-
Indonesian_Biography_Shefa_of_Prophet_Muhammad, page : 215
Sahl bin Abdullah membicarakan tanda ini seraya berkata, "Tanda cinta kepada Allah ialah mencintai Al-Qur'an. Tanda cinta Al-Qur'an adalah mencintai Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Tanda mencintai Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, yaitu cinta sunnah (cara kenabian) nya. Tanda cinta sunnahnya ialah mencintai Kehidupan Abadi (akhirat). Tanda cinta akhirat adalah membenci dunia. Tanda benci dunia yaitu tidak menimbun segala isi dunia kecuali untuk perbekalan dan apa yang diperlukan supaya tiba dengan selamat di Kehidupan Abadi."
Tanda yang lain cinta Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah mengasihani umat baginda dengan menasehati mereka secara baik dan berjuang untuk kepentingan mereka supaya bertambah baik serta menghapus segala sesuatu yang membahayakan mereka dengan cara yang sama seperti Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, "lemah lembut lagi penyayang pada orang-orang beriman." (At-Taubah,9:128).
Tanda cinta yang sempurna nampak pada umat baginda yang berzuhud (menjauhi dunia), mereka yang mampu melawan hawa nafsunya dan lebih memilih kemiskinan daripada daya tarik dunia.
Seorang pria datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan berkata, "Ya Rasulullah, demi Allah, aku mencintaimu." Baginda menjawab, "Kalau kamu mencintaiku, persiapkan dirimu untuk kemiskinan sebaagai suatu perisai, karena kemiskinan datang untuk siapa yang mencintaiku lebih cepat daripada mata air yang mengalir jatuh ke ujungnya." Abu Said Al-Khudri meriwayatkan perkataan yang sama.
Baginda menjawab, "Kalau kamu mencintaiku, bersiap-siaplah dengan perisai kemiskinan, karena kemiskinan datang lebih cepat untuk siapa yang mencintaiku daripada mata air yang mengalir jatuh ke ujungnya." Abu Said Al-Khudri meriwayatkan perkataan yang sama.
Realitas dan makna mencintai Nabi Muhammad
pujian dan kesejahteraan atasnya
Para ulama’ berbeda pendapat dalam memberi makna cinta Allah dan cinta Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, namun masing-masing pihak merujuk pada keadaan yang berbeda.
Barangkali Sufyan memikirkan firman Allah yang berbunyi, "Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad)." (Ali-Imron,3:31). sehingga Sufyan berkata, "Cinta itu terdiri dari mengikuti Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya."
Para ulama mengatakan:
"Mencintai Rasul, pujian dan kesejahteraan atasnya, berarti meyakini kemenangan baginda, melindungi dan mematuhi sunnah baginda, serta takut menyimpang dari baginda."
"Cinta adalah selalu menyebut-nyebut sang kekasih."
"Cinta yaitu rindu pada sang kekasih."
"Cinta ialah hati yang mengikuti kehendak tuannya, mencintai apa yang dicintainya dan membenci apa yang dibencinya."
Sebagian besar pendapat diatas lebih mengindikasikan buah cinta daripada realitas cinta. Realitas cinta ialah rasa condong (kecenderungan hati / perasaan) kepada apa yang menyenangkan manusia, baik berupa:
1. Senang pada kesempurnaan, seperti mencintai penampilan yang indah, suara yang merdu, makanan dan minuman yang lezat, ini semua disukai secara alami karena menyenangkan.
2. Senang pada kesempurnaan akal pikiran, hati dan batin yang mulia, seperti mencintai orang-orang saleh, para ulama, orang-orang ahli ilmu yang mempunyai sejarah hidup yang bagus dan tingkah laku yang baik. Tabiat manusia condong pada bentuk cinta yang meluap-luap yang hampir mengarah pada hal-hal yang ekstrim.
Tanda yang lain cinta Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah mengasihani umat baginda dengan menasehati mereka secara baik dan berjuang untuk kepentingan mereka supaya bertambah baik serta menghapus segala sesuatu yang membahayakan mereka dengan cara yang sama seperti Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, "lemah lembut lagi penyayang pada orang-orang beriman." (At-Taubah,9:128).
Tanda cinta yang sempurna nampak pada umat baginda yang berzuhud (menjauhi dunia), mereka yang mampu melawan hawa nafsunya dan lebih memilih kemiskinan daripada daya tarik dunia.
Seorang pria datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan berkata, "Ya Rasulullah, demi Allah, aku mencintaimu." Baginda menjawab, "Kalau kamu mencintaiku, persiapkan dirimu untuk kemiskinan sebaagai suatu perisai, karena kemiskinan datang untuk siapa yang mencintaiku lebih cepat daripada mata air yang mengalir jatuh ke ujungnya." Abu Said Al-Khudri meriwayatkan perkataan yang sama.
Baginda menjawab, "Kalau kamu mencintaiku, bersiap-siaplah dengan perisai kemiskinan, karena kemiskinan datang lebih cepat untuk siapa yang mencintaiku daripada mata air yang mengalir jatuh ke ujungnya." Abu Said Al-Khudri meriwayatkan perkataan yang sama.
Realitas dan makna mencintai Nabi Muhammad
pujian dan kesejahteraan atasnya
Para ulama’ berbeda pendapat dalam memberi makna cinta Allah dan cinta Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, namun masing-masing pihak merujuk pada keadaan yang berbeda.
Barangkali Sufyan memikirkan firman Allah yang berbunyi, "Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad)." (Ali-Imron,3:31). sehingga Sufyan berkata, "Cinta itu terdiri dari mengikuti Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya."
Para ulama mengatakan:
"Mencintai Rasul, pujian dan kesejahteraan atasnya, berarti meyakini kemenangan baginda, melindungi dan mematuhi sunnah baginda, serta takut menyimpang dari baginda."
"Cinta adalah selalu menyebut-nyebut sang kekasih."
"Cinta yaitu rindu pada sang kekasih."
"Cinta ialah hati yang mengikuti kehendak tuannya, mencintai apa yang dicintainya dan membenci apa yang dibencinya."
Sebagian besar pendapat diatas lebih mengindikasikan buah cinta daripada realitas cinta. Realitas cinta ialah rasa condong (kecenderungan hati / perasaan) kepada apa yang menyenangkan manusia, baik berupa:
1. Senang pada kesempurnaan, seperti mencintai penampilan yang indah, suara yang merdu, makanan dan minuman yang lezat, ini semua disukai secara alami karena menyenangkan.
2. Senang pada kesempurnaan akal pikiran, hati dan batin yang mulia, seperti mencintai orang-orang saleh, para ulama, orang-orang ahli ilmu yang mempunyai sejarah hidup yang bagus dan tingkah laku yang baik. Tabiat manusia condong pada bentuk cinta yang meluap-luap yang hampir mengarah pada hal-hal yang ekstrim.