Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 108

Abu Bakr bin Furok mendefinisikan "khulla" seraya berkata: Cinta suci menjamin orang yang dicintai diberi rahasia-rahasia istimewa.
Juga dikatakan bahwa asal kata "khulla" adalah kecintaan, penggabungan kebaikan, bantuan, peninggian pangkat, dan perantaraan (syafaat). Hal ini ditemukan didalam ayat yang berbunyi, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, 'Kami adalah anak-anak Allah dan para pencinta-Nya' Katakanlah (Muhammad), 'Mengapa kemudian Dia menghukum kamu untuk dosa-dosamu?" (Al-Maidah,5:18). Tak dapat dibayangkan kalau orang yang dicintai, hendak dihukum untuk dosa-dosanya!
(Sisipan Syeikh Darwish: Pangkat Kenabian memiliki perspektif antara orang-orang dan nabi, sedangkan persahabatan memiliki perspektif antara Allah dan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sehingga menjadi sangat istimewa)
"Khulla" lebih kuat daripada hubungan ayah-anak, karena terkadang ada permusuhan dalam hubungan ayah-anak, sebagaimana firman Allah, "Diantara istri-istrimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka." (At-Tagobun,64:14). Jadi, permusuhan tidak dapat dikaitkan dengan "khulla".
Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atas mereka, mendapat gelar "khulla (teman dekat)" disebabkan pengabdian mereka kepada Allah yang tak pernah surut sedikitpun, dan karena mereka hanya menggantungkan segala kebutuhan kepada Allah semata, serta memutuskan diri dari mengandalkan orang lain. Juga karena Allah telah menganugerahkan kepada mereka kebaikan agung yang tersembunyi dan pengetahuan rahasia Ilahi serta urusan gaib dan keimanan, yang tertanam didalam batin mereka, sehingga mereka meninggalkan segala jalan dan sebab selain Allah.
Hati mereka telah dimurnikan dari segala sesuatu selain Dia, sehingga cinta untuk hal lainnya tercegah dari mereka. Karena itulah, sebagian ulama berkata, "Kholil adalah orang yang hatinya tidak memiliki ruang untuk selain Allah." Ulama yang sama berpendapat bahwa inilah yang dimaksud Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, ketika bersabda, "Dan seandainya aku mengambil teman dekat, sungguh aku akan mengambil Abu Bakar sebagai teman dekat, namun ia adalah saudara dalam Islam."
Para ulama berbeda pendapat mengenai tingkatan hati: manakah yang lebih tinggi, derajat teman dekat atau derajat kecintaan? Disisi lain, ada yang menganggap kedua derajat tersebut adalah setara, dan mengatakan bahwa kekasih adalah teman dekat, dan teman dekat adalah kekasih. Nabi Ibrahim telah mendapat anugerah derajat "teman dekat", sedangkan Nabi Muhammad mendapatkan derajat "kekasih".
Untuk mendukung pendapat bahwa derajat teman dekat lebih tinggi, seorang ulama mengutip perkataan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang berbunyi, "Seandainya aku mengambil teman dekat selain Penguasaku..." tetapi baginda tidak melakukan hal tersebut. Baginda memiliki cinta kasih kepada putrinya, Siti Fatimah dan putra-putranya, begitu pula cinta kasih pada Usamah dan yang lainnya.
Sebagian besar ulama bersepakat bahwa "kecintaan" adalah lebih tinggi daripada "persahabatan". Untuk menguatkan pendapat ini, bukti yang mereka gunakan adalah bahwa Nabi Muhammad mendapat gelar "Kekasih", sedangkan Nabi Ibrahim mendapat gelar "Teman Dekat", pujian dan kesejahteraan atas mereka berdua.
Pangkal kecintaan adalah kecondongan pada apa yang menyenangkan si pencinta. Kecintaan terjadi karena adanya kebutuhan, keinginan serta penyaluran hasrat dan perasaan. Sedangkan kecintaan Pencipta alam bebas dari hal-hal tersebut. Kecintaan-Nya bagi para penyembah-Nya adalah dengan memperteguh kebahagiaan, perlindungan dan kesuksesan mereka, serta melimpahkan rahmat kepada mereka dan membuat mereka semakin dekat kepada-Nya.
Allah memberikan kecintaan yang paling besar dengan menyingkap selubung di hati si penyembah, sehingga si penyembah melihat Dia dengan hatinya, dan memandang Dia