Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 224

mereka janjikan kepada Allah. Dan diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya)." (Al-Ahzab, 33:23). Di kemudian hari, Tholhah mati syahid, setelah kematian baginda.
Tetap menjunjung dan menghormati meski baginda telah wafat
Penting sekali menghormati Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, setelah baginda meninggal dunia, sama seperti ketika baginda masih hidup. Termasuk dalam hal ini adalah memperlihatkan rasa hormat kapan saja ketika perkataan atau cara (hadis atau sunnah) Nabi disebut, serta bila mendengar nama baginda, keluarga dan para Sahabat baginda disebut.
Abu Ibrahim At-Tujiibiy memberitahu bahwa ada kewajiban bagi setiap orang yang beriman supaya rendah hati, bertakwa, takzim, dan diam, setiap kali Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, disebut dihadapan mereka. Penghormatan dan sopan santun yang telah diperlihatkan para Sahabat kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, selama masa hidup baginda hendaknya dicontoh, sama seperti jika baginda hadir di hadapan kita.
Suatu hari, Abu Ja'far, Amirul Mukminin (Amir orang-orang Islam), berselisih dengan Malik didalam Masjid Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, kemudian Malik mengingatkannya, "Amirul Mukminin, janganlah meninggikan suara anda didalam Masjid ini. Allah telah mengajarkan kita bagaimana harus bersikap didalam firman-Nya, " Wahai yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi." (Al-Hujurot, 49:2). Malik juga menarik perhatian Abu Ja'far pada ayat, "Sungguh orang-orang yang merendahkan suaranya disisi Rasulullah, mereka itulah yang diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa." (Al Hujurot, 49:3) sekaligus mengimbau dengan mengingatkan ayat, "Sungguh mereka yang berseru kepadamu (Nabi Muhammad)." (Al-Hujurot, 49:4). Demikianlah imbauan kepada Abu Ja'far, supaya menghormati baginda meski baginda telah meninggal dunia sama seperti ketika baginda masih hidup.
Ja'far merasa trenyuh dengan peringatan ini dan menanyai Malik, "Abu Abdullah, ketika berdoa apakah anda menghadap ke arah kiblat atau menghadap kearah Rasulullah?", pujian dan kesejahteraan atasnya, Malik menjawab, "Mengapa anda memalingkan wajah anda dari baginda sedangkan baginda adalah wasilah (perantara) anda dan wasilah bapak anda Adam menuju Allah pada Hari Kiamat? Saya menghadap baginda dan meminta baginda untuk mensyafaati karena Allah menerima syafaat baginda. Allah berfirman, "Ketika mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, mereka datang kepadamu…" (An-Nisa', 4:64).
Malik berkata tentang Ayyub As-Sakhtiyani, "Aku tidak meriwayatkan kepadamu melainkan dari Ayyub atau seseorang yang lebih baik dari beliau. Aku telah pergi haji dua kali dan berkesempatan mengamati beliau. Setiap kali Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, disebut, beliau menangis dan mata beliau jadi merah. Ketika ini terjadi, aku menyadari betapa besarnya penghormatan beliau untuk Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Sejak saat itulah aku mulai menulis riwayat-riwayat dari beliau."
Mus'ab bin Abdullah berkata, "Tiap kali Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, disebut, Malik menjadi begitu pucat hingga orang-orang yang sedang bersamanya ikut bersedih. Suatu hari Malik ditanya tentang hal ini dan ia menjawab, 'Jika kamu melihat apa yang telah kulihat, kamu tidak akan heran dengan hal ini. Aku mengamati Muhammad bin Munkadir, pemimpin para Qori’ (pelantun Al-Qur'an), pada banyak kesempatan ketika ditanya tentang kutipan kenabian, beliau menangis sampai kami merasa simpati kepadanya.
Aku mengamati Ja'far bin Muhammad, yang banyak bercanda dan tertawa, namun ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, disebut di