-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 205
Bimbingan Nabi Muhammad yang dianut para Sahabat, Tabi'in dan Tabi'tabi'in (tiga generasi awal Islam) serta para imam Islam
Abdullah bin Umar ditanya, "Di dalam Al-Qur'an kami menemukan solat ketika sedang dalam ketakutan, dan solat di rumah, tetapi kami tidak dapat menemukan solat bagi seorang musafir." Ibnu Umar menjawab, "Wahai keponakanku, Allah mengutus Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, kepada kita ketika kita tidak tahu apa-apa, kita melakukan apa yang kita melihat baginda melakukannya."
Umar bin Abdul Aziz berkata, "Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, mempunyai cara kenabian (sunnah), empat khalifah yang datang sesudah baginda juga mempunyai cara yang pengambilannya adalah berdasarkan Kitab Allah. Bertindak sesuai dengan cara mereka merupakan ketaatan kepada Allah dan menguatkan Agama Allah. Tak sepatutnya merubah atau mengutak-atik cara kenabian atau menganggap pendapat para Sahabat berseberangan dengan baginda. Barangsiapa mengikuti cara mereka maka terbimbing, dan barangsiapa mencari pertolongan melalui cara mereka akan menjadi diantara orang-orang yang berjaya. Barangsiapa membelakangi cara mereka dan mengikuti suatu jalan selain daripada jalan mereka yang mukmin itu, maka Allah akan menyerahkan ia pada apa yang memalingkannya dan memanggangnya di neraka, dan itu seburuk-buruk tempat kembali."
Pada waktu kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau mengirim surat kepada para gubernurnya, menyuruh mereka agar mempelajari hadis, ilmu Faro’id (ilmu yang berhubungan dengan pembagian warisan) dan dialek bahasa. Umar menulis, "Orang-orang akan mencoba berdebat denganmu (menggunakan Al-Qur'an), ketika hal ini terjadi atasilah mereka dengan cara kenabian. Orang-orang yang mengikuti cara Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, paling luas pengetahuannya tentang Kitab Allah. "
Imam Ali menggabungkan Haji dan Umroh bersama-sama dimana Utsman, yang tidak menyadari penggabungan tersebut bertanya, "Siapa yang memberitahu engkau untuk melakukan ini, sedang aku mencegah orang-orang melakukannya?" Dengan penuh hormat Ali menjawab, "Aku tidak meninggalkan cara Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan aku mengutamakan pernyataan baginda, bukan yang lainnya."
Berkenaan dengan firman Allah, "Jika kamu berselisih didalam sesuatu maka kembalikan itu kepada Allah dan Rasul." (An-Nisa',4:59), Athoo’ menjelaskan ini berarti bahwa dalam kasus adanya perselisihan, sudah sepatutnya mencari keterangan didalam Kitab Allah dan sunnah (cara kenabian).
Imam Syafi'i berkata, "Sunnah Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah hanya dengan mengikuti baginda."
Suatu hari, saat Umar sedang berdiri di depan Batu Hitam (Hajar Aswat) di Kabah, terdengar beliau berkata, "Kamu hanyalah sebuah batu, tidak bisa menolong dan tidak membahayakan. Jika aku tidak melihat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, menciummu, aku tidak akan menciummu" lalu Umar mencium batu tersebut.
Abdullah bin Umar terlihat sedang membuat unta betinanya berbalik ke sekeliling suatu tempat tertentu. Beliau ditanya mengapa membuat untanya melakukan itu. Abdullah menjawab, "Aku tidak tahu. Suatu kali aku melihat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, melakukannya, jadi aku pun melakukannya."
Abu Utsman Al Hiri berkata, "Barangsiapa menempatkan sunnah (cara kenabian) diatas dirinya, melalui perkataan atau perbuatan, maka ia akan berbicara dengan kebijaksanaan. Namun barangsiapa memberikan hawa nafsu wewenang diatas dirinya maka ia akan berbicara dengan inovasi jahat (bid’ah)."
Sahl At-Tustory menjelaskan mazhab fiqihnya seraya berkata, "Dasar sekolah kami ada tiga, yaitu mengikuti Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dalam perkataan dan perbuatan, makan makanan yang halal, dan menjadikan niat kita tulus
Abdullah bin Umar ditanya, "Di dalam Al-Qur'an kami menemukan solat ketika sedang dalam ketakutan, dan solat di rumah, tetapi kami tidak dapat menemukan solat bagi seorang musafir." Ibnu Umar menjawab, "Wahai keponakanku, Allah mengutus Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, kepada kita ketika kita tidak tahu apa-apa, kita melakukan apa yang kita melihat baginda melakukannya."
Umar bin Abdul Aziz berkata, "Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, mempunyai cara kenabian (sunnah), empat khalifah yang datang sesudah baginda juga mempunyai cara yang pengambilannya adalah berdasarkan Kitab Allah. Bertindak sesuai dengan cara mereka merupakan ketaatan kepada Allah dan menguatkan Agama Allah. Tak sepatutnya merubah atau mengutak-atik cara kenabian atau menganggap pendapat para Sahabat berseberangan dengan baginda. Barangsiapa mengikuti cara mereka maka terbimbing, dan barangsiapa mencari pertolongan melalui cara mereka akan menjadi diantara orang-orang yang berjaya. Barangsiapa membelakangi cara mereka dan mengikuti suatu jalan selain daripada jalan mereka yang mukmin itu, maka Allah akan menyerahkan ia pada apa yang memalingkannya dan memanggangnya di neraka, dan itu seburuk-buruk tempat kembali."
Pada waktu kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau mengirim surat kepada para gubernurnya, menyuruh mereka agar mempelajari hadis, ilmu Faro’id (ilmu yang berhubungan dengan pembagian warisan) dan dialek bahasa. Umar menulis, "Orang-orang akan mencoba berdebat denganmu (menggunakan Al-Qur'an), ketika hal ini terjadi atasilah mereka dengan cara kenabian. Orang-orang yang mengikuti cara Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, paling luas pengetahuannya tentang Kitab Allah. "
Imam Ali menggabungkan Haji dan Umroh bersama-sama dimana Utsman, yang tidak menyadari penggabungan tersebut bertanya, "Siapa yang memberitahu engkau untuk melakukan ini, sedang aku mencegah orang-orang melakukannya?" Dengan penuh hormat Ali menjawab, "Aku tidak meninggalkan cara Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan aku mengutamakan pernyataan baginda, bukan yang lainnya."
Berkenaan dengan firman Allah, "Jika kamu berselisih didalam sesuatu maka kembalikan itu kepada Allah dan Rasul." (An-Nisa',4:59), Athoo’ menjelaskan ini berarti bahwa dalam kasus adanya perselisihan, sudah sepatutnya mencari keterangan didalam Kitab Allah dan sunnah (cara kenabian).
Imam Syafi'i berkata, "Sunnah Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah hanya dengan mengikuti baginda."
Suatu hari, saat Umar sedang berdiri di depan Batu Hitam (Hajar Aswat) di Kabah, terdengar beliau berkata, "Kamu hanyalah sebuah batu, tidak bisa menolong dan tidak membahayakan. Jika aku tidak melihat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, menciummu, aku tidak akan menciummu" lalu Umar mencium batu tersebut.
Abdullah bin Umar terlihat sedang membuat unta betinanya berbalik ke sekeliling suatu tempat tertentu. Beliau ditanya mengapa membuat untanya melakukan itu. Abdullah menjawab, "Aku tidak tahu. Suatu kali aku melihat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, melakukannya, jadi aku pun melakukannya."
Abu Utsman Al Hiri berkata, "Barangsiapa menempatkan sunnah (cara kenabian) diatas dirinya, melalui perkataan atau perbuatan, maka ia akan berbicara dengan kebijaksanaan. Namun barangsiapa memberikan hawa nafsu wewenang diatas dirinya maka ia akan berbicara dengan inovasi jahat (bid’ah)."
Sahl At-Tustory menjelaskan mazhab fiqihnya seraya berkata, "Dasar sekolah kami ada tiga, yaitu mengikuti Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dalam perkataan dan perbuatan, makan makanan yang halal, dan menjadikan niat kita tulus