" maka harus ditafsiri untuk bisa memahami perkataan tersebut. Salah satu pendapat mengatakan maknanya adalah penganugerahan karunia, keindahan, penerimaan dan kemurahan... dan demikian pula pada ayat yang berbunyi,
Pada bagian ayat yang berbunyi, "Maka adalah (jaraknya) seperti jarak dua ujung busur panah atau lebih dekat." Kesepakatan ulama adalah hal itu merujuk pada Malaikat Jibril, berarti secara lahiriah Nabi dekat pada Malaikat Jibril.
(Sisipan Syeikh Darwish: Lebih sedikit para ulama yang mengatakan kalau ayat tersebut merujuk kepada Allah, bagaimanapun, penafsiran mereka didasarkan pada pemahaman akan hadis Qudsi dimana Allah berfirman, "Barangsiapa datang mendekat kepada-Ku sejengkal, aku datang mendekat kepadanya sehasta." Ini berarti para ulama meniadakan jarak dan arah secara fisik dengan membuat contoh tersebut.)
Pada uraian sebelumnya, hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas mempunyai makna bahwa Nabi telah melihat Allah dengan mata Surga.
Adapun para Sahabat, mereka meyakini pernyataan Allah bahwa Dia tidak seperti makhluk manapun yang telah diciptakan-Nya. Tidak terlintas sedikitpun dibenak mereka bahwa Dia memiliki bagian tubuh yang dapat diperbandingkan dengan manusia. Mereka juga tidak berusaha menafsirkan Hadis Qudsi-Nya karena penjabaran tentang-Nya diluar jangkauan setiap manusia. Satu-satunya kesamaan hanyalah dalam pengucapan kata-kata saja bukan dalam artinya.
Di abad-abad selanjutnya, ketika para ulama berhadapan dengan peradaban yang berbeda di mana terdapat dewa-dewa yang lekat pada dimensi, waktu, lokasi dan sifat keduniawian lainnya, para ulama Muslim tidak goyah dalam keyakinan mereka bahwa tidak ada yang seperti Allah, juga tidak memperinci secara detail, tapi ketika situasi perlu untuk ditangani, mereka secara ringkas mengelakkan perkara-perkara semacam itu sebagai Sifat-sifat-Nya seperti Kekuasaan, Rahmat, Kebaikan dan sebagainya
Tidak ada kontradiksi dalam dua pernyataan antara Siti Aisyah dan Ibnu Abbas. Siti Aisyah mengacu pada fakta bahwa Nabi tidak melihat Allah di sebuah tempat dan arah, sedangkan Ibnu Abbas merujuk fakta bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, melihat-Nya melalui Mata Surga
Sebagai kesimpulan, ada dua mazhab (lembaga pemikiran), satu generasi awal yang membacanya dan memasrahkan maknanya kepada Allah, tidak mentakwilkannya serta tidak mempertanyakannya. Sedang generasi berikutnya menafsirkan sesuai dengan kemurnian Al Quran dan Hadis dalam rangka menyebarkan Islam diantara mereka yang belum mendengar ajaran Islam.


SAHIH SHIFA
KESEMBUHAN

Seri ke-9

SYAFAAT NABI MUHAMMAD
PUJIAN DAN KESEJAHTERAAN ATASNYA