-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 141
Sikap arogan orang-orang tak beriman telah tercatat didalam Al-Qur’an, ketika mereka berucap, "Sekiranya menginginkan, kita bisa bicara seperti ini." (Al-Anfal,8:31). Namun Allah telah berfirman, "dan tak akan melakukan." (Al-Baqoroh,2:24).
Para pembantah Al-Qur'an ternyata hanya beromong-kosong. Mereka benar-benar tidak berdaya dan tidak mampu menyaingi Al-Qur'an.
Pada masa hidup Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, ada seorang pembohong bernama Musailamah yang mengaku-ngaku sebagai nabi. Ia mencoba menyusun ayat-ayat untuk menyaingi Al-Qur'an, namun kesalahan fatal tampak jelas dan nyata. Kedok Musailamah sebagai nabi palsu lantas terbongkar dan diketahui semua orang, usaha Musailamah akhirnya menjadi sia-sia.
Orang-orang semakin menyadari bahwa keindahan bahasa Al-Qur'an jauh melampaui kefasihan ekspresi bahasa Arab mereka. Ketika mendengar lantunan Al-Qur'an, mereka jadi menyerah atau merasa terbimbing, atau setidak-tidaknya mereka merasa terpikat.
Karenanya, disaat Walid bin Mughirah mendengar Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, melantunankan ayat, "Sungguh Allah memerintah keadilan, perbuatan baik dan menyantuni sanak kerabat." (An-Nahl,16:90) Walid bin Mughirah lantas berujar, "Demi Allah, betapa merdu dan elegannya ayat ini. Melimpah ruah manfaat yang bisa dipetik dan penuh citarasa tingkat tinggi. Ini bukan perkataan seorang manusia."
Abu Ubed menceritakan kisah seorang Badui yang mendengar seorang lelaki melantunkan ayat, "Proklamirkanlah apa yang diperintahkan." (Al-Hijr,15:94) dimana menembus jantungnya hingga si Badui lantas bersujud dan berkata, "Aku bersujud karena keindahan bahasa Arabnya."
Badui yang lainnya mendengar seseorang melantunkan ayat, "Maka tatkala berputus asa daripadanya mereka menyendiri berunding bersama." (Yusuf,12:80) setelah mendengarnya, ia lantas berucap, "Aku bersaksi bahwa makhluk tidak mampu atas perkataan yang seperti itu!"
Ada seorang pelayan perempuan yang pandai berkata-kata. Asma'i yang mendengar keindahan perkataannya lantas berkata, "Demi Allah, alangkah fasih dan merdu perkataanmu!" si pelayan menjawab, "Apakah ini dianggap fasih setelah firman Allah, "dan Kami mewahyukan kepada ibu Musa 'susuilah dia lalu ketika kamu khawatir atasnya maka lemparkanlah dia kedalam air, dan janganlah kamu takut maupun susah. Sungguh Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya di antara para rasul'." (Al-Qosos,28:7). Dalam satu ayat tersebut ada dua perintah, dua larangan, dua berita dan dua kabar baik yang terkumpul bersama. Perencanaan Allah terbukti jelas dalam ayat ini, dimana pelemparan Musa kedalam air berubah menjadi instrumen (perantara) penting untuk keselamatannya.
Benar-benar unik dan tak tertandingi tantangan Al-Qur'an. Fakta nyata bahwa Al-Qur'an telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan baginda yang mengirimkannya kepada umat manusia.
Tidak ada yang sanggup menanggapi tantangan yang disampaikan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, untuk meniru Al Qur'an. Orang-orang Arab yang terampil dalam ilmu kefasihan bahasa dan teknik-teknik retorika, mengetahui secara pasti bahwa Al Qur'an tidak lain adalah mukjizat yang agung. Sedang orang yang tidak pandai dalam seni bahasa Arab, menyadari bahwa Al Qur'an adalah sebuah mukjizat karena tidak ada para ahli bahasa Arab yang mampu menanggapi tantangan, serta tidak ada manusia yang bisa menirunya.
Tulisan sebanyak apapun hanya sanggup mengulas setitik dari segenap manfaat Al-Qur'an. Setiap kalimat Al-Qur'an mengandung banyak makna dan pengetahuan yang melimpah. Kisah generasi dan bangsa-bangsa terdahulu yang saling berpadu serasi satu sama lain, adalah satu diantara tanda yang mencerminkan keindahan kata-kata Al-Qur'an, dengan penyajian yang harmoni dan aspek-aspek yang seimbang.
Contohnya bisa ditemukan
Para pembantah Al-Qur'an ternyata hanya beromong-kosong. Mereka benar-benar tidak berdaya dan tidak mampu menyaingi Al-Qur'an.
Pada masa hidup Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, ada seorang pembohong bernama Musailamah yang mengaku-ngaku sebagai nabi. Ia mencoba menyusun ayat-ayat untuk menyaingi Al-Qur'an, namun kesalahan fatal tampak jelas dan nyata. Kedok Musailamah sebagai nabi palsu lantas terbongkar dan diketahui semua orang, usaha Musailamah akhirnya menjadi sia-sia.
Orang-orang semakin menyadari bahwa keindahan bahasa Al-Qur'an jauh melampaui kefasihan ekspresi bahasa Arab mereka. Ketika mendengar lantunan Al-Qur'an, mereka jadi menyerah atau merasa terbimbing, atau setidak-tidaknya mereka merasa terpikat.
Karenanya, disaat Walid bin Mughirah mendengar Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, melantunankan ayat, "Sungguh Allah memerintah keadilan, perbuatan baik dan menyantuni sanak kerabat." (An-Nahl,16:90) Walid bin Mughirah lantas berujar, "Demi Allah, betapa merdu dan elegannya ayat ini. Melimpah ruah manfaat yang bisa dipetik dan penuh citarasa tingkat tinggi. Ini bukan perkataan seorang manusia."
Abu Ubed menceritakan kisah seorang Badui yang mendengar seorang lelaki melantunkan ayat, "Proklamirkanlah apa yang diperintahkan." (Al-Hijr,15:94) dimana menembus jantungnya hingga si Badui lantas bersujud dan berkata, "Aku bersujud karena keindahan bahasa Arabnya."
Badui yang lainnya mendengar seseorang melantunkan ayat, "Maka tatkala berputus asa daripadanya mereka menyendiri berunding bersama." (Yusuf,12:80) setelah mendengarnya, ia lantas berucap, "Aku bersaksi bahwa makhluk tidak mampu atas perkataan yang seperti itu!"
Ada seorang pelayan perempuan yang pandai berkata-kata. Asma'i yang mendengar keindahan perkataannya lantas berkata, "Demi Allah, alangkah fasih dan merdu perkataanmu!" si pelayan menjawab, "Apakah ini dianggap fasih setelah firman Allah, "dan Kami mewahyukan kepada ibu Musa 'susuilah dia lalu ketika kamu khawatir atasnya maka lemparkanlah dia kedalam air, dan janganlah kamu takut maupun susah. Sungguh Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya di antara para rasul'." (Al-Qosos,28:7). Dalam satu ayat tersebut ada dua perintah, dua larangan, dua berita dan dua kabar baik yang terkumpul bersama. Perencanaan Allah terbukti jelas dalam ayat ini, dimana pelemparan Musa kedalam air berubah menjadi instrumen (perantara) penting untuk keselamatannya.
Benar-benar unik dan tak tertandingi tantangan Al-Qur'an. Fakta nyata bahwa Al-Qur'an telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan baginda yang mengirimkannya kepada umat manusia.
Tidak ada yang sanggup menanggapi tantangan yang disampaikan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, untuk meniru Al Qur'an. Orang-orang Arab yang terampil dalam ilmu kefasihan bahasa dan teknik-teknik retorika, mengetahui secara pasti bahwa Al Qur'an tidak lain adalah mukjizat yang agung. Sedang orang yang tidak pandai dalam seni bahasa Arab, menyadari bahwa Al Qur'an adalah sebuah mukjizat karena tidak ada para ahli bahasa Arab yang mampu menanggapi tantangan, serta tidak ada manusia yang bisa menirunya.
Tulisan sebanyak apapun hanya sanggup mengulas setitik dari segenap manfaat Al-Qur'an. Setiap kalimat Al-Qur'an mengandung banyak makna dan pengetahuan yang melimpah. Kisah generasi dan bangsa-bangsa terdahulu yang saling berpadu serasi satu sama lain, adalah satu diantara tanda yang mencerminkan keindahan kata-kata Al-Qur'an, dengan penyajian yang harmoni dan aspek-aspek yang seimbang.
Contohnya bisa ditemukan