-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 143
Setiap kali festival syair diadakan, manusia selalu datang berduyun-duyun. Ketika tiba waktunya bagi orang-orang Quraisy menyelenggarakan festival tahunan, mereka melakukan persiapan yang matang. Namun banyak yang mengkhawatirkan dampak lantunan Al-Qur'an pada para peserta festival. Maka orang-orang kafir berkumpul bersama dan berembuk serta bersepakat akan mengatakan hal yang sama tentang Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan tidak akan berkata yang bertentangan satu sama lainnya.
Walid adalah salah satu di antara mereka yang hadir, dan ketika seseorang menyarankan agar mereka berkata, "Muhammad adalah seorang dukun," Walid menyahut, "Demi Allah, ia bukanlah seorang dukun! baginda tidak pernah berkomat-kamit maupun berbicara dalam irama sajak." Yang lainnya memberi opini supaya menyebut baginda sebagai orang gila. Walid menimpali, "Dia tidak gila, juga tidak dipengaruhi oleh jin, karena dia tidak pernah menyerak maupun membisik dalam bersuara."
Kemudian mereka mengusulkan agar menyebut baginda sebagai penyair, lalu Walid menyangkal, "Dia bukanlah penyair, kita tahu seluruh bentuk syair dan puisi, dan dia tidak termasuk penyair." Kemudian mereka mengusulkan agar berkata, "Dia adalah seorang ahli sihir." Sekali lagi Walid berkata, "Dia bukan seorang tukang sihir, tidak ada buhul maupun tiupan." Mereka jadi frustrasi dan berseru, "Lalu kita akan bilang apa tentang dia!"
Walid memberitahu mereka, "Apa yang kalian bilang tentang dia sama sekali tidak benar. Aku sendiri tidak mengakui baginda sebagai pembawa kebenaran, dan kurasa yang paling tepat adalah menyebutnya sebagai penyihir, karena sihir dapat memisahkan orang tua dengan anaknya, juga memecah tali persaudaraan, menghancurkan hubungan suami istri, serta memisahkan seseorang dari lingkungannya."
Lalu mereka bubar tanpa menghasilkan keputusan. Mereka duduk di pinggir-pinggir jalan untuk memperingatkan orang-orang. Sesudah itu, Allah mewahyukan tentang Walid, "Biarkan Aku dan yang telah Aku ciptakan sendirian." (Al-Muddatstsir,74:11).
Pada kesempatan lain Utbah bin Rabi'ah, yang terpelajar dalam seni bahasa, ketika mendengar lantunan Al Qur'an lantas berkata, "Wahai masyarakat, kalian tentu tahu, tidak ada suatu ilmu melainkan telah kupelajari, kubaca dan kuucapkan. Demi Allah, aku telah mendengar suatu perkataan. Demi Allah, aku sama sekali belum pernah mendengar yang sepertinya, bukan syair, bukan pula mantra maupun ramalan."
Abu Dzar yang memiliki saudara seorang penyair bernama Anis berkata, "Demi Allah, aku tidak mendengar ada yang lebih mengenal syair daripada saudaraku Anis. Dia bersaing dengan dua belas penyair dizaman Jahiliyyah dan aku termasuk seorang diantara mereka." Suatu hari, Anis melakukan perjalanan ke Mekah, sementara itu, Abu Dzar yang belum masuk Islam telah mendengar berita tentang baginda dan ajaran-ajarannya.
Begitu Anis pulang dari Mekah, Abu Dzar langsung menanyainya tentang apa yang dikatakan orang-orang mengenai Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Anis menjawab, "Mereka bilang baginda seorang penyair, seorang peramal, dan seorang penyihir. Aku telah mendengar ucapan para peramal, namun baginda tidak berkata-kata seperti mereka. Aku membandingkan baginda dengan para penyair, baginda berbeda pula dengan mereka. Setelah apa yang kukatakan ini, tidaklah patut menyebut apa yang disampaikan baginda sebagai syair. Sungguh baginda adalah yang benar dan merekalah yang berdusta!."
Beragam kesaksian tersebut hanyalah sedikit diantara riwayat-riwayat yang sahih. Keunikan Al-Qur'an tidak hanya terletak pada kefasihan dan keringkasan yg padat isinya, tetapi juga gaya bahasanya yang luar biasa. Al-Qur'an merupakan jenis tantangan yang
Walid adalah salah satu di antara mereka yang hadir, dan ketika seseorang menyarankan agar mereka berkata, "Muhammad adalah seorang dukun," Walid menyahut, "Demi Allah, ia bukanlah seorang dukun! baginda tidak pernah berkomat-kamit maupun berbicara dalam irama sajak." Yang lainnya memberi opini supaya menyebut baginda sebagai orang gila. Walid menimpali, "Dia tidak gila, juga tidak dipengaruhi oleh jin, karena dia tidak pernah menyerak maupun membisik dalam bersuara."
Kemudian mereka mengusulkan agar menyebut baginda sebagai penyair, lalu Walid menyangkal, "Dia bukanlah penyair, kita tahu seluruh bentuk syair dan puisi, dan dia tidak termasuk penyair." Kemudian mereka mengusulkan agar berkata, "Dia adalah seorang ahli sihir." Sekali lagi Walid berkata, "Dia bukan seorang tukang sihir, tidak ada buhul maupun tiupan." Mereka jadi frustrasi dan berseru, "Lalu kita akan bilang apa tentang dia!"
Walid memberitahu mereka, "Apa yang kalian bilang tentang dia sama sekali tidak benar. Aku sendiri tidak mengakui baginda sebagai pembawa kebenaran, dan kurasa yang paling tepat adalah menyebutnya sebagai penyihir, karena sihir dapat memisahkan orang tua dengan anaknya, juga memecah tali persaudaraan, menghancurkan hubungan suami istri, serta memisahkan seseorang dari lingkungannya."
Lalu mereka bubar tanpa menghasilkan keputusan. Mereka duduk di pinggir-pinggir jalan untuk memperingatkan orang-orang. Sesudah itu, Allah mewahyukan tentang Walid, "Biarkan Aku dan yang telah Aku ciptakan sendirian." (Al-Muddatstsir,74:11).
Pada kesempatan lain Utbah bin Rabi'ah, yang terpelajar dalam seni bahasa, ketika mendengar lantunan Al Qur'an lantas berkata, "Wahai masyarakat, kalian tentu tahu, tidak ada suatu ilmu melainkan telah kupelajari, kubaca dan kuucapkan. Demi Allah, aku telah mendengar suatu perkataan. Demi Allah, aku sama sekali belum pernah mendengar yang sepertinya, bukan syair, bukan pula mantra maupun ramalan."
Abu Dzar yang memiliki saudara seorang penyair bernama Anis berkata, "Demi Allah, aku tidak mendengar ada yang lebih mengenal syair daripada saudaraku Anis. Dia bersaing dengan dua belas penyair dizaman Jahiliyyah dan aku termasuk seorang diantara mereka." Suatu hari, Anis melakukan perjalanan ke Mekah, sementara itu, Abu Dzar yang belum masuk Islam telah mendengar berita tentang baginda dan ajaran-ajarannya.
Begitu Anis pulang dari Mekah, Abu Dzar langsung menanyainya tentang apa yang dikatakan orang-orang mengenai Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Anis menjawab, "Mereka bilang baginda seorang penyair, seorang peramal, dan seorang penyihir. Aku telah mendengar ucapan para peramal, namun baginda tidak berkata-kata seperti mereka. Aku membandingkan baginda dengan para penyair, baginda berbeda pula dengan mereka. Setelah apa yang kukatakan ini, tidaklah patut menyebut apa yang disampaikan baginda sebagai syair. Sungguh baginda adalah yang benar dan merekalah yang berdusta!."
Beragam kesaksian tersebut hanyalah sedikit diantara riwayat-riwayat yang sahih. Keunikan Al-Qur'an tidak hanya terletak pada kefasihan dan keringkasan yg padat isinya, tetapi juga gaya bahasanya yang luar biasa. Al-Qur'an merupakan jenis tantangan yang