Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 221

96. BAB: PENTINGNYA MEMUJI, MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN NABI MUHAMMAD, SERTA AYAT-AYAT Al-QUR'AN YANG MENYURUH AGAR MELAKUKANNYA
Allah berfirman, "Sungguh Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan; agar kamu semua beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya serta mendukungnya dan memuliakannya." (Al-Fath,48:8-9)
Allah juga berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman janganlah mendahului dihadapan Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui; Wahai yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan jangan mengeraskan perkataan kepadanya sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain agar tidak sia-sia amalmu sedang kamu tidak menyadari." (Al Hujurot,49:1-2).
dan, "Jangan menjadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan satu sama lain." (An-Nur,24:63).
Didalam kutipan ayat yang pertama, Allah menarik perhatian kita pada kewajiban memuliakan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan memperlihatkan penghormatan yang terbesar untuk baginda. Para ulama seperti Al Akhfash dan At-Tobari berpendapat kalau ini berarti baginda hendaknya dibantu dan didukung.
Didalam kutipan ayat yang kedua, kaum mukminin diperingatkan supaya tidak berbicara dihadapan baginda, karena bicara dihadapan baginda adalah sikap yang sangat buruk.
Menurut Sahl bin Abdullah At-Tustori, ayat diatas maknanya ialah, supaya tidak bicara sebelum baginda bicara, dan ketika baginda berbicara, hendaknya diam untuk mendengarkan baginda. Al Hasan dan beberapa Sahabat memberitahu, ketika tiba saatnya mengambil keputusan, para Sahabat dilarang melakukan sesuatu sebelum Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berbicara terlebih dahulu dan memberikan instruksi, baik dalam hal berjuang maupun hal yang lain dalam urusan agama mereka, kecuali kalau Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah memerintahkan hal tersebut. Mereka tidak diizinkan mendahului baginda dalam hal apapun.
Pada ayat diatas terdapat peringatan bila melakukan hal sebaliknya, maka amal menjadi sia-sia.

Mengenai firman Allah, "Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al Hujurot,49:1) Mawardi menjelaskan, bertakwa kepada Allah berarti tidak melangkahi Nabi-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya.
As-Sulami mengatakan, bertakwa kepada Allah berarti takut kepada Allah, jika kita lalai dan mengabaikan atau tidak menghormati apa yang menjadi hak Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, maka ingatlah bahwa Allah mendengar dan mengetahui apa yang kita lakukan. Allah telah melarang para Sahabat meninggikan suara mereka melebihi suara Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, maupun berbicara dengan suara yang keras.
Abu Muhammad Makki menjelaskan bahwa tidak sepatutnya bercakap-cakap dihadapan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan tidak pantas memanggil baginda hanya dengan namanya saja sebagaimana yang biasa dilakukan pada orang lain. Sudah seharusnya menghormati dan memberi baginda penghargaan tinggi serta memanggilnya dengan gelar paling mulia, seperti: Wahai Rasulullah atau Nabi Allah. Hal ini didukung dengan ayat yang berbunyi, "Jangan menjadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan satu sama lain." (An-Nur,24:63). Ulama lain berpendapat, semestinya orang-orang hanya menanyakan pertanyaan.
Allah memperingatkan "dan jangan mengeraskan perkataan kepadanya sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain agar tidak sia-sia amalmu sedang kamu tidak menyadari." (Al Hujurot,49:2). Dikatakan bahwa ayat ini turun ketika delegasi dari suku Tamin datang dan berteriak-teriak, "Muhammad, Muhammad, keluarlah kepada kami." Allah mengecam ketidaktahuan mereka dan berfirman, "kebanyakan mereka tidak mengerti." (Al-Hujurot, 49:4).
Juga dikatakan bahwa ayat diatas turun berkenaan dengan percakapan antara