-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 152
dan mohonlah ampunan-Nya. Celakalah mereka yang musyrik; yang tidak membayar zakat dan mereka tidak percaya (kafir) akhirat; Sungguh mereka yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka upah tanpa terputus; Katakanlah, 'Apakah kamu benar-benar kafir pada Yang menciptakan bumi dalam dua hari, dan kamu adakan pula bandingan-bandingan bagi-Nya? itulah Penguasa semesta alam.';
Dan Dia menjadikan gunung-gunung yang kokoh di atasnya dan memberkahinya serta menakdirkan persediaan-persediaannya dalam empat hari, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya; Kemudian Dia menghendaki langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.' keduanya menjawab, 'Kami datang dengan patuh.'; Kemudian Dia menetapkan tujuh langit dalam dua hari dan mewahyukan urusan di tiap-tiap langit. Kami menghiasi langit yang terendah (yang dekat bumi) dengan lampu-lampu dan penjagaan. Itu adalah takdir Yang Maha Perkasa, Maha Berilmu; Maka jika mereka berpaling, katakanlah, 'Aku telah memperingatkanmu dengan petir seperti petir (yang menyambar kaum) Aad dan Tsamud." (Fushshilat,41:1-13)
Utbah tidak tahan mendengarnya. Utbah segera meletakkan tangannya diatas mulut baginda, dan memohon kepada baginda supaya berhenti.
Dalam riwayat lain disebutkan, pada waktu baginda melantunkan Al Qur'an, Utbah mendengarnya sambil meletakkan kedua tangan dibelakang punggung dan menyandari tangannya itu. Hingga baginda sampai pada ayat sajadah, lalu baginda bersujud. Utbah tidak tahan menghadapi keadaan tersebut dan segera bangkit berdiri pulang ke keluarganya. Utbah menolak pergi ke orang-orang sukunya, hingga mereka mendatanginya dan Utbah minta maaf kepada mereka sambil berkata, "Demi Allah, dia (baginda Rasul) melantunkan beberapa kata kepadaku. Demi Allah, telingaku sama sekali tidak pernah mendengar yang semacam itu, lidahku kelu tak tahu harus berkata apa kepada dia."
Beberapa orang Arab berusaha menjawab tantangan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, untuk menyusun yang seperti Al-Qur'an, namun semuanya menjadi ketakutan, salah satunya adalah Bin Muqoffa', yang terkenal kefasihan lidahnya. Ketika memulai usaha penyusunannya, ia mendengar seorang anak laki-laki muslim melantunkan ayat Al Qur'an, "Dan dikatakan, 'Wahai Bumi, telanlah airmu, dan langit berhentilah!' air pun surut dan perkara telah terpenuhi." (Hud,11:44). Lantunan tersebut menimbulkan efek luar biasa dalam dirinya. Maka ia pulang dan menghancurkan apa yang telah disusunnya, sambil berkata, "Aku bersaksi bahwa Al Qur'an tidak untuk dipertentangkan, dan bukan merupakan kata-kata seorang makhluk!"
Di Andalusia, Spanyol, seorang pria bernama Yahya bin Hakam Al-Ghozzal, yang dikenal sebagai seorang penulis handal, berusaha mencoba menghasilkan sesuatu yang mirip dengan Al Qur'an. Dalam upaya melakukan niatnya, ia membaca surah "Al-Ikhlas (Keesaan - surah ke-112)" sebagai contoh bahan untuk ditandingi. Saat memulai penyusunan, tiba-tiba perasaan takut menyerangnya, dan ia pun menyatakan, "Ketakutan telah menghentikanku dan kelemahan telah membuatku menyesal dan bertobat."
Perlindungan Tuhan pada Al Qur'an
Dan Dia menjadikan gunung-gunung yang kokoh di atasnya dan memberkahinya serta menakdirkan persediaan-persediaannya dalam empat hari, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya; Kemudian Dia menghendaki langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.' keduanya menjawab, 'Kami datang dengan patuh.'; Kemudian Dia menetapkan tujuh langit dalam dua hari dan mewahyukan urusan di tiap-tiap langit. Kami menghiasi langit yang terendah (yang dekat bumi) dengan lampu-lampu dan penjagaan. Itu adalah takdir Yang Maha Perkasa, Maha Berilmu; Maka jika mereka berpaling, katakanlah, 'Aku telah memperingatkanmu dengan petir seperti petir (yang menyambar kaum) Aad dan Tsamud." (Fushshilat,41:1-13)
Utbah tidak tahan mendengarnya. Utbah segera meletakkan tangannya diatas mulut baginda, dan memohon kepada baginda supaya berhenti.
Dalam riwayat lain disebutkan, pada waktu baginda melantunkan Al Qur'an, Utbah mendengarnya sambil meletakkan kedua tangan dibelakang punggung dan menyandari tangannya itu. Hingga baginda sampai pada ayat sajadah, lalu baginda bersujud. Utbah tidak tahan menghadapi keadaan tersebut dan segera bangkit berdiri pulang ke keluarganya. Utbah menolak pergi ke orang-orang sukunya, hingga mereka mendatanginya dan Utbah minta maaf kepada mereka sambil berkata, "Demi Allah, dia (baginda Rasul) melantunkan beberapa kata kepadaku. Demi Allah, telingaku sama sekali tidak pernah mendengar yang semacam itu, lidahku kelu tak tahu harus berkata apa kepada dia."
Beberapa orang Arab berusaha menjawab tantangan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, untuk menyusun yang seperti Al-Qur'an, namun semuanya menjadi ketakutan, salah satunya adalah Bin Muqoffa', yang terkenal kefasihan lidahnya. Ketika memulai usaha penyusunannya, ia mendengar seorang anak laki-laki muslim melantunkan ayat Al Qur'an, "Dan dikatakan, 'Wahai Bumi, telanlah airmu, dan langit berhentilah!' air pun surut dan perkara telah terpenuhi." (Hud,11:44). Lantunan tersebut menimbulkan efek luar biasa dalam dirinya. Maka ia pulang dan menghancurkan apa yang telah disusunnya, sambil berkata, "Aku bersaksi bahwa Al Qur'an tidak untuk dipertentangkan, dan bukan merupakan kata-kata seorang makhluk!"
Di Andalusia, Spanyol, seorang pria bernama Yahya bin Hakam Al-Ghozzal, yang dikenal sebagai seorang penulis handal, berusaha mencoba menghasilkan sesuatu yang mirip dengan Al Qur'an. Dalam upaya melakukan niatnya, ia membaca surah "Al-Ikhlas (Keesaan - surah ke-112)" sebagai contoh bahan untuk ditandingi. Saat memulai penyusunan, tiba-tiba perasaan takut menyerangnya, dan ia pun menyatakan, "Ketakutan telah menghentikanku dan kelemahan telah membuatku menyesal dan bertobat."
Perlindungan Tuhan pada Al Qur'an