-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 142
pada kisah nabi Yusuf. Kisah nabi Yusuf dan para nabi lainnya muncul pada surah-surah yang berbeda didalam Al Qur'an, meski demikian, banyak ungkapan bervariasi dan kisah yang hadir dengan wajah baru. Aspek ini juga bagian dari keindahan Al-Qur'an. Tidak ada yang pernah merasa bosan, jemu dan kesal meski melantunkan dan mendengarnya berkali-kali.
Keajaiban struktur dan gaya bahasa Al-Qur'an
Segi lain yang tidak mampu ditiru adalah komposisi dan gaya khas Al-Qur'an dalam bahasa Arab. Gaya bahasa Arab yang tersaji didalam Al-Qur'an sangat berbeda dengan bahasa keseharian bangsa Arab, juga berbeda dengan metode komposisi bahasa dan kesusastraan Arab, dimana ketika itu tengah berkembang pesat dan mencapai puncaknya. Didalam Al-Qur'an bisa ditemukan ada ayat-ayat yang membahas sesuatu dan telah selesai pembahasannya, namun kata-kata tersebut bertaburan menjadi hiasan pada bagian ayat yang lainnya. Hiasan semacam itu tidak pernah terjadi sebelum dan sesudah pengiriman Al-Qur'an, dan tidak pernah ada seorangpun mampu menghasilkan yang semacam itu.
Ketika orang-orang Arab mendengar lantunan Al-Qur'an, mereka tercengang dan terpaku dengan keindahannya, akal jadi tak berkutik dan mereka menyerah dalam pesona Al-Qur'an. Dengan kata lain, mereka belum pernah mendengar sesuatu yang begitu menggugah dalam bentuk bahasa Arab manapun, baik dalam prosa, puisi, sajak maupun syair.
Walid bin Mughiroh sangat berpengetahuan dalam bidang ilmu syair Arab. Ia telah mendengar Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berbicara pada beberapa kesempatan, dan menjadi akrab dengan gaya bicara baginda, tetapi suatu hari ia kebetulan mendengar baginda melantunkan Al Qur'an, yang langsung meyakinkannya bahwa itu bukan kata-kata seorang manusia dan tidak akan pernah ada manusia yang mampu menyusun kata-kata seperti itu. Setelah Walid mendengar ayat-ayat tersebut, Abu Jahal, orang yang paling membenci baginda, datang dan mengingkari baginda, Walid lantas berkata, "Demi Allah! Tak seorang pun dari kalian yang lebih mengetahui syair daripada aku. Demi Allah! ucapan kesehariannya (yakni Rasul) sama sekali tidak mirip dengan Al-Quran!"
Keajaiban struktur dan gaya bahasa Al-Qur'an
Segi lain yang tidak mampu ditiru adalah komposisi dan gaya khas Al-Qur'an dalam bahasa Arab. Gaya bahasa Arab yang tersaji didalam Al-Qur'an sangat berbeda dengan bahasa keseharian bangsa Arab, juga berbeda dengan metode komposisi bahasa dan kesusastraan Arab, dimana ketika itu tengah berkembang pesat dan mencapai puncaknya. Didalam Al-Qur'an bisa ditemukan ada ayat-ayat yang membahas sesuatu dan telah selesai pembahasannya, namun kata-kata tersebut bertaburan menjadi hiasan pada bagian ayat yang lainnya. Hiasan semacam itu tidak pernah terjadi sebelum dan sesudah pengiriman Al-Qur'an, dan tidak pernah ada seorangpun mampu menghasilkan yang semacam itu.
Ketika orang-orang Arab mendengar lantunan Al-Qur'an, mereka tercengang dan terpaku dengan keindahannya, akal jadi tak berkutik dan mereka menyerah dalam pesona Al-Qur'an. Dengan kata lain, mereka belum pernah mendengar sesuatu yang begitu menggugah dalam bentuk bahasa Arab manapun, baik dalam prosa, puisi, sajak maupun syair.
Walid bin Mughiroh sangat berpengetahuan dalam bidang ilmu syair Arab. Ia telah mendengar Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berbicara pada beberapa kesempatan, dan menjadi akrab dengan gaya bicara baginda, tetapi suatu hari ia kebetulan mendengar baginda melantunkan Al Qur'an, yang langsung meyakinkannya bahwa itu bukan kata-kata seorang manusia dan tidak akan pernah ada manusia yang mampu menyusun kata-kata seperti itu. Setelah Walid mendengar ayat-ayat tersebut, Abu Jahal, orang yang paling membenci baginda, datang dan mengingkari baginda, Walid lantas berkata, "Demi Allah! Tak seorang pun dari kalian yang lebih mengetahui syair daripada aku. Demi Allah! ucapan kesehariannya (yakni Rasul) sama sekali tidak mirip dengan Al-Quran!"