Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 109

dengan mata batinnya. Hal ini sebagaimana yang terdapat didalam kutipan Ilahi (hadis Qudsi) yang memberitahu, "Ketika Aku (Allah) mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan lidahnya yang ia berucap dengannya."
Dari sini dapat difahami bahwa tidak ada yang lebih baik bagi seorang penyembah selain menyepikan diri untuk Allah dan berbakti kepada-Nya, berpaling dari segala sesuatu yang selain Allah, membersihkan hati dan ikhlas dalam segala tindakan untuk Allah semata.
Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, ditanya tentang Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan menjawab, "Akhlak baginda adalah Al-Qur'an."
Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah diberkati dengan mendapatkan persahabatan dekat dan cinta yang istimewa dari Allah. Keterangan ini telah disampaikan oleh para Sahabat yang sudah terbukti kebenarannya dan telah diterima oleh kalangan umat Islam.
Ayat Allah berikut ini mencukupi untuk dijadikan sebagai dasar (dalil),
"Katakanlah, 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali-Imron,3:31).
Para ahli tafsir mengisahkan, ketika ayat itu turun, orang-orang kafir berkata, "Sesungguhnya Muhammad ingin agar kita memperlakukannya sebagai pujaan hati sebagaimana orang-orang Nasrani memperlakukan Isa putra Maryam." Maka Allah menurunkan kecaman atas ucapan mereka dan sindiran terhadap mereka menjadi jelas pada ayat, "Katakanlah, 'Taatilah Allah dan Rasul'." (Ali-Imron,3:32).
Dalam ayat itu, Allah menambah kemuliaan Nabi Muhammad dengan memerintah umat manusia agar mematuhi baginda, dan Allah telah membarengkan ketaatan kepada-Nya dengan ketaatan kepada Nabi Muhammad. Bagi orang-orang memilih untuk berpaling dari baginda, Allah memberi peringatan, pada ayat, "Lalu jika mereka berpaling, maka sungguh Allah tidak mencintai orang-orang kafir." (Ali-Imron,3:32)
Seorang ulama menjelaskan perbedaan antara derajat cinta Nabi Muhammad dan persahabatan dekat Nabi Ibrahim, yang mana Allah telah memperlihatkan perlainan antara keduanya. Allah menyebut tentang 'teman dekat' dengan mengutip ucapan Nabi Ibrahim, "Dan yang amat kuinginkan bahwa Dia akan mengampuni kesalahanku pada Hari Pembalasan." (Asy-Syuaro',26:82). Sebagai teman dekat, ada harapan yang kuat pada diri Nabi Ibrahim agar mendapatkan ampunan.