-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 211
Umar berkata kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Saya mencintai anda lebih dari diri saya sendiri."
Amr bin Al-Ash berkata, "Tidak ada yang lebih saya cintai daripada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya."
‘Abdah, putri Khalid bin Ma'dan, berbicara tentang ayahnya, "Khalid tidak pernah tidur tanpa merindukan Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan kaum Muhajirin serta kaum Ansar, dan beliau menyebut nama setiap orang dari mereka. Khalid mengucap, 'Mereka adalah akar dan cabangku, hatiku merindukan mereka, aku telah merindukan mereka untuk waktu yang lama. Wahai Penguasaku, segerakan kembaliku kepada-Mu!'"
Ibnu Ishaq meriwayatkan, pada perang Uhud, ayah, saudara dan suami salah satu wanita Ansar, tewas saat berjuang bersama Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya. Namun, meski telah kehilangan mereka, kepedulian wanita itu hanya untuk keselamatan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Dengan cemas wanita itu menanyakan berita tentang baginda kemudian ia diberitahu, 'Segala puji bagi Allah, baginda sebaik yang anda harapkan.' Wanita itu menyahut, 'Tunjukkan kepadaku dimana baginda agar aku dapat melihatnya.' Ketika melihat baginda, ia berseru, 'Sekarang aku tahu engkau selamat, segala cobaan tak berarti apa-apa.'"
Suatu malam, Khalifah Umar pergi untuk memastikan bahwa semua rakyat dalam keadaan baik, dan kebetulan beliau melihat sebuah lampu menyala di rumah seorang wanita tua yang sedang memintal wol. Saat sedang bekerja, wanita tua itu berucap, "Pujian dari Yang Maha Bagus untuk Muhammad. Semoga salam sejahtera dan keberkatan senantiasa terlimpah kepada baginda. Aku berdiri dengan air mata sebelum fajar. Kalau saja aku tahu kapan kematian datang apakah tempat kediaman akan menggabungkan aku dengan kekasihku." Setelah mendengar kata-kata yang menyentuh ini, Umar duduk dan air mata berderai dari mata beliau.
Ketika kematian mendekati Bilal, istrinya berseru, "Wahai dukacita." Bilal menanggapi, "Oh alangkah senangnya, aku akan bertemu mereka yang kucintai, Muhammad dan golongannya!"
Ketika orang-orang Mekah membawa Zaid bin Datsinah keluar dari daerah Tanah Haram untuk membunuhnya, Abu Sufyan bin Harb berkata kepadanya, "Aku tanya kepadamu, demi Allah, tidakkah kamu berharap kalau Muhammad bersama kita sekarang ini, sehingga dia berada di tempatmu, dan kepalanya yang akan terputus, sedangkan kamu bisa bersama keluargamu?" Zaid (yang kemudian mati syahid) menjawab, "Demi Allah, aku tidak senang jika Nabi Muhammad berada di tempatnya yang ia berada sekarang sedang ia tertusuk sebuah duri, sedangkan aku duduk di antara keluargaku!" Abu Sufyan berkata, "Aku belum pernah melihat seseorang mencintai seseorang seperti cintanya para Sahabat Muhammad kepada Muhammad!"
Ibnu Abbas memberitahu kita mengenai seorang wanita dari Mekah yang datang kepada baginda di Madinah. Saat wanita itu tiba, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memintanya bersumpah bahwa ia meninggalkan rumah tidak disebabkan kemarahan suaminya maupun menginginkan (menyukai) suatu negeri (yakni negeri tempat tujuannya itu) dan membenci negeri yang lain (yakni negeri tempat asalnya yang ia tinggalkan), dan bahwa satu-satunya alasan kepergiannya adalah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya.
Pada saat Ibnu Zubair terbunuh dan mati syahid, Ibnu Umar berdiri didekatnya dan berdoa supaya beliau diampuni seraya berkata, "Demi Allah, menurut apa yang kuketahui tentangmu, engkau adalah orang yang telah berpuasa, solat serta mencintai Allah dan Rasul-Nya", pujian dan kesejahteraan atasnya.
Tanda-tanda mencintai Nabi
Amr bin Al-Ash berkata, "Tidak ada yang lebih saya cintai daripada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya."
‘Abdah, putri Khalid bin Ma'dan, berbicara tentang ayahnya, "Khalid tidak pernah tidur tanpa merindukan Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan kaum Muhajirin serta kaum Ansar, dan beliau menyebut nama setiap orang dari mereka. Khalid mengucap, 'Mereka adalah akar dan cabangku, hatiku merindukan mereka, aku telah merindukan mereka untuk waktu yang lama. Wahai Penguasaku, segerakan kembaliku kepada-Mu!'"
Ibnu Ishaq meriwayatkan, pada perang Uhud, ayah, saudara dan suami salah satu wanita Ansar, tewas saat berjuang bersama Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya. Namun, meski telah kehilangan mereka, kepedulian wanita itu hanya untuk keselamatan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Dengan cemas wanita itu menanyakan berita tentang baginda kemudian ia diberitahu, 'Segala puji bagi Allah, baginda sebaik yang anda harapkan.' Wanita itu menyahut, 'Tunjukkan kepadaku dimana baginda agar aku dapat melihatnya.' Ketika melihat baginda, ia berseru, 'Sekarang aku tahu engkau selamat, segala cobaan tak berarti apa-apa.'"
Suatu malam, Khalifah Umar pergi untuk memastikan bahwa semua rakyat dalam keadaan baik, dan kebetulan beliau melihat sebuah lampu menyala di rumah seorang wanita tua yang sedang memintal wol. Saat sedang bekerja, wanita tua itu berucap, "Pujian dari Yang Maha Bagus untuk Muhammad. Semoga salam sejahtera dan keberkatan senantiasa terlimpah kepada baginda. Aku berdiri dengan air mata sebelum fajar. Kalau saja aku tahu kapan kematian datang apakah tempat kediaman akan menggabungkan aku dengan kekasihku." Setelah mendengar kata-kata yang menyentuh ini, Umar duduk dan air mata berderai dari mata beliau.
Ketika kematian mendekati Bilal, istrinya berseru, "Wahai dukacita." Bilal menanggapi, "Oh alangkah senangnya, aku akan bertemu mereka yang kucintai, Muhammad dan golongannya!"
Ketika orang-orang Mekah membawa Zaid bin Datsinah keluar dari daerah Tanah Haram untuk membunuhnya, Abu Sufyan bin Harb berkata kepadanya, "Aku tanya kepadamu, demi Allah, tidakkah kamu berharap kalau Muhammad bersama kita sekarang ini, sehingga dia berada di tempatmu, dan kepalanya yang akan terputus, sedangkan kamu bisa bersama keluargamu?" Zaid (yang kemudian mati syahid) menjawab, "Demi Allah, aku tidak senang jika Nabi Muhammad berada di tempatnya yang ia berada sekarang sedang ia tertusuk sebuah duri, sedangkan aku duduk di antara keluargaku!" Abu Sufyan berkata, "Aku belum pernah melihat seseorang mencintai seseorang seperti cintanya para Sahabat Muhammad kepada Muhammad!"
Ibnu Abbas memberitahu kita mengenai seorang wanita dari Mekah yang datang kepada baginda di Madinah. Saat wanita itu tiba, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memintanya bersumpah bahwa ia meninggalkan rumah tidak disebabkan kemarahan suaminya maupun menginginkan (menyukai) suatu negeri (yakni negeri tempat tujuannya itu) dan membenci negeri yang lain (yakni negeri tempat asalnya yang ia tinggalkan), dan bahwa satu-satunya alasan kepergiannya adalah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya.
Pada saat Ibnu Zubair terbunuh dan mati syahid, Ibnu Umar berdiri didekatnya dan berdoa supaya beliau diampuni seraya berkata, "Demi Allah, menurut apa yang kuketahui tentangmu, engkau adalah orang yang telah berpuasa, solat serta mencintai Allah dan Rasul-Nya", pujian dan kesejahteraan atasnya.
Tanda-tanda mencintai Nabi