Muhammad.com collection in 109 languages

  • Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 204

utama keislaman yang sudah mereka ubah isinya. Mereka telah merubah kata-katanya, padahal referensi tersebut sering dijadikan sumber sandaran umat Islam. Orang-orang Wahabi mengambil aneka referensi tersebut, kemudian menyelipkan kata-kata yang sudah mereka palsukan dan mencetak ulang referensi tersebut, sehingga mereka bisa memperdaya dan menyesatkan para pembaca.
Sebagai contoh, orang-orang Wahabi mengklaim bahwa sebagian besar ulama elit Islam - lebih dari 1232 orang ahli Hadis (Al-Hafiz) - menyimpang dari keyakinan Islam meskipun para ulama elit ini diketahui telah mengikuti jalan Nabi Muhammad! Namun terbukti bahwa Wahabi memilih untuk hanya mensyiarkan dan mengikuti ajaran-ajaran cacat Ibnu Taimiyah - yang meninggal pada awal abad Islam ke 8 - dan membuat ajaran Ibnu Taimiyah sebagai kondisi yang penting untuk memahami Allah dan Rasul-Nya. Harap perhatikan peringatan ini! orang-orang Wahabi itu, sebenarnya merekalah para inovator (ahli bid'ah)yang sesat.
Para ulama tradisional mewaspadai buku-buku tradisional yang dicetak ulang dalam kurun 70 tahun terakhir karena penyimpangan halus dan pemalsuan Wahabi. Untuk alasan yang jelas para ulama membuat kebijakan untuk tidak menggunakan buku-buku mereka, sebaliknya para ulama’ ini bergantung pada buku-buku yang dicetak dibatu atau naskah tulisan tangan.
Contoh ketidakjujuran orang-orang Wahabi ditemukan didalam buku kumpulan doa karya Imam Nawawi yang telah mereka cetak ulang. Mereka menghilangkan uraian yang terkait dengan doa yang dibaca ketika berziarah ke makam Nabi, karena doktrin Ibnu Taimiyah melarang mengunjungi makam Nabi.
Tiga generasi permulaan Islam, terdiri dari para Sahabat Nabi, para pengikut mereka (Tabi'in), dan kemudian Tabi'tabi'in yaitu para pengikut Tabi'in.
Dari seluruh Tabi'in, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Uwes Al-Qorni adalah yang terbaik diantara Tabi'in." Perhatikan bagaimana Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menyebut kata "Tabi'in". Baginda tidak menggunakan kata "Salaf" dimana golongan Wahabi, merujuk generasi-generasi tersebut sebagai "Salaf", termasuk pula beberapa orang yang diketahui menyimpang dari sunnah (jalan kenabian) juga telah mereka anggap sebagai "Salaf".
Selain bukan dari golongan Sahabat Nabi, Ibnu Taimiyah juga bukan termasuk generasi setelah para Sahabat maupun sesudahnya (Tabi'in dan Tabi' tabi'in). Di abad Islam ke-8 Ibnu Taimiyah meninggal dunia, namun orang-orang Wahabi memujanya sedemikian rupa seolah-olah ia adalah pemimpin dari tiga generasi permulaan Islam. Mereka menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai syarat memahami Wahyu Al-Qur'an dan Hadis, mereka juga memakai penafsiran Ibnu Taimiyah yang keliru tentang Ketuhanan sebagai standar mereka)