Muhammad.com collection in 109 languages

  • KESALAHAN_WAHABI, page : 15

Kitab "Al Faazh Wa Mafahim" karya Usaimin halaman 67, Darul Wathan, Riyadh Golongan Wahabi berkata: menyebutkan jadwal imsak di kalender yaitu sepuluh menit atau lima belas menit sebelum solat subuh termasuk batil dan bid'ah
Tidak ada dalil dari Al Qur’an maupun hadis yang melarangnya Selama kalender tersebut menyebutkan jadwal solat lima waktu maka boleh menyebutkan waktu imsak karena bisa mengingatkan orang-orang agar bersiap-siap menjelang masuknya waktu subuh Menyebutkan jadwal imsak pada bulan Ramadan di kalender Kitab mereka berjudul "Al Hadiyyah As Saniyyah" karya Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, halaman 47, cetakan Al Manar, Mesir Golongan Wahabi berkata: Menggunakan tasbih merupakan bid'ah tercela. Tasbih tidak boleh digunakan dan dilarang untuk diperlihatkan
Suatu hari Nabi Muhammad melewati seorang Sahabat perempuan yang sedang berzikir dengan menggunakan tasbih terbuat dari batu-batu kecil, dan baginda tidak menyangkalnya. Hadis riwayat Imam Tirmidzi, Tabrani dan Bin Hibban Orang Islam boleh berzikir mengingat Allah dengan menggunakan tasbih Tasbih (alat untuk berzikir)

Golongan Wahabi menyangka bahwa membaca qunut adalah bid’ah dan haram untuk dilakukan Imam Syafi’i telah membetulkan kesalahpahaman berkenaan dalil qunut seraya memberitahu bahwasanya Rasulullah telah membaca doa qunut yang isinya khusus untuk menghadapi musuh yang membunuh para Sahabat, setelah satu bulan, baginda tetap membaca doa qunut yang lain isinya, tidak lagi untuk melawan musuh tersebut, karena itulah terdapat bermacam-macam riwayat mengenai doa qunut yang dibaca baginda. Amalan yang mustahab tentu lebih utama untuk dikerjakan daripada tidak mengerjakannya Semua ulama Ahlu Sunnah termasuk Imam Syafi’i mengatakan bahwa membaca qunut adalah amalan yang Mustahab (dianjurkan), jadi tidak mengapa bila tidak mengerjakannya, namun lebih baik bila mengerjakannya Membaca Qunut setiap hari Golongan Wahabi mengatakan bahwa mengucap "Sayyidina" adalah bid’ah, dan mereka menyangkal untuk mengamalkan hadis sahih (ini berarti mereka tidak mau beradab terhadap Rasulullah) Imam Syafi’i mengakui dan menerima hadis sahih serta mengajari semua umat Islam agar mempunyai adab terhadap Nabi Muhammad Rasulullah bersabda "Aku adalah junjungan anak turun Adam, dan aku tidak bangga."
Hadis riwayat Bukhari Muslim Mengucap "Sayyidina" (Junjungan kami) sebagai tata krama ketika menyebut nama Nabi Muhammad

RINGKASAN
CONTOH KEFANATIKAN WAHABI YANG MENGHUKUMI BID’AH PADA BEBERAPA KEJADIAN BARU DALAM PERIBADATAN

Menyikapi munculnya beberapa kejadian baru dalam peribadatan yang berkaitan dengan berbagai bentuk ibadah seperti shalat, doa, zikir, sedekah, bakti kepada kedua orang tua, membaca Al Qur’an dan menghafalnya, mengajak orang-orang kepada Allah Swt, meneladani para ulama dan bersimpati terhadap orang-orang Islam, tokoh-tokoh Wahabi memang terkenal bertentangan dengan kesepakatan para ulama dalam memberikan fatwa, dan untuk mendukung fatwa cacat mereka, orang-orang Wahabi membiayai penyebaran fatwa yang terbukti cacat hukum tersebut.

Meskipun demikian, dalam diri tokoh-tokoh Wahabi sendiri, terdapat pertentangan satu sama lain dalam memberikan fatwa mengenai berbagai kejadian baru dalam peribadatan, sebagian dari mereka menyatakannya sebagai bid’ah, sedang sebagian lainnya justru menyatakan hukumnya boleh dilakukan atau disyariatkan.

Barangkali dampak yang paling membahayakan dari perselisihan mereka ialah para pelajar yang minim ilmu menjadi sangat fanatik dan keras kepala serta membuat masalah dalam sosial kemasyarakatan karena terpengaruh dengan fatwa bid’ah tokoh pujaan mereka. Kini mereka akan menyadari