-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 150
yang lain maka inginkanlah kematian jika kamu adalah yang benar'; dan tidak akan menginginkannya selama-lamanya.'" (Al-Baqoroh,2:94-95)
Ulama berkata, "Ayat tersebut mengandung bukti terbesar dan juga tanda terjelas kebenaran risalah dari Allah. Karena Allah mengatakan kepada orang-orang Yahudi "Maka inginkanlah kematian." dan kemudian memberitahu mereka, "dan tidak akan menginginkannya selama-lamanya." Tak seorang pun dari mereka secara tulus merindukan kematian.
Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan hal tersebut seraya bersabda, "Sekiranya orang-orang Yahudi menginginkan kematian, niscaya mereka benar-benar mati dan melihat tempat duduk mereka di neraka." Allah mengubah hati orang-orang Yahudi, menjadi tidak mengharapkan kematian. Allah mencampakkan ketakutan yang luar biasa kedalam hati mereka, dengan demikian menandakan Utusan-Nya adalah orang yang benar serta menandakan kebenaran apa yang telah Dia turunkan kepada baginda.
Tak satu pun dari mereka secara tulus merindukan kematian. Mereka bahkan sangat menginginkan bisa lari dari kematian. Namun Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya, dan ayat diatas semakin menguatkan mukjizat yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.
Ketika para uskup Kristen dari Najran datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, kebanyakan mereka tetap bersikeras dalam penolakan mereka untuk menerima Islam. Saat itulah Allah menurunkan ayat yang menantang mereka agar memohon diturunkan laknat atas siapapun yang berdusta.
Allah berfirman, "Maka barangsiapa membantahmu tentangnya sesudah pengetahuan datang kepadamu, maka katakanlah, 'Marilah memanggil anak-anak kita dan anak-anakmu, kaum wanita kita dan kaum wanitamu, diri kita dan dirimu, kemudian marilah merendahkan hati berdoa, agar laknat Allah ditimpakan atas mereka yang berdusta." (Ali Imron,3:61)
Uskup tertinggi mereka, Al Aqib, memperingatkan rekannya sesama uskup sambil berkata, "Kalian mengetahui baginda adalah seorang nabi. Sama sekali tak ada seorang nabi pun yang melaknat suatu kaum dan mereka bisa bertahan hidup setelahnya, tak peduli yang besar maupun yang kecil." Mereka tidak menerima tantangan dan memilih membayar upeti (jizyah, yakni semacam retribusi / pajak untuk orang-orang yang menolak beriman) sebagai ganti perlindungan selama tinggal di negara Islam.
Adapun untuk orang-orang Arab yang tak mau beriman, Allah menantang mereka seraya berfirman, "Dan jika kamu dalam keraguan dari apa yang Kami turunkan kepada penyembah Kami (Muhammad), hadirkan sebuah surah yang menyamainya, dan serulah para penolongmu dari selain Allah jika kamu adalah yang benar; Namun jika tidak melakukan dan tidak akan melakukan, maka waspadailah neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi yang tidak beriman." (Al-Baqoroh,2:23-24)
Meski ayat diatas termasuk berkenaan dengan perkara gaib, namun ada indikasi nyata bahwa mereka tidak akan mampu menjawab tantangan-Nya.
Ulama berkata, "Ayat tersebut mengandung bukti terbesar dan juga tanda terjelas kebenaran risalah dari Allah. Karena Allah mengatakan kepada orang-orang Yahudi "Maka inginkanlah kematian." dan kemudian memberitahu mereka, "dan tidak akan menginginkannya selama-lamanya." Tak seorang pun dari mereka secara tulus merindukan kematian.
Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan hal tersebut seraya bersabda, "Sekiranya orang-orang Yahudi menginginkan kematian, niscaya mereka benar-benar mati dan melihat tempat duduk mereka di neraka." Allah mengubah hati orang-orang Yahudi, menjadi tidak mengharapkan kematian. Allah mencampakkan ketakutan yang luar biasa kedalam hati mereka, dengan demikian menandakan Utusan-Nya adalah orang yang benar serta menandakan kebenaran apa yang telah Dia turunkan kepada baginda.
Tak satu pun dari mereka secara tulus merindukan kematian. Mereka bahkan sangat menginginkan bisa lari dari kematian. Namun Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya, dan ayat diatas semakin menguatkan mukjizat yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.
Ketika para uskup Kristen dari Najran datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, kebanyakan mereka tetap bersikeras dalam penolakan mereka untuk menerima Islam. Saat itulah Allah menurunkan ayat yang menantang mereka agar memohon diturunkan laknat atas siapapun yang berdusta.
Allah berfirman, "Maka barangsiapa membantahmu tentangnya sesudah pengetahuan datang kepadamu, maka katakanlah, 'Marilah memanggil anak-anak kita dan anak-anakmu, kaum wanita kita dan kaum wanitamu, diri kita dan dirimu, kemudian marilah merendahkan hati berdoa, agar laknat Allah ditimpakan atas mereka yang berdusta." (Ali Imron,3:61)
Uskup tertinggi mereka, Al Aqib, memperingatkan rekannya sesama uskup sambil berkata, "Kalian mengetahui baginda adalah seorang nabi. Sama sekali tak ada seorang nabi pun yang melaknat suatu kaum dan mereka bisa bertahan hidup setelahnya, tak peduli yang besar maupun yang kecil." Mereka tidak menerima tantangan dan memilih membayar upeti (jizyah, yakni semacam retribusi / pajak untuk orang-orang yang menolak beriman) sebagai ganti perlindungan selama tinggal di negara Islam.
Adapun untuk orang-orang Arab yang tak mau beriman, Allah menantang mereka seraya berfirman, "Dan jika kamu dalam keraguan dari apa yang Kami turunkan kepada penyembah Kami (Muhammad), hadirkan sebuah surah yang menyamainya, dan serulah para penolongmu dari selain Allah jika kamu adalah yang benar; Namun jika tidak melakukan dan tidak akan melakukan, maka waspadailah neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi yang tidak beriman." (Al-Baqoroh,2:23-24)
Meski ayat diatas termasuk berkenaan dengan perkara gaib, namun ada indikasi nyata bahwa mereka tidak akan mampu menjawab tantangan-Nya.